D.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini merupakan cara-cara yang ditempuh peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan sehingga data-data yang dipergunakan menjadi sempurna dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1.    Obsevasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang sangat penting dalam suatu penelitian. Karena data yang diperoleh dari observasi merupakan hasil pengamatan/penyelidikan yang dilakukan secara sistematis baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi khusus terhadap kegiatan yang terjadi. Teknik observasi digunakan untuk mendapatkan data-data dari sumber  data berupa peristiwa, tempat atau lokasi, benda, dan rekaman gambar. Hadari Nawawi (1995:100) mengatakan, “Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak terhadap obyek penelitian”.

Penelitian ini menggunakan teknik obeservasi partisipan. Observasi partisipan digunakan untuk menunjuk riset yang dicirikan adanya interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan masyarakat yang diteliti di dalam kehidupan masyarakat. Selama periode ini, data yang diperoleh dikumpulkan secara sistematis dan hati-hati (Robert Bogdan & Steven J.Taylor dalam A Khosin Afandi 1993: 31).

Observasi dapat dilakukan secara formal maupun informal dan tidak hanya sekali saja. Data observasi biasanya berupa deskripsi yang faktual, cermat dan terperinci mengenai keadaan lapangan kegiatan manusia dan situasi sosial. Observasi ini akan dilakukan dengan cara formal dan informal untuk mengamati kegiatan pokok dengan observasi peneliti akan mendapatkan data dari sumber berupa tempat atau lokasi serta gambar dan juga peristiwa. Observasi juga dapat memudahkan bagi peneliti untuk mendapatkan data secara mendalam, sebab peneliti sudah melihat sendiri bagaimana keadaan obyek tersebut.

Dengan demikian peneliti selalu menyadari dirinya harus meningkatkan partisipasinya dalam aktifitas subyek yang diteliti. Dalam beberapa tempat, peneliti diminta memperlihatkan persahabatan dan kemauan baiknya melalui partisipasinya. Peneliti juga terlibat dalam percakapan, menyimak apa yang dibicarakan mengenai sasaran pengamatan, serta mencatat dan mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperoleh dalam obyek penelitian.

2.    Wawancara

Teknik wawancara merupakan teknik yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, terutama di lapangan. Menurut Lexy .J. Moleong (1988: 135), wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Wawancara harus dilakukan dengan efektif, artinya dalam waktu sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data sebanyak-banyaknya.

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancara yang memberikan jawaban. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan keterangan dan meminta pendapat  dari pihak yang dijadikan sebagai informan, serta untuk lebih memahami obyek penelitian secara cermat dan akurat, sehingga diperoleh kesempurnaan data dan hasil penelitian yang bersifat obyektif (Koentjaraningrat, 1983: 128). Wawancara merupakan sumber informasi yang sangat penting, karena ada kelebihan dari wawancara  yakni penelitian bisa kontak langsung dengan responden sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam (Nana Sudjana & Ibrahim, 1989:102).

Metode wawancara mencakup cara yang dipergunakan seseorang, untuk tujuan tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang lain. Wawancara dalam suatu penelitian yang bertujuan mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat serta pendirian-pendirian masyarakat itu, merupakan suatu pembantu utama dari metode observasi (Koentjaraningrat 1983: 129).

Sebelum seorang peneliti dapat memulai wawancara, artinya sebelum peneliti berhadapan muka dengan seseorang dan mendapat keterangan lisan, maka ada beberapa hal mengenai persiapan untuk wawancara yang harus dipecahan terlebih dahulu. Hal itu mengenai:

  1. Seleksi individu untuk diwawancara,
  2. Pendekatan orang yang telah diseleksi untuk diwawancara
  3. Pengembangan suasana lancar dalam wawancara, serta usaha untuk menimbulkan pengertian dan bantuan sepenuhnya dari orang yang diwawancara (Koentajraningrat 1983 : 130).

Pelaksanakan wawancara melibatkan beberapa tahapan yang tidak harus bersifat linear, tetapi memerlukan perhatian karena tidak jarang wawancara perlu dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan kebutuhan perlengkapan dan pendalaman data yang diperoleh (H.B. Sutopo, 2002: 60). Tahapan tersebut meliputi:

1)   Penentuan siapa yang akan diwawancarai

Peneliti harus bisa mewawancarai informan yang memang memiliki informasi yang benar, lengkap, dan mendalam. Oleh karena itu sejak awal peneliti perlu memilih dan menentukan informan yang dianggap tepat, dan menentukan kapan, serta dimana wawancara akan dilakukan.

2)   Persiapan wawancara

Persiapan wawancara merupakan pekerjaan rumah peneliti yang kenyataannya sering dilupakan karena tidak dianggap penting. Selain itu peneliti juga perlu membuat rencana mengenai jenis informasi apa saja yang akan digali. Beragam informasi yang akan digali dalam menghadapi seseorang yang akan diwawancarai, perlu disiapkan dalam bentuk tertulis.

3)   Langkah awal

Pada saat pertemuan dengan informan, peneliti perlu benar-benar memahami konteksnya agar suasana wawancara bisa berjalan lancar. Oleh karena itu peneliti perlu menjalin keakraban dengan informan yang dihadapinya, dan memberikan kesempatan pada informan untuk mengorganisasikan apa yang ada dalam pikirannya, sehingga benar-benar terjadi suasana yang santai.

4)   Pelaksanaan wawancara

Kegiatan wawancara perlu dijaga supaya tetap santai dan lancar. Peneliti tidak diperbolehkan banyak memotong pembicaraan, dan berusaha menjadi pendengar yang baik tetapi kritis. Peneliti jangan banyak bicara supaya bisa belajar lebih banyak dalam kelancaran prosesnya. Disini peneliti tetap menjaga pembicaraan agar semakin terfokus dan mendalam, dan mampu mengungkap hal-hal yang agak berulang demi pendalamannya, selama tidak mengganggu kelancaran pembicaraan informannya.

5)   Penghentian wawancara dan mendapatkan simpulan

Peneliti perlu memahami kondisi pelaksanaan wawancara dengan produktivitasnya.

Peneliti yang akan melakukan mewawancara dengan petani di desa, harus mengetahui rutinitas petani. Pada umumnya petani memulai rutinitas pekerjaannya yaitu setalah subuh, kemudian bekerja di sawah sampai kira-kira pukul 10.00 atau 11.00. Petani kemudian pulang ke rumah untuk beristirahat. Sekitar pukul 14.00 hingga 17.00 petani kembali beraktifitas di sawah. Pada malam hari setelah makan malam, petani berkumpul dengan keluarga atau berkumpul drngan tetangga lain. Waktu yang tepat untuk melakukan wawancara dengan petani adalah antara pukul 11.00 hingga pukul 01.00 siang dan sesudah shalat isya’ (Koentjaraningrat, 1983; 133-134).

Dalam penelitian ini teknik wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara terbuka, wawancara terstruktur dan wawancara berencana dan tidak berencana. Wawancara terbuka karena dalam wawancara tersebut para subyeknya mengetahui maksud dan tujuan dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara berencana dilakukan terhadap informan yang diseleksi, sedangkan wawancara tidak berencana dilakukan dengan orang yang peneliti ditemui secara kebetulan.

3.    Analisis Dokumen

Analisis dokumen adalah suatu penelitian yang bermaksud untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang terdapat dalam arsip dan dokumen. Menurut R.K. Yin (1987: 144), analisis dokumen disebut sebagai content analysis, yaitu bahwa peneliti bukan sekedar mencatat isi penting yang tersurat dalam dokumen atau arsip, tetapi juga maknanya yang tersirat.

Dokumen adalah setiap bahan yang tertulis ataupun lisan. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan dan mengumpulkan data yang bersumber dari arsip dan dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan secara tertulis tentang tindakan, pengalaman, dan kepercayaan. Dokumen resmi banyak terkumpul di instansi pemerintah, lembaga, dan kantor.

Dalam penelitian ini analisis dokumen dilakukan dengan menganalisa peta, data-data dari dinas yang terkait dengan penelitian ini, serta buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s