A. Pengelolaan Tanah Baon

1. Latar Belakang Pengelolaan

Selama berabad-abad hutan telah dikenal mempunyai beberapa fungsi yang sangat vital bagi pembangunan wilayah. Fungsi hutan tersebut pada umumnya dipisahkan menjadi tiga kelompok, yaitu fungsi ekonomi, perlindungan dan fungsi keindahan. Menurut Hasanu Simon (1993: 42), menjelaskan bahwa “fungsi-fungsi hutan tersebut menunjukan adanya keterkaitan yang erat antara sumberdaya hutan dengan kepentingan masyarakat terhadap sumber daya tersebut”. Titik berat pemanfaatan hutan untuk pembangunan adalah mengusahakan agar hutan tetap dalam keadaan lestari. Hal tersebut dapat dilaksanakan apabila jumlah penduduk masih rendah. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan fungsi pengelolaan hutan menjadi berubah. Pemanfaatan fungsi hutan perlu diubah untuk menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar hutan.

Perubahan fungsi hutan mengakibatkan perlu diadakannya usaha intensifikasi pengelolaan hutan untuk meningkatkan produktivitas dan kelestarian ekosistem hutan. Usaha intensifikasi hutan tersebut lebih dikenal dengan istilah tumpang sari atau agroforestry. Tumpang sari dapat menyediakan kesempatan kerja bagi penduduk sekitar hutan dan sekaligus meningkatkan produktifitas lahan hutan. Intensifikasi hutan merupakan bagian yang sangat penting untuk memecahkan masalah kemiskinan di pedesaan. Pertambahan jumlah penduduk mendorong perluasan tempat pemukiman sampai ke daerah-daerah yang berbatasan dengan hutan.

Desa Mengger merupakan salah satu desa yang terletak di kawasan hutan, yang mengakibatkan hampir setiap hari penduduk berinteraksi dengan hutan. Hutan merupakan tempat penggembalaan bagi hewan peliharaan, seperti sapi, kerbau dan kambing yang dimiliki penduduk di Desa Mengger. Hasil hutan seperti kayu dimanfaatkan penduduk untuk kayu bakar. Hubungan antara penduduk Mengger dengan hutan sangat erat, yang terjadi simbiosis mutualisme antara hutan dengan penduduk. Penduduk memanfaatkan hasil hutan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk memperoleh kayu bakar, mendapatkan kayu untuk membuat rumah dan untuk penggembalaan hewan ternak.

Penduduk di Desa Mengger sebagian besar adalah petani. Tanah sebagai modal dalam pertanian sangat dibutuhkan oleh petani. Pertumbuhan penduduk yang semakin besar mengakibatkan lahan pertanian semakin sempit. Hal ini mendorong penduduk untuk meningkatkan usaha mengeksploitasi hutan. Laju penebangan pohon hutan dengan reboisasi hutan tidak seimbang yang mengakibatkan hutan menjadi gundul. Perum Perhutani sebagai pengelola hutan menyadari kerusakan hutan. Kerusakan hutan ini, apabila segera tidak ditangani akan terjadi bencana misalnya, tanah longsor, menipisnya ketersediaan air tanah, dan musnahnya bebarapa satwa langka. Pada tahun 2003, Perum Perhutani menjalankan program reboisasi hutan. Program yang bernama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat(PHBM), dilaksanakan Perum Perhutani dengan melibatkan peran masyarakat sekitar hutan dalam melakukan reboisasi hutan.

Perum Perhutani memiliki beberapa alasan mengapa harus melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan hutan, yaitu ketrampilan petani dan surplus tenaga kerja di sekitar hutan. Masyarakat pedesaan di Jawa telah membuktikan mampu membudidayakan beberapa jenis pohon dengan berhasil dalam bentuk pekarangan, tegalan dan kebun campuran. Selama berabad-abad masyarakat sekitar hutan selalu terlibat dalam semua kegiatan kehutanan dan oleh karena itu masyarakat sekitar hutan telah menguasai pengetahuan praktis tentang pengelolaan hutan. Pejabat kehutanan dalam hal ini BKPH Payak, tinggal mengkoordinir pelibatan masyarakat. Peranan yang dimainkan masyarakat sekitar hutan dalam kerja sama dengan Perum Perhutani untuk mengelola hutan tanaman  dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan (Hasil wawancara dengan Budiono tanggal 20 Agustus 2011).

     Pengelolaan hutan dengan sistem tumpang sari membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat di Desa Mengger dan bagi kelestarian hutan. Penduduk yang kekurangan lahan mendapatkan lahan hutan yang subur untuk lahan pertanian. Penanaman hutan dilakukan secara berurutan, sistem penanaman berutan sangat sesuai dengan wilayah Desa Mengger yang memiliki satu musim penghujan dalam satu tahun. Pada awal musim penghujan tanaman semusim dan tanaman utama (tegakan) ditanam bersama-sama, namun pertumbuhan awal tanaman semusim lebih cepat daripada tanaman tegakan. Adanya perbedaan masa pertumbuhan tersebut merupakan salah satu keuntungan yang dapat diperoleh yaitu mengurangi kompetisi terhadap sumber daya. Setelah tanaman semusim dipanen maka tegakan tumbuh pesat, sedangkan pada musim kemarau di hutan hanya terdapat tegakan. Sebelum musim penghujan, tegakan menggugurkan daun-daunnya sehingga menambah unsur hara dalam tanah. Kemudian tanaman semusim ditanam kembali dengan kondisi kesuburan tanah yang telah pulih.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s