4. Kondisi Kesejahteraan Masyarakat sebelum Pengelolaan

Tanah Baon

         Desa Mengger merupakan suatu desa yang terdapat hutan yang sangat luas. Antara dukuh yang satu dengan dukuh yang lain dibatasi oleh hutan maupun areal persawahan. Penduduk di Desa Mengger sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Bentuk rumah di Desa Mengger adalah suatu bangunan persegi yang berukuran kira-kira empat kali lima meter. Dinding rumah terbuat dari kayu jati dan ada beberapa yang terbuat dari bambu yang tersusun rapi. Jarak antara rumah tangga satu dengan yang lain dibatasi pekarangan. Rumah di Desa Mengger, berlantaikan tanah liat dan belum berpondasi. Umpak (ganjel) rumah terbuat dari batu, yang diperoleh penduduk di hutan. Sebuah rumah terdiri dari beberapa ruangan yang bersekat kayu jati, misalnya kamar tidur dan ruangan untuk menyimpan padi (centhong). Jumlah rumah yang dimiliki oleh suatu rumah tangga minimal dua rumah. Selain itu, penduduk di Desa Mengger juga memiliki rumah kecil (empok), yang fungsinya sebagai ruangan memasak.

Peralatan memasak yang dimiliki satu keluarga petani sangat masih sederhana. Istri petani membeli peralatan memasak dari pasar maupun dari pedagang keliling (mindring). Peralatan yang berada di dapur petani diantaranya tungku (pawon), alat menyimpan air (gentong), alat mengambil air (siwur), alat memasak (dandang, kukusan), pisau, parutan kelapa, dan alat makan (piring, mangkok, gelas dan sendok). Pawon merupakan peralatan rumah tangga yang digunakan sebagai tungku (pengganti kompor) yang terbuat dari tanah liat.

Pawon memiliki tiga lubang yaitu bagian depan dan dua bagian atas. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu. Selain untuk memasak nasi, sayur dan lauk pauk, pawon juga berfungsi untuk memasak air. Penduduk Mengger mengkonsumsi air hasil masakan sendiri. Air yang diambil dari sumur, kemudian direbus hingga mendidih. Setelah mendidih air dibiarkan dingin dan kemudian dimasukan kedalam gentong. Satu rumah tangga memiliki dua buah gentong, yang mempunyai fungsi yang berbeda. Satu berfungsi untuk meyimpan air yang masih mentah dan yang satunya lagi untuk meyimpan air yang sudah dimasak. Keluarga petani meminum air tidak langsung dari gentong ataupun dengan menggunakan gelas, namun menggunakan alat bantu yaitu kendi. Kendi adalah suatu alat bantu yang digunakan sebagi alat minum. Kendi terbuat dari tanah liat yang dibentuk sedemikian rupa (Hasil wawancara dengan Kristi tanggal 4 September 2011).

Penduduk Mengger selain mencukupi kebutuhan sehari-hari dari pedagang keliling, penduduk membeli peralatan-peralatan yang diperlukan di pasar. Di Desa Mengger hanya terdapat satu unit pasar yaitu Pasar Dongblong. Pedagang yang berada di Pasar Dongblong, berasal dari penduduk Mengger dan pedagang dari daerah selatan. Pedagang lokal menjual barang dagangan berupa jajanan tradisonal, seperti sayur, ikan kali, jajanan pasar (tepo, pecel, gethuk, dawet, nasi ketan) dan hasil hasil pertanian lainnya. Sedangkan pedagang dari daerah selatan, menjual barang-barang seperti bumbu masak, pakaian, peralatan memasak dsb. Pedagang dari selatan membeli hasil pertanian dari penduduk Mengger, seperti pisang, umbi-umbian, dan ayam. Transaksi jual beli dimulai pukul 05,00 pagi dan berakhir sekitar pukul 07,00 pagi.

Pasar yang memiliki jumlah dan jenis dagangan yang banyak, tidak terdapat di Desa Mengger. Penduduk harus pergi ke selatan untuk membeli barang-barang yang tidak dijual di Pasar Dongblong. Pasar Gendingan ditempuh penduduk dengan jalan kaki dan harus menyebrang sungai Bengawan Solo. Pasar Gendingan terletak di sebelah selatan Dukuh Payak, menjual berbagai barang keperluan yang tidak didapatkan di Pasar Dongblong. Pasar modern yang terdekat dari Desa Mengger adalah Pasar Walikukun. Di Pasar Walikukun menjual barang-barang berbagai jenis dan lebih banyak apabila dibandingkan dengan Pasar Gendingan (Hasil wawancara dengan Diyem tanggal 18 September 2011).

Ciri khas kehidupan petani adalah perbedaan pola pendapatan dan pengeluarannya. Pendapatan petani hanya diterima setiap musim panen, sedangkan pengeluaran harus diadakan setiap hari, setiap minggu atau kadang-kadang dalam waktu yang sangat mendesak sebelum panen tiba. Petani kaya dapat menyimpan hasil panennya yang besar untuk kemudian dijual sedikit demi sedikit pada waktu yang diperlukan tiba, sedangkan bagi petani kecil, hasil bersih dari pertanian tidak mencukupi kebutuhan sepanjang tahun. Itulah sebabnya kebanyakan keperluan petani yang besar seperti memperbaiki rumah, membeli sepeda atau pakaian, hanya dapat dipenuhi pada masa panen. Hal yang paling merugikan petani adalah pengeluaran- pengeluaran yang kadang tidak dapat diatur dan tidak dapat ditunggu sampai panen, misalnya kematian dan tidak jarang juga pesta perkawinan atau selametan. Dalam hal demikian petani sering menjual tanamannya pada saat masih hijau di sawah atau ladang, baik dengan harga penuh atau pinjaman sebagian.

Hasil pertanian penduduk Mengger dijual di Pasar Donglong dan pasar lain didaerah selatan. Binatang ternak dijual kepada pedagang perantara (blantik). Hasil-hasil pertanian terpenting, tanaman musiman seperti padi, jagung dan kacang-kacangan mempunyai persoalan yang menarik. Untuk tanaman musiman seperti ini maka pada musim panen (dalam keadaan pasar yang normal) terdapat harga yang rendah dan pada musim paceklik terdapat harga yang tinggi. Pupuk yang digunakan oleh penduduk di Mengger selain dari pupuk kandang juga pupuk yang dibeli dari toko. Harga pupuk pada saat masa tanam melonjak tinggi, sedangkan hasil panen harganya rendah, sehingga menempatkan petani pada kelas yang diperas dan memiliki daya tawar yang rendah dalam perdagangan.

Dalam usaha tani sebagian besar tenaga kerja berasal dari keluarga petani sendiri. Tenaga kerja tidak pernah dinilai dengan uang. Apabila petani mengalami kekurangan tenaga pada saat penggarapan maka dapat meminta tolong pada tetangga dan familinya dengan pengertian akan kembali menolongnya pada kesempatan yang lain. Warga masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam dibandingkan hubungan mereka dengan masyarakat pedesaan lainnya, sistem kehidupan berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan (Soerjono Soekanto.1994: 167). Sistem kekerabatan yang sangat erat antar masyarakat juga memudahkan adanya gotong-royong. Penduduk Mengger sebagian besar merupakan asli lahir di Mengger. Pernikahan yang terjadi sebagian besar antara sesama orang Mengger, sehingga dalam satu desa masih memiliki ikatan persaudaraan. Perjodohan masih sering dilakukan oleh penduduk di Desa Mengger.

Pertanian di Desa Mengger sangat tergantung dengan adanya air hujan. Air merupakan sarana produksi yang paling pokok bagi petani dalam membangun usaha tani disamping tanah. Letak wilayah yang berada di dataran tinggi dan tidak adanya sarana irigasi mengakibatkan petani hanya bisa menanam tanaman pada saat musim penghujan saja. Pada bulan 2-3 (mareng) dan bulan 10-11 (labuh) merupakan waktu tanam bagi petani. Curah hujan tertinggi adalah pada saat labuh, namun hasil pertanian yang bagus adalah saat mareng, dikarenakan saat mareng, hujan mulai berkurang sehingga hasil tanam bisa dikeringkan dan harga lebih tinggi dari pada saat labuh. Pada musim kemarau (tigo), lahan pertanian sebagian besar tidak bisa ditanami kecuali di daerah aliran sungai (corah). Corah merupakan daerah aliran sungai yang dimanfaatkan penduduk sebagi lahan pertanian. Tanaman yang ditanam misalnya saja padi, kacang-kacangan dan berbagai jenis sayur. Corah juga sama dengan tanah baon, yaitu tanah hutan, namun letaknnya saja yang berbeda. Tanah baon terletak di daerah dataran, sedangkan corah letaknya di daerah aliran sungai. Penduduk boleh memanfaatkan sebagi lahan pertanian namun tidak menjadi milik pribadi. Tanah baon dan corah sangat menguntungkan bagi penduduk di Desa Mengger (Hasil wawancara dengan Jayadi tanggal 11 September 2011).

Masyarakat di Desa Mengger selain menggarap corah, juga memiliiki tambahan pendapatan lain, khususnya dari hutan dan sungai. Ketersediaan kayu di hutan, dimanfaatkan penduduk sebagai kayu bakar yang sebagian dijual. Selain itu, sisa-sisa akar jati (tunggak), dimanfaatkan penduduk untuk bahan mebel yang berharga mahal. Sungai juga memberikan tambahan sumber pendapatan bagi penduduk, khususnya di Dukuh Payak, Ngasbatok dan Gugursari yang secara langsung berbatasan dengan Sungai Bengawan Solo. Di Sungai Bengawan Solo, masyarakat sekitar mencari tambahan pendapatan dengan mencari ikan dan menambang pasir (Hasil wawancara denagan Sumo Wiyono tanggal 18 september 2011).

Penduduk di Desa Mengger memiliki sumber pendapatan sampingan dari pemeliharaan binatang ternak. Binatang ternak yang dipelihara oleh penduduk, diantaranya, ayam, sapi, kerbau dan kambing. Binatang ternak menyediakan daging dan telur bagi pemiliknya, sekaligus uang dari hasil penjualan hewan ternak tersebut. Petani harus membagi waktu antara mengerjakan lahan pertanian dan menyediakan pakan untuk binatang ternak. Pakan sapi, kerbau dan domba adalah rerumputan, sedangkan kambing makanannya adalah daun lamtoro dan sejenisnya. Sapi dan kerbau digembalakan petani di hutan. Pagi sekitar pukul 6.00 petani berangkat menggembala (angon). Pukul 12.00 petani selesai menggembala dan pulang kerumah untuk mandi, makan dan beristirahat. Setelah makan siang (mindo), sekitar pukul 14.00 petani kembali berangkat menggembala ke hutan. Aktifitas petani dalam menggembala adalah mengawasi keberadaan hewan ternak jangan sampai memakan tanaman petani yang lain dan mencari kayu bakar. Apabila petang sudah menjelang, petani pulang dari penggembalaannya (Hasil wawancara dengan Mujianto tanggal 10 September 2011).

Pada musim penghujan, tugas petani akan tepecah antara mengolah lahan pertanian dengan mencari pakan ternak. Sapi, kerbau dan domba pada musim penghujan tidak digembalakan, cukup disediakan pakan dari hasil ngarit. Ngarit adalah mencari rerumputan di hutan, ladang maupun di pematang sawah, alat yang digunakan adalah sabit. Pada saat musim penghujan, petani telah mempersiapkan pakan ternak yaitu jerami (damen). Kebutuhan damen pada musim kemarau tidak mampu dicukupi oleh hasil sawah yang ada di Mengger. Petani harus mencari damen kedaerah lain, khususnya di daerah Kecamatan Widodaren. Damen diangkut dengan menggunakan kendaraan bermotor dan ada juga yang dipikul. Saat panen padi menjelang awal musim kemarau, petani menumpuk damen untuk persediaan musim kemarau.

Pemeliharaan kambing sedikit sulit dibandingkan dengan binatang ternak lain. Kambing biasanya tidak digembalakan. Petani harus mencari dedaunan yang merupakan makanan kambing seperti daun lamtoro di hutan. Semenjak hutan digunakan untuk lahan pertanian, petani mulai kebingungan dalam penyediaan pakan kambing. Salah satu cara dalam memenuhi pakan kambing yaitu dilahan pertanian, petani menanam ketela pohon yang daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan terrnak.

Perawatan hewan ternak selain diberi pakan rutin setiap hari, juga dibersihkan kandang dari kotoran dan sisa pakan. Kotoran binatang ternak dijadikan pupuk kandang yang menyuburkan tanaman. Selain pembersihan kandang untuk ternak kerbau, kambing dan domba, seminggu atau sebulan sekali dimandikan (diguyang) agar bersih dari kutu. Pakan dari ayam dan itik adalah sisa nasi yang tidak habis dikonsumsi maupun katul. Ayam dan itik petani tidak dikandang, melainkan bebas berkeliaran. Pada pagi hari diberi pakan, setalah itu ayam dan itik berkeliaran mencari makan dan sore hari pulang ke kandang. Kandang ayam ikut dengan kandang sapi atau tergabung dengan dapur petani.

Pada musim penghujan, penduduk yang tidak mempunyai lahan pertanian bekerja di sawah atau ladang milik orang lain. Pekerjaan untuk laki-laki adalah mencangkul sawah atau tegalan, mencabut benih padi (ndaut), dan lain sebagainya. Pekerjaan mencangkul biasanya dilakukan dengan sistem harian. Dalam satu hari mendapatkan upah sekitar Rp.30.000. Bagi penduduk perempuan, pekerjaan yang bisa dikerjakan adalah menanam padi (tandur), menyiangi sawah (matun), dan panen padi (derep). Pekerjaan menanam maupun meyiangi padi, mendapatkan upah bayaran sekitar Rp.25.000. sedangkan untuk memanen padi, upah yang diperoleh berupa bawon. Orang yang bekerja untuk memanen padi disebut derep. Orang derep akan diberi upah berupa gabah dengan sistem pembagian yang telah ditentukan oleh pemilik sawah, biasanya 7:1, yaitu setiap 8 kilogram(kg) yang didapatkan orang derep, 7 kg akan menjadi milik dari pemilik sawah dan 1 kg untuk orang derep (Hasil wawancara dengan Tukinem tanggal 11 September). Bagi pemilik binatang sapi atau kerbau yang dapat digunakan untuk membajak sawah atau tegalan, menjual jasa untuk membajak. Dalam satu pagi, yaitu dari pukul 05.00 sampai 09.00 bisa mendapatkan upah antara Rp. 10.000 hingga Rp. 30.000, tergantung dari luas lahan (Hasil wawancara dengan Lari tanggal 14 Agustus 2011).

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s