4. Petani
a.   Pengertian Petani

           Di daerah pedesaan sebenarnya terdapat sumber daya manusia yang banyak sekali dan tidak ternilai yang wujudnya dapat berupa kepemimpinan, organisasi energi, keterampilan dan sebagainya. Semua harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengelola, memanfaatkan dan memelihara sumberdaya-sumberdaya lainnya yang terdapat di pedesaan, seperti kekayaan alam. Berbicara tentang pedesaan, tidak dapat dipisahkan dari dunia pertanian. Dengan kata lain, berbicara tentang orang desa pasti membicarakan masalah pertanian (Hadi Prayitno & Lincolin Arsyad, 1987 : 136).

        Pada umumnya, pekerjaan di desa masih banyak tergantung kepada alam. Disamping itu, pekerjaannya juga tidak banyak bervariasi. Dapat dikatakan sebagian besar penduduknya mempunyai pekerjaan di bidang pertanian (usaha tani, peternakan, perikanan). Sebagaimana diungkapkan oleh Lynn Smith yang dikutip oleh Khairudin Hidayat (1992 : 6) bahwa pekerjaan di desa mempunyai obyek tentang tanaman dan hewan. Masyarakat desa bekerja ditempat terbuka dan terik matahari, serta pekerjaannya sangat banyak dipengaruhi oleh alam.

         Pertanian adalah suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pertanian dalam arti sempit dinamakan pertanian rakyat sedangkan pertanian dalam arti luas meliputi pertanian dalam arti sempit, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Semua itu merupakan hal penting. Secara garis besar, pengertian pertanian dapat diringkas menjadi 1) proses produksi; 2) petani dan pengusaha; 3) tanah tempat usaha; 4) usaha pertanian ( farm business) ( Soetriono dkk, 2006 : 1).

     Potensi pertanian dapat dikembangkan karena alam cukup mampu ditingkatkan kesuburannya, dengan meningkatkan prasarana produksi, perhubungan dan pemasaran sehinga akan meningkatkan output desa ke tingkat yang tinggi. Swadaya gotong-royong dapat dikembangkan pada tingkat manifest, antara lain peningkatan peranan masyarakat desa di dalam partisipasi pembangunan desa (Sajogyo & Pudjiwati Sajogyo, 1984: 19). Pertanian tanpa tanah jelas tidak mungkin. Kehidupan petani sangat tegantung pada tanah. Tanah yang dimiliki oleh seorang petani jelas akan mempengaruhi hasil yang diperolehnya, karena tanah merupakan tempat untuk berproduksi (Hadi Prayitno & Lincolin Arsyad, 1987 : 142).

        Faktor-faktor ekonomi dapat dipergunakan sebagai indikator perkembangan desa (output desa, pendapatan per kapita masyarakat desan dan standart of living), sedangkan faktor dasar alam dan penduduk serta letak desa terhadap pusat fasilitas (kota-kota) adalah merupakan faktor-faktor pembatas dari pembangunan desa untuk dapat memaksimalkan pertumbuhannya, keadaan sosial budaya manusia dapat berperan sebagai pendorong dalam perkembangan desa tersebut (Sajogyo & Pudjiwati Sajogyo, 1984: 19).

           Dalam kondisi masyarakat Indonesia saat ini, selain jumlah penduduk yang besar di pedesaan atau lingkungan pertanian, juga tercipta suatu kondisi dimana masyarakat desa terpaksa menjadi petani, karena rendahnya tingkat pendidikan yang mereka miliki dan variasi lapangan kerja di pedesaan. Karena dalam bidang pertanian, umunnya petani di Indonesia dan mungkin di negara-negara berkembang lainnya menjadi petani kebanyakan secara otodidak dan merupakan juga merupakan warisan dari orang-orang tua mereka (Hadi Prayitno & Lincolin Arsyad, 1987 : 136).

          Selo Soemardjan dalam Mubyarto (1987 : 65), mengatakan bahwa yang dimaksud petani adalah kuli (kenceng/kendo) yang berarti pemilik tanah dengan segala kewajiban dan bebannya. Petani adalah seseorang yang mengendalikan secara efektif sebidang tanah yang dia sendiri sudah lama terikat oleh ikatan-ikatan tradisi. Tanah dan dirinya adalah bagian dari satu hal, suatu kerangkan hubungan yang telah berdiri lama (Robert Redfield, 1982 : 15). Disebutkan pula bahwa petani adalah orang yang mengerjakan sebidang tanah, baik tananhnya sendiri, sebagai penyewa maupun mengerjakan tanah orang lain dengan imbalan bagi hasil.

         Menurut Eric R Wolf (1985 : 19), petani bukan hanya sumber tenaga kerja dan barang melainkan juga sebagi pelaku ekonomi (economic agent) dan kepala rumah tangga. Tanahnya adalah satu unit ekonomi dan rumah tangga. Dengan demikian maka unit petani pedesaan (peasent unit) bukan sekedar sebuah organisasi produsi terdiri dari sekian banyak tangan yang siap untuk bekerja di ladang; ia juga merupakan sebuah unit konsumsi yang terdiri dari sekian banyak mulut sesuai banyaknya pekerja.

       Ladang kecil biasanya terdiri dari sebidang tanah, berdiri rumah petani. Keluarga petani menghabiskan sebagian usianya dan melaksanakan hampir semua pekerjaan mereka di dalam areal pertanian keluarga itu. Di dalam suatu keluarga petani terdiri dari petani istrinya, dan anak-anaknya. Perbedaan-perbedaan dibuat di atas dasar kelamin dan umur, dan perbedaan ini bukan hanya menetukan pembagian kerja tetapi seluruh kelakuan orang itu. Petani mengarahkan dasar pertanian, menyelenggarakan tugas-tugas bercocok tanam dan juga mengurus ternak. Bila ada pekerjaan berat, dialah yang bertanggung jawab. Petani membeli dan menjual lembu, kambing dan babi serta menjual hasil pertanian, dan bertanggung jawab bagi keputusan yang diambil tentang bagaimana cara membelanjakan pendapatan. Istri bertanggungjawab mengenai urusan rumahtangga, mengasuh anak-anak, memelihara ayam, dan kadang-kadang bekerja di ladang (Duncan Mitchell, 1984 : 62-63).

         Kewajiban-kewajiban ini dibagi secara ketat sekali sehingga terasa bagi petani bahwa itu seolah-olah pembagian yang telah berlangsung sejak dulukala berdasarkan pada perbedaan bakat antara laki-laki dan prempuan. Anak-anak tidak banyak bekerja kecuali melakukan perintah hingga enam atau tujuh tahun, tetapi dari usia itu mereka beransur-ansur mengambil tugas-tugas yang lebih luas; yaitu tugas-tugas yang dibedakan menurut jenis kelamin mereka. Hubungan antara ayah dan anak adalah merupakan hubungan super dan sub-ordination; kuasa ibu bapak dan ketaatan anak diikat dengan perasaan saling hormat-menghormati.

          Nilai-nilai hidup petani mempunyai keterikatan yang dalam dengan tanahnya sendiri,sikap hormat terhadap tempat tinggal dan kebiasaan nenek moyang; kekangan terhadap mencari diri sendiri secara individual demi keluarga dan komunitas, kecurigaan tertentu, bercampur dengan penghargaan terhadap kehidupan kota, etik yang sederhana dan bersifat duniawi. Menurut seorang penulis Perancis, Rene Porak yang dikutip oleh Robert Redfield (1985 : 86), beranggapan bahwa kaum petani begitu mirip sehingga dia menamakan suatu ras psiko-fisiologis (a psycho-physiological race), dan mengumumkan bahwa antara petani yang tinggalnya berjauhan lebih serupa daripada orang kota daripada di dalam negeri yang sama. Rene Porak juga menyebutkan ciri-ciri yang dianggap ada di kalangan kaum tani di mana-mana, keluarga sebagai kelompok sosial, keterikatan mistik terhadap pertanian, tekanan pada proteksi.

b. Jenis-jenis Petani

           Menurut Dawan Rahardjo (1986 : 23), kelas-kelas petani yang ada dalam masyarakat pedesan ada beberapa tingkat, yaitu:

1)   Tuan tanah, yaitu petani yang memiliki lahan pertanian lebih dari 5,0 ha. Sebagian dari mereka mampu menggarap lahan dengan tenaga kerja keluarga atau dengan mempekerjakan beberapa buruh tani. Sebagian pula menyewakan (menyewakan dengan system bagi hasil) seluruh atau sebagian lahan itu kepada petani penggarap.

2)   Petani kaya, yaitu petani yang memliki lahan antar 2,0 sampai 5 ha. Petani semacam ini ada kalanya juga menyewakan kepada orang lain karena tidak mampu menggarap semua lahan yang dimilikinya.

3)   Petani sedang, yaitu petani yang memiliki lahan pertanian antara 0,5 ha sampai 2,0 ha.

4)   Petani kecil, yaitu mereka yang memiliki lahan pertanian antara 0,25 ha sampai 0,5 ha

5)   Petani gurem, yaitu petani yang hanya memiliki lahan pertanian antara 0,10 sampai 0,25 ha

6)   Buruh tani, yaitu petani yang hanya memiliki lahan kurang dari 0,10 ha. Bahkan petani ini juga dapat digolongkan pada mereka yang tidak mempunyai lahan sama sekali.

          Menurut Sajogya dan Pudjiwati Sajogya (1990 : 160), masyarakat desa atau petani dibagi dua kelompok, yaitu:

a)    Buruh tani

Buruh tani merupakan golongan yang mempunyai posisi paling rendah, karena buruh tani tidak memiliki lahan sama sekali. Mereka hanya bermodal tenaga untuk mendapatkan pekerjaan guna memperoleh sesuatu demi kelangsungan hidupnya. Biasanya mereka hidup dalam keadaan yang miskin. Buruh tani berada ditingkat terendah dalam lapisan masyarakat. Mereka tidak mungkin jatuh lebih rendah lagi.

b)   Petani bebas

Petani bebas ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:

(1)     Petani bebas kecil

Pada umumnya mereka mengerjakan tanah sendiri atau terkadang mengerjakan sawah dasar bagi hasil. Mereka tidak melakukan pekerjaan untuk mencatri upah.

(2)     Tuan tanah besar

Di dalam usaha pertanian mereka hanya menjalankan fungsi sebagai pengelola, sehingga mereka jarang sekali mengerjakan sendiri pekerjaan kasar. Masalah perolehan pinjaman mereka dapat meminjam dengan melalui Dinas Pertanian.

Menurut Setiyono Wahyudi (2006 : 23), ada tiga macam kebiasaan mental petani yang penting bagi perkembangan pembangunan pertanian yaitu :

  1. Kebiasaan mengukur, yaitu berpikir dalam mengukur penggunaan sarana produksi yang akan dipergunakan termasuk jumlah benda-benda. Dengan kebiasaan itu jangan puas dengan menyatakan panen baik atau hasil cukup, tetapi seharusnya dalam jumlah ton atau kilogram per hektar.
  2. Kebiasaan bertanya, biasanya dilakukan dengan pertanyaan, “mengapa tanaman ini lebih baik dari tanaman itu?” kenapa hasil di sini lebih buruk dari hasil yang disana”?
  3. Kebiasaan melihat atau mencari alternatif. Melihat dan mencari alternatif dari cara yang sudah dikenal dan dilakukan terhadap cara baru yang lebih baik.

         Soerjono Soekanto yang dikaji oleh Mardiyati (2002 : 13) menemukan ciri-ciri kehidupan petani, yaitu sebagai berikut :

  1. Masih ada hubungan saling mengenal dan bergaul antar warga
  2. Secara umum hidup dari hasil pertanian.
  3. Berusaha mempertahankan tradisi yang sudah ada, sehingga orangtua pada umumnya memegang pedoman yang sangat penting.
  4. Tidak dijumpai adanya pembagian kerja berdasarkan keahlian, akan tetapi berdasarkan usia dan jenis kelamin.
  5. Kehidupan penduduk pedesaan sangat terikat oleh tanah, maka kepentingan pokoknya juga sama sehingga akan terjalin hubungan kerja sama (gotong-royong).

          Mentalis petani di Indonesia, tidak hanya di Jawa, menilai tinggi konsep sama rata sama rasa. Dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa, gotong-royong merupakan suatu sistem pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga, untuk mengisi kekurangan tenaga pada masa-masa sibuk dalam lingkaran aktivitas produksi bercocok tanam. Petani yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah petani hutan yang menggarap lahan pertanian bukan milik sendiri, tetapi lahan pemerintah yang dikelola oleh Perum Perhutani dan bisa dikatakan bahwa petani hutan adalah petani yang menjadi sasaran Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

4 responses »

  1. […] manusia yang hidup dari sector pertanian, kami bisa dibilang sebagai petani dan lebih cocoknya buruh tani. Kami adalah manusia yang selalu diombang-ambingkan harga pasar. Kami sebenarnya adalah […]

  2. […] Jawa yang bertingkat-tingkat di rumah, kami bukanlah keluarga priyayi, kami hanya keluarga petani […]

  3. […] hanya tamatan sekolah dasar dan bermatapencaharian sebagai buruh tani Yanindra. ingat buruh tani itu beda dengan petani Yanindra. “Buruh tani merupakan golongan yang […]

  4. irma matic jawa berkata:

    ok mas broooo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s