Kebudayaan Jawa

Kedatangan kebudayaan Hindhu di Jawa melahirkan kebudayaan Islam Jawa. Kedatangan bangsa Barat untuk berdagang dan menjajah beserta kebudayaannya melahirkan kebudayaan Barat Jawa yang cenderung materialistik. Kemudian kebudayaan Jawa menjadi sinkretis meliputi unsur-unsur: pra-Hindhu (Jawa asli), Hindu Jawa, Islam Jawa, dan Barat Jawa. Pada jaman prasejarah telah dikembangkan teknologi dasar dalam pengerjaan keramik, batu, logam (tembaga, emas, perunggu, besi) dan bahan-bahan tumbuhan seperti kayu, bambu, serta aneka serat dan daun-daunan. Masa Hindu-Budha membuka babakan sejarah karena pada masa inilah orang Jawa mulai menggunakan tulisan, baik aksara Siddamatrka (atau disebut juga aksara Pre-Nagari yang hanya digunakan pada tahapan awal masa Hindu-Budha) ataupun turunan dari aksara Pallawa (yaitu aksara Jawa Kuno yang untuk selanjutnya berkembang ke dalam berbagai gaya dan akhirnya menjadi aksara Jawa seperti yang dikenal sekarang) (Edi Sedyawati, 2006: 425)

Penghayatan Kebudayaan Jawa yang terjadi pada masa Hindu-Budha itu adalah dalam pengembangan konsep mengenai raja dan kerajaan, kosmologi, konsep kemasyarakatan dengan sistem kasta, konsep “kebenaran tertinggi” serta konsep-konsep keagamaan lain seperti karma, moksa, yoga, tapas. Pengayaan juga terjadi dalan ilmu (misalnya ilmu argument atau silogisme) dan teknologi (misalnya dalam arsitektur, seni arca, tari, dan lain-lain) (Edi Sedyawati, 2006: 425-427)

Daerah kebudayaan Jawa luas yaitu meliputi seluruh bagian Tengah dan Timur dari Pulau Jawa. Sesungguhnya demikian ada daerah-daerah yang secara kolektif sering disebut daerah kejawen. Sebelum terjadi perubahan-perubahan status wilayah seperti sekarang ini, daerah itu ialah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Daerah di luar itu dinamakan pesisir dan Ujung Timur (Edi Sedyawati, 2006: 429).

A. Pengertian Kebudayaan

Ruang lingkup kajian budaya yang sangat luas membuat sejumlah pakar kebudayaan mencari arti kebudayaan melalui pengertian etimologis. Koentjaraningrat (1983: 5) umpamanya menulis sebagai berikut: kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “buddhayah” yaitu bentuk jamak “buddhi” yang berarti “budi” atau ”akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Kata culture yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere atau berarti mengolah atau mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari kata ini berkembang arti culture sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam. Penelusuran secara etimologis akan memperjelas pengertian kebudayaan namun perlu adanya kehati-hatian terhadap asal usul kata yang tidak jelas. Sebab hal ini dapat mengaburkan pengertian kebudayaan itu sendiri. Lebih lanjut Bakker yang di kaji Usman Pelly (1994: 21) menduga bahwa asal kata kebudayaan berasal dari kata “abhyudaya” dari bahasa sansekerta. Kata “Abhyudaya” menurut Sanskrit Dictionary yang diambil Bakker adalah sebagai berikut: hasil baik, kemajuan, kemakmuran yang serba lengkap. Bakker yang di kaji Usman Pelly (1994: 21) mengartikan secara singkat kebudayaan sebagai penciptaan, penerbitan, dan pengolahan nilai-nilai insani. Tercakup di dalamnya usaha membudayakan bahan alam mentah serta hasilnya. Di dalam bahan alam, alam diri, dan lingkungannya baik phisik maupun sosial, nilai-nilai didefinisikan dan dikembangkan sehingga sempurna. Membudayakan alam, memanusiakan manusia, menyempurnakan hubungan keinsanian merupakan kesatuan tak terpisahkan (Usman Pelly, 1994: 21).

Edward Burnett Tylor yang dikaji Pandam Guritno (1988: 1) mendefinisikan kebudayaan (culture) sebagai berikut:

That complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society” (Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat, dan setiap kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat).

Dalam kaitannya dengan isi kandungan wayang maka dalam konteks ini menggunakan konsepsi kebudayaan yang pernah dikemukakan oleh Zoetmulder dan Djojodigoeno yang dikaji Pandam Guritno (1988: 3) yang mendasarkan pada akar katanya yaitu kata Sansekerta buddhi yang berati “kesadaran, pengetahuan, maksud, akal, rasa dan sifat” khususnya tiga unsur dalam buddhi atau budi itu: karsa (kehendak), cipta (akal), dan rasa. Apa yang tekandung dalam buddhi kita itu yakni karsa, cipta, dan rasa jika diwujudkan dengan karya atau daya menjadi budaya dan kumpulan budaya dalam masyarakat dapat dinamakan kebudayaan.

Baik pada tingkat individu (budi) maupun pada tingkat masyarakat atau kesatuan sosial yang lebih luas (budaya atau kebudayaan) terlihat adanya unsur-unsur karsa, cipta dan rasa itu yang manifestasinya pada tingkat masyarakat berupa apa yang dianggap baik (etis), yang masuk akal (logis) dan yang indah (estetis) sehingga menghasilkan ajaran tentang kesusilaan (etika), segala ilmu pengetahuan tentang alam dan semua isinya (berdasar logika) dan pandangan tentang keindahan (estetika) (Pandam Guritno, 1988: 4).

Ahli antropologi yang pertama kali merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E. B. Taylor yang dikaji Usman Pelly (1994: 23). Beliau mengemukakan bahwa kebudayaan itu adalah keseluruhan yang kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, addat istiadat dan kemampuan serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Pengkategorian kebudayaan pada garis besarnya sebagai berikut (Usman Pelly. 1994: 21):

  1. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan sebagai keseluruhan kecakapan yang dimiliki manusia sebagai subjek masyarakat
  2. Ahli sejarah menekankan pertumbuhan kebudayaan dan mendefinisikan sebagai warisan sosial atau tradisi
  3. Ahli filsafat menekankan pada aspek normatif, keidah kebudayaan dan realisasi cita-cita
  4. Antopologi melihat kebudayaan sebagai tata kehidupan, way of life, dan tata tingkah laku
  5. Psikologi mendekati kebudayaan dari segi penyesuaian manusia kepada alam sekelilingnya, kepada syarat-syarat hidup
  6. Ilmu bangsa-bangsa gaya alam dan petugas museum menaksir kebudayaan atau hasil artifact dan kesenian
  7. Beberapa definisi lainnya yang agak istimewa dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)        Dialectic of challenge and respons (Toynbee)

2)        Superstruktur ideologis yang mencerminkan pertentangan kelas (K. Marx)

3)        Gaya hidup feodal aristokratis (Al Farabi)

4)        Kebudayaan sebagai comfort (Mentagu)

Kroeber dan Klukhon yang dikaji Munandar Sulaeman (1998: 10) mendefinisikan kebudayaan terdiri dari berbagai pola, bertingkah laku mantab, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia termasuk di dalamnya perwujudan benda-benda materi, pusat esensi kebudayaan terdiri atas tradisi cita-cita atau paham dan terutama keterikatan terhadap nilai-nilai.

Salah seorang ahli yaitu Kroeber yang dikaji Nani Tuloli (2003: 1) mengemukakan batasan yang agak lengkap “Budaya adalah keseluruhan kompleks yang terdiri atas pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan dan kapabilitas lain, serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seorang manusia sebagai anggota suatu masyarakat”. Batasan lain seperti yang dikemukakan Linton yang dikaji Nani Tuloli (2003: 1) “Budaya berarti keseluruhan bawaan sosial umat manusia”. Herkovitz yang dikaji Nani Tuloli (2003: 1) juga mengemukakan “budaya adalah bagian buatan manusia yang berasal dari lingkungan manusia”.

Budaya dapat dilihat dari sistem pemikiran yang mencakup gagasan, konsep-konsep, aturan-aturan, serta pemaknaan yang mendasari dan diwujudkan dalam kehidupan masyarakat yang dimilikinya melalui proses belajar yang dikaji Nani Tuloli (2003: 2). Dari titik tolak ini, C. Geertz yang dikaji Nani Tuloli (2003: 3) berpendapat bahwa kebudayaan adalah sistem pemaknaan yang dimiliki bersama dan merupakan hasil dari proses sosial dan bukan proses perseorangan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan adalah buah budi manusia hasil perjuangan terhadap alam dan jaman (kodrat dan masyarakat) untuk mengatasi berbagai kerintangan dalam penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagian yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai (Mahjunir, 1967: 53).

Kluckhohn mendefinisikan kebudayaan: (1) Keseluruhan cara hidup suatu masyarakat, (2) Warisan sosial yang diperoleh individu pada kelompoknya, (3) Suatu cara berfikir, merasa, dan percaya, (4) Suatu abstraksi dari tingkah laku, (5) Suatu teori pada pihak antropologi tentang cara suatu kelompok masyarakat nyatanya bertingkah laku, (6) Suatu gudang untuk memperkenalkan hasil belajar, (7) Seperangkat orientasi-orientasi standar yang pada masalah-masalah yang sedang berlangsung, (8) Tingkah laku yang dipelajari, (9) Suatu mekanisme untuk pentaan tingkah laku yang bersifat normatif, (10) Seperangkat teknik untuk menyesuaikan baik dengan lingkungan luar maupun dengan orang-orang lain, dan (11) Suatu endapan sejarah dengan mungkin rasa putus asa, beralih kebiasaan sebagai suatu matriks (Clifford Geertz, 1992: 5).

R. Linton mengemukakan bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang unsur-unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.

Harsojo yang dikaji Usman Pelly (1994: 23) menemukan inti kebudayaan sebagai berikut:

  1. Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia itu sangat beraneka ragam
  2. Kebudayaan itu didapat dan diteruskan secara sosial dengan pelajaran
  3. Kebudayaan itu terjabarkan dari konsep-konsep biologi, komponen psikologi dan sosiologi dari existensi manusia
  4. Kebudayaan itu berstruktur
  5. Kebudayaan itu terbagi dalam aspek-aspek
  6. Kebudayaan itu dinamis
  7. Nilai-nilai dari dalam kebudayaan itu relatif

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup, manusia belajar berfikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek material dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke genarasi melalui usaha individu dan kelompok (Deddy Mulyana, 1993: 18-20).

Simmel yang dikaji Peter Beilharz (2002: 332) melukiskan kebudayaan sebagai proses menjadi ada melalui pertemuan antara dua unsur yang tak satupun dirinya mengandung kebudayaan pada dirinya sendiri, produk jiwa subjektif dan spiritual objektif.

Dalam pengertian juga termasuk tradisi dan tradisi dapat diterjemahkan dengan pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi bukanlah sesuatu yang dapat dirubah, tadisi justru diperpadukann dengan ragam perbuatan perbuatan manusia dan diangkat dengan keseluruhannya. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu, ia menerimanya, menolaknya, atau merubahnya. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-perubahan riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada (Van Peursen, 1976: 11).

B. Wujud Kebudayaan

Koentjaraningrat (1983: 5-6) menyetujui pendapat para ahli yang menyatakan bahwa ada tiga wujud kebudayaan yaitu:

1)        Sebagai suatu tindakan kompleks dari ide-ide, gagasan, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

Wujud pertama adalah wujud idel dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala atau dengan perkataan lain dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Kebudayaan ideel dapat disebut adat tatakelakuan atau secara singkat adat dalam arti khusus atau adat istiadat dalam bentuk jamaknya. Sebutan tata kelakuan itu maksudnya menunjukkan bahwa kebudayaan ideel itu biasanya juga berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendali, dan memberi arah kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat. Dalam fungsi ini secara lebih khusus lagi adat terdiri dari beberapa lapisan yaitu dari yang paling abstrak dan luas sampai yang paling konkret dan terbatas.

2)        Sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan yang berpola dari manusia dalam masyarakat.

Wujud kedua dari kebudayaan yang sering disebut sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain, yang dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat maka sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobeservasi, difoto, dan didokumentasi.

3)        Sebagai wujud benda-benda hasil karya manusia.

Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik dan memerlukan keterangan banyak. Karena merupakan seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat maka sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto.

  1. Komponen Kebudayaan

Berdasarkan wujudnya tersebut, budaya memiliki beberapa elemen atau komponen yaitu :

1)        Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2)        Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

3)        Lembaga sosial

Lembaga sosial dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem sosial yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan sosial masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier

4)        Sistem kepercayaan

Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun sistem kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi sistem penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.

5)        Estetika

Berhubungan dengan seni dan kesenian, musik, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai simbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.

6)        Bahasa

Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya)

 

 C. Unsur-Unsur Kebudayaan

Luasnya bidang kebudayaan menimbulkan adanya telaahan mengenai apa sebenarnya isi dari kebudayaan itu. Herskovits yang dikaji Usman Pelly (1994: 23) mengajukan adanya empat unsur pokok dalam kebudayaan yaitu: (1) Alat-alat teknologi; (2) Sistem ekonomi; (3) Keluarga, dan (4) Kekuasaan politik. Bronislaw Malinowski yang dikaji Usman Pelly (1994: 23) terkenal sebagai salah satu pelopor fungsionalisme dalam antropologi menyebut adanya unsur-unsur pokok sebagai berikut: (1) Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat agar menguasai alam sekelilingnya; (2) Organisasi ekonomi; (3) Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas pendidikan perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama, dan (4) organisasi militer.

Koentjaraningrat (1983: 2-3) berpendapat bahwa terdapat 7 unsur kebudayaan yang bersifat universal. Unsur-unsur universal itu yang sekalian merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini adalah: (1) sistem religi dan upacara keagamaan; (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan; (3) sistem pengetahuan; (4) bahasa; (5) kesenian; (6) sistem mata pencaharian hidup, dan (7) sistem teknologi dan peralatan.

 D. Pengertiaan Kebudayaan Jawa

Kebudayaan dalam arti sempit sering diartikan sebagai kesenian. Dalam arti luas, kebudayaan setidaknya meliputi tujuh sistem yaitu: (1) sistem religi dan upacara keagamaan, (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan, (3) sistem pengetahuan, (4) bahasa, (5) kesenian, (6) sistem mata pencaharian, dan (7) sistem teknologi dan peralatan. Menurut Koentjaraningrat (1978: 11-12) yang menunjukkan identitasnya suatu kebudayaan adalah unsur-unsur yang menonjol dari kebudayaan itu. Jadi yang menjadi identitas kebudayaan Jawa adalah unsur yang menonjol dari kebudayaan Jawa yaitu bahasa dan komunikasi, kesenian, dan kesusastraan, keyakinan keagamaan, ritus, ilmu gaib, dan beberapa pranata dalam organisasi sosial.

Berdasarkan pengertian tentang kebudayaan seperti di atas, sifat khas suatu kebudayaan hanya dapat dimanifestasikan dalam unsur-unsur terbatas terutama melalui bahasa, kesenian, dan upacara. Berdasarkan pengertian tersebut maka untuk mengidentifikasikan kebudayaan Jawa dapat ditilik dari bahasanya, keseniannya, dan kesenian tradisionalnya maka kebudayaan Jawa menurut H. Karkono Kamajaya Partokusumo (1986: 85) adalah pancaran atau pengeJawantahan budi manusia Jawa yang merangkum kemampuan, cita-cita, ide maupun semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir batin.

Kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang dianut oleh orang-orang Jawa. Kebudayaan Jawa meliputi daerah yang luas yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan orang Jawa yang tinggal di pulau lain merupakan sub variasi kebudayaan Jawa yang berbeda karena mereka tetap mempertahankan kebudayaannya.

Selanjutnya dikemukakan bahwa hanya ada satu unsur kebudayaan yang dapat menonjolkan sifat khas dan mutu yang tinggi yaitu kesenian. Masyarakat Jawa juga mempunyai kesenian yang bermacam-macan ragamnya dari berbagai daerah di Jawa yaitu seni musik, seni tari, seni bangunan. Kesenian tersebut mempunyai ciri khas yang menunjukkan identitas masyarakat Jawa yang membedakan dengan kesenian daerah lainnya.

Menurut pandangan orang Jawa sendiri, kebudayaannya tidak merupakan satu kesatuan yang homogen. Mereka sadar akan adanya suatu keanekaragaman yang sifatnya regional sepanjang daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit banyak cocok dengan daerah-daerah logat bahasa Jawa dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan, upacara-upacara rumah tangga, kesenian rakyat, dan seni suara (Koentjaraningrat. 1984: 165). Sifat dan ciri kebudayaan Jawa yang tidak homogen ini masih nampak dalam kehidupan masyarakat Jawa sekarang.

Sebagaian besar masyarakat Jawa bermata pencaharian sebagai petani, tetapi ada juga yang menjadi pedagang, tukang, maupun pegawai. Sistem kemasyarakatan di Jawa menurut garis keturunan ayah atau patrilineal. (Koentjaraningrat, 1976: 36). Karnoko (1986: 86) berpendapat bahwa kebudayaan Jawa adalah pancaran atau pengeJawantahan budi manusia Jawa yang mencakup kemauan, cita-cita, ide maupun semangat dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan lahir dan batin. Kebudayaan Jawa ini telah ada sejak zaman prasejarah.

Dalam perkembangannya, kebudayaan Jawa masih tetap seperti dasar kelahirannya yang merupakan kristalisasi pemikiran-pemikiran lama yaitu:

a)      Manusia Jawa berkeyakinan kepada Sang Maha Pencipta, penyebab dari segala kehidupan

b)     Manusia Jawa berkeyakinan bahwa manusia Jawa adalah bagian dari kodrat alam semesta (makro cosmos), manusia dengan alam saling mempengaruhi, tetapi manusia harus sanggup melawan kodrat alam sesuai dengan kehendak cita-cita agar dapat hidup selamat baik dunia maupun di akherat. Hasil dari perjuangan perlawanan terhadap kodrat alam tersebut berasal dari kemajuan dan kreativitas kebudayaan sehingga terjalinlah keselarasan dan kebersamaan yang di dasarkan pada saling hormat, saling tenggang rasa, dan saling mawas diri

c)    Manusia Jawa rindu akan kondisi tata tentrem kerta raharja yaitu suatu keadaan yang damai, sejahtera, aman, sentosa berdasar pada “kautamaning ngaurip (kekuatan hidup) sehingga manusia Jawa berkewajiban untuk memayu hayuning raga, sesama, bangsa, dan bawana” (Imam Sutardjo, 2008: 14-15).

Kebudayaan Jawa memiliki perbedaan atau variasi yang beraneka ragam tetapi pada dasarnya perbedaan itu tidak bersifat mendasar karena apabila diteliti, unsur-unsur itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistem kebudayaan Jawa. Bahkan bila diteliti lagi kebudayaan Jawa mempunyai pula kesamaan dengan kebudayaan daerah lain.

Dari uraian tersebut di atas maka kebudayaan Jawa dapat dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Kebudayaan Rohani yang bersifat abstrak dan universal, artinya kebudayaan demikian memiliki nilai-nilai yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini.
  2. Kebudayaan Jasmani yang bersifat konkret, nyata, dan bersifat local sempit. Kebudayaan ini berbeda dan macam-macam jenisnya. Unsur-unsur kebudayaan ini meliputi: tulisan, kerajinan, seni tari, sistem kekerabatan, dan sebagainya (H. Karkono Kamajaya Partokusumo, 1986: 78)

E. Pendukung Kebudayaan Jawa

Orang Jawa adalah pendukung dan penghayat kebudayaan Jawa. Orang Jawa hanya mendiami bagian tengah dan timur pulau Jawa, karena sebelah baratnya (yang hampir seluruhnya merupakan dataran tinggi Priangan) adalah daerah Orang Sunda. Suku bangsa Jawa asli atau pribumi terdapat di daerah pedalaman yaitu daerah-daerah yang secara kolektif sering disebut daerah Kejawen yaitu Jogyakarta, Surakarta, Banyumas, Kedu, Madiun, Malang, dan Kediri. (Koentjaraningrat, 1984: 3). Budiono Heru Sutoto (1984: 41) yang menjelaskan mengenai orang Jawa sebagai berikut:

Secara antropologi budaya dapat dikatakan bahwa yang disebut suku bangsa Jawa adalah orang-orang yang secara turun-temurun menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya dalam kehidupan sehari-hari dan bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut.

Pada jaman Mataram Islam, secara regional daerah-daearh pendukung kebudayaan Jawa ada yang disebut negari gung (daerah istana atau keraton) dan pesisir. Kebudayaan Jawa yang hidup di Jogyakarta dan Surakarta yang disenut Negari Gung merupakan peradaban orang Jawa yang berakar dari keraton. Sedangkan yang disebut kebudayaan pesisir terdapat di kota-kota pantai utara pulau Jawa yang meliputi daerah dari Indramayu-Cirebon disebelah Barat sampai ke kota Gresik disebekah timur. Orang Jawa menganggap kebudayaan pesisir berbeda dengan yang lain. Kebudayaan yang hidup di Surabaya dan sekitarnya dengan logat Surabaya yang khas itu oleh orang Jawa sendiri biasanya dianggap sebagai suatu sub daerah yang khusus (Koentjaraningrat, 1984: 57).

Jadi perbedaan territorial daerah pendukung kebudayaan Jawa telah menyebabkan perbedaan atau variasi yang beraneka ragam dalam kebudayaan Jawa.

(#DP9 & Eni Susilowati. S.Pd)

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s