Kegiatan belajar-mengajar di era modern dituntut harus bisa mengikuti  tuntutan keadaan. Pendidikan yang berorientasi nilai menjadi topik yang hangat dibicarakan (mungkin lebih enak dibandingkan teh hangat). Siswa dituntut harus memiliki nilai melebihi standar yang telah ditentukan atau minimal sesuai standar kelulusan. Adanya tuntutan nilai kelulusan mengakibatkan siswa menghalalkan berbagai cara agar minimal bisa lolos dari jurang degradasi. Seharusnya dengan adanya tuntutan ini siswa harus rajin belajar. Belajar merupakan kebutuhan pokok bagi pelajar(selain kebutuahan sandang pangan dan uang). Namun kebanyakan siswa malas untuk belajar, mereka mengambil jalan pintas yang dianggap pantas, yaitu MENCONTEK. Mencontek secara konstitusional tidak diperbolehkan dilakukan oleh seorang siswa yang belum cukup umur. Namun dengan tuntutan profesi sebagai siswa, kegiatan contek mencontek seolah wajib dilakukan siswa saat ujian. Motif mencontek biasanya hampir sama, ingin memperoleh hasil yang maksimal dengan cara yang instan.

               Guru pengawas ujian kadang tak menentu, ada yang mengawasi dengan santai atau bisa dikatakan membiarkan siswa mencontek dalam batas norma-norma percontekan yang berlaku. Guru tipe ini dimungkinkan karena merasa kasihan kepada siswa dan kemungkinan juga dulu saat masih menjadi siswa mempunyai profesi utama sebagai pencontek. Namun ada juga guru pengawas yang killer dengan tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan kegiatan tercela ini. Guru tipe seperti ini biasanya pada saat sekolah dulu tidak bisa cara mencontek atau trauma akan kegiatan percontekan (pernah digebukin warga gara-gara maling TV). Guru adalah orang yang mengetahui mencontek atau tidaknya siswa. Hal ini dikarenakan siswa yang mencontek itu kelihatan tanda-tanda,  bermata satu, bertubuh besar, dan di dahi bertuliskan huruf arab “Kafir”(eh ini kan ciri-ciri Dajjal). Berikut ini hasil survei LSI (Lebih Suka Ibu-ibu) mengenai ciri-ciri siswa yang mencontek:

  1. Kegiatan percontekan biasanya dilakukan oleh siswa yang duduknya dibelakang(red: posisi menentukan prestasi). Siswa yang duduk dibelakang mempunyai kesempatan mencontek lebih besar dibandingkan dengan siswa yang duduk didepan, ditengah atau bahkan siswa yang tidak mempunyai tempat duduk. Tempat duduk dibelakang letaknya jauh dari meja pengawas ujian sehingga bisa beroperasi dengan bebas.
  2. Kalau dipandang oleh guru pengawas biasanya meraka tidak berani manatap pandangan guru. Ketidakberanian mereka disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, takut ketahuan nyontek, wajah dari pengawas ujian yang sangat menyeramkan, tidak berani menatap mata pengawas(yang lagi kena penyakit belek), dan mungkin karena wajah siswa tesebut jelek sehingga malu untuk dilihat pengawas, atau jangan-jangan dimuka mereka ada contekanJJ
  3. Duduknya tidak tenang. Hal ini merupakan ciri siswa yang perlu mendapatkan perhatia khusus. Siswa yang duduk tidak tenang ini perlu dicurigai akan melakukan kegiatan percontekan. Misalnya saja, duduk tidak menghadap depan, tatapi kesamping. Kalau dilihat dari bawah tempat duduk kita akan melihat pinggul siswa yang sedang melakukan kegiatan percontekan akan selalu bergerak (mungkin ambeyen). Kadang siswa melakukan tindakan-tindakan yang tidak terduga seperti, menggaruk kepala( kemungkinan besar belum mandi 9 hari),meletakkan alat tulis dibibir atau kadan menggigit alat tulis (prediksi lain: siswa yang seperti ini belum sarapan dari rumah). Kadangkala sisa pura-pura mengerjakan serius, namun setelah dilakkukan riset, ternyata mereka tidak mengerjakan soal akan tetapi menggambar soal atau mempertebal tulisan.
  4. Menggunakan kode rahasia. Tapi sekarang kode siswa itu terlihat jadul sekali. Kode seperti menggunakan bagian tubuh seperti jari, atau menunjuk bagian tubuh, dan menggunakan suara, itu sudah digunakan oleh nenek moyang kita. Sehingga diharapkan siswa mampu membuat kode rahasia yang baru. Misalnya saja untuk jawaban A bisa menggunakan kata simbol “saya lapar”, B “nanti kemana?”, untuk jawaban C dengan kata simbol “saya capek” dan lain sebagainya. Kemungkinan guru tidak akan curiga, guru pengawas menganggap itu hanya dialog biasa.
  5. Suasana kelas berisik. Kekuatan optimal seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran adalah 15 menit awal. Begitu juga pada saat suatu ujian, dalam waktu 15 menit awal, siswa akan berupaya dengan semaksimal mungkin mengerjakan soal itu secara mandiri. Namun setalah 15 menit awal, kekuatan siswa akan mulai menepis, begitu  juga kekuatan guru pengawas. Guru pengawas biasanya aktif hanya 15-20 menit awal. Apabila dalam jangka waktu tersebut, siswa serius mengerjakan, guru akan menjadi jenuh kemudian membuka buku dan membacanya. Siswa mulai terlihat panik menjelanh jam ujian selasi. Biasanya 5-10 menit akhir, segala cara akan diupayakan siswa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu berupa jawaban.
  6. Waktu pengumpulan. Waktu pengumpulan jawaban, dalam satu kelompok percontekan biasanya bersamaan, mungkin hanya selang beberapa menit. Ini menandakan kegiatan contek-menyontek jarak dekat, yaitu dengan posisi depan belakang dan samping kanan-kiri. Percontekan seperti ini memudahkan guru dalam mengurutkan lembar jawaban. Beginilah contoh kebaikan dari kegiatan mencontek.
  7. Mengalihkan perhatian guru. Tipe menyontek seperti ini biasanya dilakukan oleh satu sindikat tertentu (Kerja sama antara teman yang satu dengan teman yang lainnya). Ada salah satu siswa yang dijadikan umpan untuk mengalihkan perhatian guru pengawas, sehinggga guru pengawas akan hanya fokus pada siswa tersebut. Waktu yang singkat ini dimanfaatkan siswa yang lain untuk menyontek atau berdiskusi dengan siswa yang lain. Mengalihkan ini biasanya berupa pertanyaan terhadap soal dan kadang meminta lembar jawab tambahan. Berpura-pura meminjam sesuatu kepada siswa yang lain merupakan trik lain untuk menyontek.
  8. Lembar jawaban biasanya penuh dengan coretan. Dalam kegiatan mencontek ternyata juga ditemukan unsur dilemanitas terhadap pilihan jawaban yang berbeda antara siswa yang satu dangan siswa yang lain. Apabila dilemanitas ini tidak segera diselesaikan, akan terdapat jawaban ganda. Siswa harus bisa memilih pilihan yang tepat dengan menggunakan hatinya. Jawaban yang pertama biasanya hanya didasarkan pada emosi sesaat. Setelah berdiskusi dengan teman yang lain, dan ditemukan jawaban lain, siswa harus mengganti jawaban yang pertama dengan jawaban yang baru ditemukan.
  9. Khusus bagi siswi, biasanya lebih agresif dan ekspresif apabila mau, sedang dan sesudah mencontek atau berdiskusi dengan teman. Sifat wanita yang labil, membuat kegiatan percontekan berlangsung dengan kegaduhan tingkat tinggi. Siswi biasanya duduk merunduk seakan membawa beban yang berat,. Terkadang siswi berpura-pura menjatuhkan bullpen untuk mengambil contekan yang tidak tepat sasaran.

Dengan penjelasan yang panjang lebar diatas, bisa memberikan masukan kepada guru pengawas mengenai tanda siswa yang mencontek. Bisa langsung dipraktekan pada saat mengawasi ujian.

Bagi siswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menconteknya. Jangan monoton, cari inovasi baru dalam kegiatan mencontek.

 

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s