Tiga Jenis Kiai: “Kiai Gentong”, “Kiai Ceret” dan “Kiai Talang”

     Maklhuk hidup membutuhkan bimbingan dari seorang yang bisa membimbing dan mengarahkan. Orang yang bisa membimbing dan mengarahkan bukanlah orang yang sembarangan. Orang yang membimbing harus mempunyai pengetahuan yang lebih daripada yang dibimbing. Pembimbing dan pemberi arah dalam dunia pendidikan adalah seorang guru. Guru adalah sosok sentral dalam kegiatan belajar mengajar selain siswa. Guru harus bisa mentransfer ilmu yang dimiliki kepada peserta didik. Jaman dahulu yang dianggap guru orang yang mempunya ilmu lebih. Banyak sekali sebutan untuk guru pada jaman dulu. Salah satunya adalah Kiai. Apabila terdengar kata Kiai, pasti mengerucut pada pendidikan agama Islam yang ada di pesantren. Kiai memeliki ilmu lebih dibandingkan dengan santri yang menuntut ilmu. Jenis dari kiai sangatlah bermacam-macam, berikut ini merupakan salah satu Kiai dilihat dari sudut pemberian ilmu kepada para santri.

  1. Kiai gentong artinya seberapa banyak ilmu yang digali dari kiai tersebut tergantung dari keinginan dan kemampuan orang-orang yang datang kepadanya. Ibarat gentong yang berisi air, terserah mengambilnya, apakah satu gelas, satu gayung, satu timba atau dihabiskan sekalian air dalam gentong tersebut. Jadi terserah yang belajar. Mau sedikit atau banyak tergantung dari kemampuan wadahnya.Hati kiai gentong telah manggung atau bisa berbunyi atau bisa membaca hati orang lain, baik yang berada didekatnya maupun yang sangat jauh sekalipun. Dengan demikian, siapapun lawan bicaranya, biasanya kiai gentong selalu berbicara tepat dan benar.  Prinsipnya ulama yang satu ini sudah benar-benar menggunakan bahasa hati karena keyakinan yang mendalam, sehingga sudah mencapai tahapan “haqqul yaqin”.
  2. Kia ceret adalah salah satu jenis kia lainnya. Kiai ceret biasanya pemberiannya kepada audiens sangat terbatas, misalnya hanya segelas atau secangkir. Ibarat ceret atau teko yang muatan airnya terbatas, maka pemberian kepada orang lain pun juga disesuaikan dengan wadahnya. Umumnya kiai ceret tampil di podium yang jumlah jamaah atau audiensnya sangat banyak.
  3. Kiai talang senantiasa memberikan ilmunya kepada siapapun saja yang dijumpainya, baik kawan maupun lawan, senang menerima maupun tidak, orang bodoh atau pandai dan lain sebagainya. Mereka dipandang sama. Ibarat talang yang fungsinya menalangi air hujan dari langit di atas rumah, kemudian air hujan tadi dibuang semuanya hingga habis. Kadang ilmu itu sangat mubazir karena diberikan kepada orang yang tidak berkompeten.

(Wawan Susetya. 2007.Renungan Sufistik Islam Jawa, kontemplasi jawa atas islam: simbolis, perumpaan dan filosofinya. Yogyakarta. PT BukuKita)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s