Ilmu Hasta Bratha

         Ilmu hastha brata adalah ilmu tentang laku-nya 8 (delapan) perwatakan alam; bumi, air, angin, samudera, rembulan, matahari, api dan bintang yang dimiliki oleh raja besar yang adil, beribawa, arif dan bijaksana; yakni Prabu Rama Wijaya dan Sri bathara Krisna Kresna (Wawan susetya. 2007 : 7). Jika ditelaah lebih mendalam, ilmu hastha brata mengandung dua hal, yaitu :

  1. Keteladanan seorang pemimpin (Prabu Rama Wijaya dan Sri bathara Krisna Kresna) yang mampu memimpin Negara dengan adil dan bijaksana sehingga namanya harum dimata rakyat.
  2. Membawa kita menuju alam spiritual-religius.

               Wejangan Prabu Rama Wijaya- titisan bathara Wisnu, yang digambarkan dalam bentuk tembang pangkur (Imam Supardi, Hasthabrata, 1961) sebagai berikut:

“wewolu sariranira, yekti nora kena sira ngoncati, cacat karatonira, yen tinggala salah siji saking wolu, kang dhihin bathara Endra, bathara Surya ping kalih. Bayu ingkang kaping tiga, kuwera kang sakawanipun nenggih, Baruna kalimanipun, Jama Candra lan Brama, jangkep wolu den pasthi mangka ing prabu, angganira ngasta brata, sayekti ing Nerpati.”

         Wejengan ini diberikan oleh Prabu Rama kepada Prabu Wibisana tentang kepemimpinan, yakni meneladeni 8 (delapan) lelaku atau peranan dalam kepemimpinan dan pemerintahannya yang diilustrasikan dengan 8 Dewa : Bathara Endra, Bathara Surya, Bathara Bayu, Bathara Kuwera, Bathara Baruna, Bathara Yama, Bathara Candra dan Bathra Brama. Delpan prinsip atau lelaku itu harus mampu dijalani oleh manusia. Delapan prinsip tersebut yaitu:

1. Laku Hambeging Kisma (Tanah) = Bathara Endra

Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja. Tanah tidak memperdulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malah memberi subur dan menumbuhkan tanaman. Filsafah tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan. Sebagai seorang pemimpin harus bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dipimpin. Pemimpin harus menerima segala kritikan baik yang pedas maupun yang manis.

2. Laku Hambeging Tirta (Air) = Bathara Baruna

Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe  ‘pilih kasih’. Pemimpin haus mampu bersikap adil keseluruh rakyat yang dipimpin. Memang adil tidak harus sama, harus sesuai dengan proporsi masing-masing, namun kelihatannya di Indonesia, Pemimpin hanya membela golongan atau partai tertentu saja. Kalau begitu rakyat kecil yang selalu menjadi korban.

3. Laku Hambeging Dahana (Api) = Bathara Brama

Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar. Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi. Watak api dalam konteks ini bersifat positif, karena implikasinya serius dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas.

4. Laku Hambeging Samirana (Angin) = Bathara Bayu

Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam member informasi untuk berusaha menyenangkan pemimpin.

5. Laku Hambeging Samodra (Samudera) = Bathara Kuwera

Maknanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudera raya yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Jiwa samudera mencerminkan pendukung pluralism dalam hidup bermasyarakat yang berkharakter majemuk.

6. Laku Hambeging Surya (Matahari) = Bathara Surya

Maknanya seorang pemimpin harus member inspirasi pada bawahannya ibarat matahari yang selalu menyinari bumi dan member energy pada setiap maklhuk.

7. Laku Hambeging Candra (Bulan) = Bhathara Chandra

Maknanya seorang pemimpin harus member penerangan yang menyejukan seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali.

8. Laku Hambeging Kartika (Bintang) = Bathara Yama

Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri meskipun dirinya ada kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagi sumbangan buat kehidupan. Bintang sebagai patokan atau pedoman untuk menentukan arah, sehingga dewanya, Bathara Yama (tugas mencabut nyawa) maksudnya bisa sebgai pedoman untuk mengingat mati. (Purwadi & Djoko Dwiyanto. 2006 : 241-242)

Sumber bacaan:

Purwadi & Djoko Dwiyanto. Filsafat Jawa, ajaran Hidup yang Berdasarkan Nilai Kebijaksanaan Tradisional. Yogyakarta: Panji Pustaka.

Wawan Susetya. 2007. Kepemimpinan Jawa. Yogyakarta : PT Buku Kita.

Iklan

One response »

  1. bima berkata:

    Bukannya wejangan untuk r. Barata?.. (ingat cerita Rama tundhung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s