5. Perubahan Sosial

        Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencangkup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Berbicara tentang perubahan, menurut Strasser & Randel yang dikutip Piotr Szotompka (2008 ; 3), yaitu dengan membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu; berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan perbedaannya, ciri-ciri awal unit analisis harus diketahui dengan cermat meski terus berubah. Jadi konsep dasar perubahan sosial mencangkup tiga gagasan yaitu perbedaan, waktu berbeda dan  di antara keadaan sistem sosial yang sama.

            Manusia hidup dalam dunia yang terus berubah. Masyarakat dan kebudayaannya terus menerus mengalami perubahan-perubahan, kebiasaannya, aturan kesusilaannya, hukumnya, lembaga-lembaganya, terus berubah, dan semua perubahan-perubahan ini mengakibatkan perubahan lain lagi, secara timbal balik dan berbelit-belit. Perubahan ini langsung terus menerus, walaupun kecepatan perubahannya tidak selalu sama, sehingga pada masyarakat yang seakan akan bersifat statis (Adham Nasution, 1983: 128-129). Perubahan-perubahan dalam masyarakat terjadi melalui pengenalan unsur-unsur baru ini diperkenalkan kedalam masyarakat dalam dua cara yaitu, dengan penemuan-penemuan baru yang terjadi dalam masyarakat itu dan masuknya pengaruh masyarakat lain.

             Perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan: apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem sosialnya. Hal tersebut disebabkan keadaan sistem sosial yang tidak sederhana, tidak hanya berdimensi tunggal, tetapi muncul sebagai kombinasi atau gabungan hasil keadaan komponen seperti berikut :

  1. Unsur-unsur pokok, yang terdiri dari jumlah, jenis individu dan tindakan masyarakat.
  2. Hubungan antar unsur yaitu ikatan sosial, loyalitas, ketergantungan, hubungan individu, dan integrasi.
  3. Berfungsinya unsur-unsur di dalam sistem, misalnya peran pekerjaan yang dimainkan oleh individu atau diperlukannya tindakan tertentu untuk melestarikan ketertiban sosial.
  4. Pemeliharaan batas, yaitu kriteria untuk menentukan siapa saja yang termasuk anggota sistem, syarat penerimaan individu dalam kelompok, prinsip rekrutmen dalam organisasi, dan sebagainya.
  5. Subsistem, yang terdiri dari jumlah dan jenis seksi, segmen, atau divisi khusus yang dapat dibedakan.
  6. Lingkungan, yaitu keadaan alam atau lokasi geopolitik.

            Terciptanya keseimbangan atau kegoncangan, konsesus atau pertikian, harmoni atau perselisihan, kerja sama atau konflik, damai atau perang, kemakmuran atau krisis dan sebagainya, berasal dari sifat saling mempengaruhi dari keseluruhan ciri-ciri sistem sosial yang kompleks. Adakalanya perubahan hanya terjadi sebagian, terbatas ruang lingkupnya, tanpa menimbulkan akibat besar terhadap unsur lain dari sistem. Sistem dari keseluruhan tetap utuh, tidak terjadi perubahan menyeluruh atas unsur-unsurnya meski di dalamnya terjadi perubahan sedikit demi sedikit (Piotr Szotompka, 2008 : 3-4).

            Macionis mengungkapkan bahwa perubahan sosial adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berpikir dan dalam berperilaku pada waktu tertentu. Sedangkan menurut Gillin dan Gillin dalam Soerjono Soekanto (1990 : 336) menyatakan bahwa Perubahan sosial adalah suatu variabel dari cara-cara hidup yang telah diterima oleh masyarakat, yang disebabkan oleh adanya perubahan kondisi geografis,kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.

          Pitirim A. Sorokin dalam Soerjono Soekanto (1982 : 263), berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan adanya suatu kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan-perubahan sosial tidak akan berhasil baik. Dia meragukan kebenaran akan adanya lingkaran-lingkaran perubahan sosial tersebut. Akan tetapi, perubahan-perubahan tetap ada dan yang paling penting adalah lingkaran terjadinya gejala-gejala sosial harus dipelajari karena dengan jalan tersebut barulah akan dapat diperoleh suatu generalisasi. Sedangkan Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

          Setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai mungkin berupa uang, mungkin tanah, mungkin benda-benda yang bernilai ekonomis, mungkin pula berupa kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama, atau keturnan dari keluarga tertentu, pekerjaan, kecakapan dan lain lagi. Selama di dalam masyarakat memberikan penghargaan kepada barang sesuatu yang dihargai itu, selama itu masyarakat terbagi atas lapisan-lapisan. Semakin banyak seseorang atau sekelompok orang dapat memiliki sesuatu yang dihargai itu, masyarakat akan menganggapnya mempunyai status dan lapisan yang tinggi sebaliknya mereka yang hanya sedikit atau sama sekali tidak memilikinya, dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah.

        Sistem berlapis-lapis dalam masyarakat dapat bersifat tertutup dan dapat pula bersifat terbuka. Pada sistem kelas yang tertutup tidak memungkinkan terjadinya perpindahan anggota-anggota masyarakat dari satu lapisan kelapisan lain, baik keatas maupun kebawah. Hanya ada satu jalan masuk untuk menjadi anggota dari suatu lapisan masyarakat itu, ialah kelahiran. Sebaliknya pada sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri naik kelapisan atas; sedang bagi yang tidak cakap jatuh kelapisan bawah. Jadi ada kemungkinan untuk perubahan kedudukan atau status (Adham Nasution, 1983 : 128-129).

           Di dalam masyarakat dimana terjadi suatu proses perubahan, terdapat faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan yang terjadi. Menurut Soerjono Soekanto (1994 : 361-365), faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1)    Kontak dengan kebudayaan lain.

Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah diffusion. Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu lain, dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Dengan proses tersebut, manusia mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai umat manusia di dunia dapat menikmati kegunaannya.

2)   Sistem pendidikan formal yang maju.

Pendidikan mengajarkan aneka macam kemampuan kepada individu. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama dalam membuka pikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berpikir secara ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berpikir secara obyektif, yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan jaman atau tidak.

3)   Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.Apabila sikap tersebut melembaga dalam masyarakat, masyarakat merupakan pendorong bagi usaha-usaha penemuan baru. Hadiah Nobel, misalnya, merupakan pendorong untuk menciptakan hasil-hasil karya yang baru. Di Indonesia juga dikenal sistem penghargaan tertentu, walaupun masih dalam arti yang sangat terbatas dan belum merata.

4)   Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang (deviation), yang bukan merupakan delik.

5)   Sistem terbuka lapisan masyarakat (open stratification).

6)   Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal yang luas atau berarti memberi kesempatan kepada para individu untuk maju atas dasar kemampuan sendiri. Dalam keadaan demikian, seseorang mungkin akan mengadakan identifikasi dengan warga-warga yang mempunyai status lebih tinggi. Identifikasi terjadi di dalam hubungan superordinasi-subordinasi. Pada golongan yang berkedudukan lebih rendah, acap kali terdapat perasaan tidak puas terhadap kedudukan sosial sendiri. Keadaan tersebut dalam sosiologi disebut status-anxiety. Status-anxiety menyebabkan seseorang berusaha menaikkan kedudukan sosialnya.

7)   Penduduk yang heterogen.

Pada masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan ras ideologi yang berbeda dan seterusnya, mudah terjadinya pertentangan-pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan. Keadaan demikian menjadi pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.

8)  Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu. Ketidakpuasan yang berlangsung terlalu lama dalam sebuah masyarakat berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi.

       Penyebab perubahan sosial lain yang diungkapkan oleh Astrid S. Susanto (1983 : 157) yaitu ilmu pengetahuan (mental manusia), kemajuan teknologi serta penggunaanya oleh masyarakat, komunikasi dan transport, urbanisasi, perubahan atau peningkatan harapan dan tuntutan manusia (rising demands).

        Perubahan sosial dalam penelitian ini adalah adalah perubahan kondisi masyarakat baik tingkah laku maupun pola pikir masyarakat yang disebabkan oleh kondisi geografi, pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan dan kontak dengan kebudayaan lain. Perubahan sosial masyarakat di desa Mengger semakin luas terjadi setelah adanya penggarapan tanah baon. Dari hasil penggarapan tanah baon, masyarakat desa Mengger mulai bertransformasi dari kehidupan yang tradisional menuju masyarakat modern.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s