C. Dampak Pengelolaan Tanah Baon

Pengolahan tanah hutan menjadi lahan pertanian yang dilakukan oleh penduduk Desa Mengger membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan perekonomian. Tanah baon yang subur membawa hasil panen pertanian yang sangat melimpah. Penggarapan tanah baon berhasil meningkatkan kesejahteraan penduduk yang didominasi bermatapencaharian sebagai petani. Berpedoman pada kamus Umum Bahasa Indonesia istilah sejahtera mempunyai arti aman, sentosa, dan makmur, selamat atau terlepas dari segala macam gangguan dan kesukaran Poerwadarminta. 1976: 81). Dengan demikian kesejahteraan adalah keamanan dan keselamatan atau kesenangan hidup.

Kesejahteraan mempunyai arti yang sangat luas. Hal ini berbeda-beda menurut berbagai orang maupun kelompok. Kesejahteraan masyarakat batasnya hanya dapa dirasakan oleh orang yang telah merasakan arti sebuah kesejahteraan sendiri. Dalam kajian ilmu sosial, kesejahteraan dapat dikatakan apabila kebutuhan yang dapat terpenuhi dengan sumberdaya yang tersedia atau adanya keseimbangan antara kebutuhan dan sumberdaya yang ada (balancing between needs and resources) ( Soemadi. B, 2008 : 130).

Kesejahteraan masyarakat dibuktikan dengan terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang atau pakaian, perumahan dan fasilitas kesehatan. Kesejahteraan penduduk Mengger hampir sebagian besar telah tercukupi. Makanan pokok penduduk di Desa Mengger adalah beras. Beras diperoleh dari hasil pertanian di sawah maupun di corah. Bila musim kemarau yang terlalu lama dan persediaan beras petani habis, petani akan membeli beras di pasar dari uang penjualan jagung maupun dari penjualan binatang ternak. Keperluan sandang penduduk Desa Mengger telah terpenuhi. Satu hari, penduduk berganti baju sebanyak dua kali, yaitu sore hari dan pagi hari saat akan berangkat bekerja. Penduduk Mengger mencukupi kebutuhan pakaian dengan membeli pakaian di pasar dan dari penjual keliling (mendring).

Pembelian pakaian dilakukan pada saat panen hasil pertanian maupun penjualan binatang ternak. Pasar Walikukun dan Pasar Dongblong adalah tempat penduduk Mengger membeli kebutuhan akan pakaian. Penjual pakaian keliling (mendring) juga menyediakan kebutuhan pakaian penduduk. Terdapat dua sitem pembelian melalui mendring , yaitu dibayar tunai maupun dibayar kredit atau dibayar pada saat panen. Perumahan penduduk Menggger layak untuk dihuni, dengan ukuran luas 9 x 7 meter dengan ketinggian 3-3,5 meter dan dalam satu keluarga memiliki minimal dua rumah. Menurut data monografi Desa Mengger tahun 2010, jumlah rumah yang dindingnya terbuat dari batu/gedung permanen sebanyak 3 buah, dinding terbuat dari sebagian batu/gedung semi permanen berjumlah 8 buah, dinding terbuat dari kayu 1796 buah dan dinding terbuat dari bambo berjumlah 52 buah. Sarana kesehatan yang ada di Desa Mengger terdapat satu unit Puskemas yang selalu buka 24 jam dengan petugas berjumlah 2 orang.

Pengelolaan tanah baon berdampak sangat signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Mengger. Hasil penjualan dari pengelolaan tanah baon digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dan membeli peralatan yang diperlukan, seperti peralatan memasak, peralatan elektronik dan membeli kendaraan bermotor. Berikut ini beberapa bukti dari peningkatan kesejahteraan yang dikemukakan oleh penduduk.

Adanya tumpang sari hutan, pendapatan masyarakat meningkat, penghasilan yang meningkat digunakan untuk membangun rumah, khusus di Payak pada tahun 2011 telah berdiri rumah baru. Banyak penduduk di payak sudah memiliki sepeda motor, walaupun sebagian second. Di payak terdapat 104 rumah tangga yang hampir semuanya sudah memiliki kendaraan bermotor, handphone dan televisi. Seluruh rumah di Payak sudah menggunakan penerangan listrik, meskipun hanya menumpang dari tetangga (nggantol) (Hasil wawancara tanggal 9 september 2011).

Supriyanto yang sebelum menggarap tanah baon merantau ke Malaysia, mengatakan bahwa tanah baon sangat menguntungkan untuk perekonomian. Dalam satu tahun merantau di Malaysia dia bisa mendapatkan uang dua puluh tujuh juta. Sedangkan dari penggarapan tanah baon lebih banyak lagi. Luas tanah baon yang dikerjakan oleh Supriyanto adalah 1,5 ha. Panen pada bulan Juli, mendapatkan uang total 25 juta. Uang itu dipotong untuk kepentingan modal benih, pupuk, pestisida hingga pemanenan sebesar 7,5 juta. Pendapatan yang diterima adalah 25-7,5= 12,5 juta. Dalam satu tahun terdapat dua kali panen. Panen pada bulan Januari diperkirakan akan mendapatkan uang 30 juta. Uang akan dipotong dengan biaya sekitar 5 juta, sehingga uang yang diterima adalah 25 juta. Total dalam 7 bulan, mendapatkan uang sebesar 37,5 juta. Dalam jangka waktu kurang lebih 5 tahun, supriyanto telah berhasil meperbaiki rumah, membeli tanah 25×11 meter dan 2 sepeda motor (Hasil wawancara dengan Supriyanto 11 September 2011)

Penggarapan tanah baon berdampak bagi terpenuhinya kebutuhan sehari-hari penduduk dan kebutuhan akan sandang pangan dan papan. RT 01 dan RT 02 merupakan  daerah yang terletak di pusat Desa Mengger (Mengger Krajan atau Menggger Tengah). Fasilitas desa seperti kantor desa, gedung pertemuan, puskesmas dan masjid terdapat di RT 01 dan 02. Di Mengger Krajan terdapat 64 rumah tangga, yang hampir 97 % menggarap tanah baon. Penggarapan tanah baon berdampak pada pemenuhan sarana dan prasarana kehidupan. Sebagai contoh ketersediaan barang elektronik, pada awal tahun 2000-an pemilik televisi hanya ada 3 buah, itupun masih hitam putih. Pada tahun 2011 ini, tinggal hanya ada 2 rumah yang tidak mempunyai televisi. Contoh lain adalah kepemilikan sepeda motor, sebagai contoh awal tahun2000-an, jumlah sepeda motor yang ada di Mengger Krajan hanya terdapat 2 unit. Sedangkan pada tahun 2011, hampir 95% rumah tangga memiliki sepeda motor. Beberapa rumah tangga memiliki lebih dari satu tergantung dari jumlah anak yang sudah besar  (Hasil wawancara dengan Jono dan Toyat tanggal 27 agustus 2011).

Setiap rumah tangga di Mengger sudah menggunakan penerangan listrik. Listrik pertama kali masuk di Desa mengger yaitu pada tahun 1997, yaitu pada saat menjelang awal Pemilu 1997. Pada awalnya hanya ada 4 rumah yang memasang listrik, yaitu rumah yang digunakan sebagai Tempat Pemungutan Suara(TPS). Setiap tahun pengguna penerangan listrik semakin bertambah. Tahun 2011 seluruh rumah sudah berpenerangan listrik.

Contoh lain adalah keluarga Kristi. Dalam satu kali panen, Kristi dan keluarga mendapatkan uang sebesar 7-10 juta, uang itu dipotong untuk keperluan benih, pupuk, pestisida dsb sebesar 2 juta. Berarti dalam satu kali panen Kristi berhasil mendapatkan uang sebesar 5-8 juta. Hal ini tergantung dari musim dan tinggi rendahnya harga jagung. Uang 5-8 juta digunakan oleh keluarga Kristi untuk keperluan sehari-hari dan membiayai anak sekolah. Biaya sekolah merupakan pengeluaran terbesar dari Kristi sekeluarga. Jika hasil panen tidak mencukupi, Kristi akan menjual ternak sapi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sekolah. Selain itu pada musim kemarau, lahan pertanian tidak dapat ditanami, suami Kristi beralih pekerjaan menjadi pekerja tebang tebu (Hasil wawancara dengan Kristi tanggal 12 Agustus 2011).

Adanya tanah baon juga menambah lapangan pekerjaan di Desa Mengger, yaitu:

1. Pembajak lahan

Petani dalam mengelola lahan, selain dicangkul juga menggunakan bajak. Tidak semua petani mempunyai alat bajak. Alat bajak bisa berupa alat tradisonal yang ditarik dengan sapi dan bajak modern (traktor). Bagi pemilik sapi yang dapat digunakan untuk membajak, dengan adanya tanah baon dapat menambah pendapatan setiap awal tanam. Pendapatan yang diperoleh oleh seorang pembajak bervariasi tergantung dari luas lahan yang dibajak. Khusus untuk bajak sapi, hanya dilakukan kegiatan membajak pada saat pagi, sekitar pukul 05.00 hingga pukul 09.00.

2. Penanaman dan pemanenan hasil pertanian

Kegiatan penanaman dan pemanenan membutuhkan tenaga tambahan, hal ini dikarenakan luasnya lahan pertanian dan mengejar waktu tanam. Tenaga tambahan diperoleh dari saudara dan tetangga terdekat. Misalnya saja ada seorang petani yang membutuhkan tenaga tambahan, tetangga terdekat yang sudah selesai tanam atau panen, akan membantu petani yang lain untuk menanam maupun memanen. Upah bisa berupa uang atau dengan bergantian membantu dikemudian hari. Pada musim panen, petani sulit untuk mendapatkan tenaga kerja dikarenakan penduduk yang lain juga harus memanen tanaman mereka sendiri. Hal ini mengakibatkan waktu menanam penduduk biasanya berbeda agar memudahkan untuk mendapatkan tenaga kerja.

3. Pengojek hasil baon.

Pengojek jagung dibutuhkan ketika panen pada saat musim penghujan. Jalan ke lahan pertanian hanya terbuat dari tanah sehingga pada musim penghujan tidak bisa dilalui kendaran beroda empat. Para pengojek sebagian besar didominasi oleh anak muda dengan usia 15-30 tahun. Satu sak jagung diberi upah sebesar Rp1.500-5.000, tergantung jauh tidaknya lahan.

4. Pemilik Dos

Dos atau Selep adalah alat yang digunakan untuk memisahkan buah jagung dari tongkolnya. Dos beroda tiga dengan menggunakan bahan bakar solar. Di Desa mengger terdapat 5 orang yang memiliki Dos. Dalam melakukan penyelepan biasanya dibantu 3 pekerja. Setiap panen para pemilik dos juga panen uang yang tidak sedikit. Setiap satu karung jagung yang berukuran kecil, petani harus membayar Rp2000 dan karung besar Rp3000.

Kegiatan penduduk selain menggarap tanah baon adalah menyediakan pakan ternak. Adanya peraturan dari Perum Perhutani bahwa hutan terlarang untuk pengggembalaan ternak membuat petani kesulitan dalam penyediaan pakan ternak. Sapi, kerbau dan kambing dilarang digembalakan di hutan dengan alasan bahwa akan merusak hutan yang sebagian besar didominasi tanaman reboisasi yang masih kecil. Petani yang memiliki binatang dalam jumlah yang banyak, menjual sebagian binatang ternak dan hanya menyisakan 2-4 ekor. Sebelum adanya pelarangan hutan untuk lahan penggembalaan, pemilik hewan ternak berjumlah terbatas namun memiliki jumlah ternak yang banyak, yaitu antara 4 ekor hingga ada yang mempunya binatang ternak lebih dari 20 ekor. Hal ini untuk meringankan beban petani dalam mencari pakan. Pencarian pakan ternak dilakukan pada pada pagi dan sore hari.

Kandang dari binatang ternak terpisah dari rumah petani. Binatang ternak dibuatkan tempat tinggal sendiri yang disebut empok  (rumah dalam ukuran kecil). Setiap pagi petani membersihkan (nimpal) kotoran ternak. Kotoran ternak dikumpulkan tidak jauh dari kandang. Kotoran ternak yang sudah kering, pada saat kemarau akan dibawa petani ke lahan baon, sebagai penyubur tanah. Ada beberapa cara untuk mengangkut kotoran ternak yaitu setelah kotoran kering, dimasukan dalam karung (sak). Karung-karung tersebut bisa diangkut menggunakan colt, sepeda motor, sepeda, dipikul menggunakan kerenjang dan digendong.

Perekonomian petani diatur oleh istri petani. Setelah panen, uang dari penjualan hasil pertanian dipegang oleh sang istri. Istri petani menggunakan uang hasil penjualan hasil pertanian untuk membayar hutang, membeli benih dan pupuk untuk pertanian selanjutnya, mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti membeli lauk-pauk sehari-hari, memberikan uang saku anak yang sekolah, membeli peralatan memasak dsb. Keluarga petani bisa membeli baju baru dan alat-alat elektronik pada saat panen atau dari hasil penjualan ternak yang besar. Apabila sebelum panen ada pengeluaran mendadak, misalnya saja membayar uang sekolah, ada keluarga atau tetangga yang sakit, atau ada hajatan, petani meminjam uang dari tetangga. Petani yang memiliki ternak akan menjulnya untuk mendapatkan uang, ternak yang dimiliki petani dalam satu rumah tangga  ada beberapa misalnya saja ayam dan kambing atau ayam dan sapi. Sapi dan kambing tidak dijual pada bulan-bulan biasa, namun pada bulan tertentu yaitu pada bulan besaran. Pada besaran harga dari sapi dan kambing tinggi

Pendapatan penduduk Mengger dalam satu tahun tardapat beberapa pemasukan yaitu, dari hasil panen sawah yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan, dari hasil panen baon yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan yang diperlukan, dari hasil dari penjualan ternak, dan sebagian ada yang mendapatkan upah dari menjual jasanya, yaitu pembajak, tukang bangunan, dan pekerja tebu. Adanya beberapa sumber pendapatan ini berdampak bagi meningkatnya kesejahteraan penduduk.

da� mmu�)X�&a yang besar, sedangkan kelemahannya adalah membuat kesulitan bagi orang yang memasukan benih (ulur) jagung ke dalam lubang. Sedangkan cangkul kebalikan dari alat gejik.

            Ada beberapa cara tanam yang dilakukan oleh penduduk Mengger:

1) Tanah yang sudah dicangkul atau ditraktor kemudian dibuat lubang, bisa menggunakan cangkul maupun gejik. Benih jagung dimasukan kedalam lubang dan ditutup dengan tanah atau pupuk kandang. Cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan oleh penggarap baon di Mengger (Hasil wawancara dengan Latip tanggal 17 Agustus 2011).

2) Tanah yang sudah dibersihkan dari gulma atau tanaman pengganggu, tidak perlu dicangkul atau ditraktor, namun langsung dibuat lubang dari cangkul atau gejik. Benih dimasukan kedalam lubang dan ditutup tanah. Dalam menutup tanah bisa mengunakan kaki dan bisa menggunakan alat bantu, misalnya sapu dan daun. Sebagian besar menggunakan kaki untuk menutupi lubang (Hasil wawancara dengan Sudimin tanggal 3 September 2011).

Selain itu, masih ada cara lain untuk menanam jagung. Cara menanam ini yaitu tanah tidak perlu dicangkul atau ditraktor. Petani hanya membersihkan baon dengan menggunakan sabit untuk memotongi pohon dan tanaman penganggu lainnya. Rumput dan semak belukar disemprot menggunakan obat bionasa, dan dalam janagka watu beberapa hari (setelah rumput mati), digunakanlah pemotong rumput untuk membersihkan rumput. Petani mengumpulkan rumput tadi dengan menggunakan garuk yang terbuat dari besi. Rumput dan pohon yang telah dikumpulkan langsung dibakar. Setelah bersih, tanah tadi tidak perlu diolah, langsung ditanami jagung (Hasil wawancara dengan Supriyanto tanggal 11 September 2011).

Supriyanto dalam menggarap tanah baon menggunakan teknologi mesin. Teknologi itu mempermudah untuk penggarapan lahan yaitu waktu yang digunakan untuk mempersiapkan lahan lebih cepat. Cara menanam Supriyanto jarang dilakukan oleh petani lain. Cara yang digunakan Supriyanto dengan menggunakan mesin, membutuhkan modal peralatan yang tidak murah. Sebagian besar petani hanya menggunakan tenaga manusia dengan peralatan yang masih sederhana.

Penduduk Mengger menanami tanah baon dengan beberapa tanaman. Pemilihan tanaman disesuaikan dengan karakteristik tanah. Tanaman yang ditanam adalah:

a) Jagung

Jagung merupakan tanaman yang paling banyak ditanam di lahan baon. Tanaman yang tidak membutuhkan air sebanyak padi merupakan tanaman utama yang ditanam oleh penduduk Mengger. Beberapa alasan petani lebih memilih jagung sebagai tanaman utama karena cocok dengan kondisi tanah, tidak membutuhkan perawatan yang sulit, adanya jagung hibrida yang berkualitas, dan mudah dalam penjualan (Hasil wawancara dengan Dwi Sugeng Widodo tanggal 12 Agustus 2011).

Sebelumnya penanaman jagung di Desa Mengger hanya berjumlah sedikit, yaitu untuk mencukupi kebutuhan pangan di musim kemarau. Hasil dari penanaman jagung hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan, tidak untuk dijual. Jenis jagung yang ditanam adalah jagung putih. Benih jagung tidak dibeli di toko-toko, cukup meminjam atau membeli dari tetangga. Jagung yang sudah dipanen dibuat makanan pokok yang disebut sego brabuk. Sedangkan untuk saat ini jenis jagung yang ditanam oleh masyarakat merupakan jenis hibrida. Jagung jenis hibrida rasanya tidak enak untuk dibuat sego brabuk. Ada beberapa jagung hibrida yang ditanam, yaitu P21, NK, P11 dan Kuda.

b) Ketela pohon

Ketela pohon atau singkong merupakan salah satu tanaman yang juga ditanam di lahan baon. Singkong hanya berfungsi sebagai tanaman tepi, sehingga jumlahnya sedikit. Pemilihan singkong sebagai salah satu tanaman dikarenakan singkong mudah ditanam, perawatan mudah karena singkong tidak membutuhkan pupuk, dan pemanenan hingga penjualan yang mudah (Hasil wawancara dengan Suyitno tanggal 11 September 2011).

Penanaman singkong yang mudah merupakan alasan yang utama penanaman tanaman tersebut. Jangka waktu yang diperlukan untuk pemanenan singkong adalah 1 tahun. Singkong sebagian besar dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri. Singkong yang dijual dalam bentuk gaplek, yaitu singkong yang sudah dikupas kulitnya dan dijemur kering. Sedangkan yang dikonsumsi misalnya saja, pada saat pengolahan lahan pada musim tanaman kedua, apabila petani tidak membawa nasi dari rumah, petani tinggal mencabut singkong kemudian dibakar setelah itu dimakan. Singkong juga dikonsumsi oleh penduduk Mengger sebagai makananan pokok (tiwul) dan sebagai makanan ringan pada saat bersantai dengan keluarga. Daun dan kupasan kulit ketela dimanfaatkan petani untuk pakan ternak.

c)        Rumput gajah

Rumput gajah adalah jenis rumput yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Rumput gajah ditanam saat musim penghujan dengan cara menancapkan rumput gajah ke tanah. Rumput gajah ditanam di pinggir dari lahan baon.

d)       Tanaman lain

Selain jagung, ketela pohon, dan rumput gajah, di lahan baon juga ditanami beberapa tanaman lain yaitu pisang dan papaya. Sayur-sayuran seperti cabe, ceme, pare dan terong.

  1. d.   Perawatan tanaman

Perkembangan pertanian yang pesat tidak luput dari beberapa permasalahan, diantaranya adalah masalah gulma dan hama penyakit yang merusak tanaman. Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia. Banyak segi yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memacu pertumbuhan gulma, seperti penanaman dalam baris, jarak tanaman yang lebar, mekanisasi, penggunaan bahan-bahan kimia berupa pupuk dan pestisida. Beberapa contoh gulma yang mengganggu tanaman diantaranya, alang-alang dan rumput teki.

Beberapa cara yang dilakukan oleh petani dalam mengendalikan gulma dan hama penyakit, yaitu:

1)      Perawatan jagung

Jagung yang ditanam petani akan mulai terlihat tumbuh pada usia 2 atau 3 hari setelah waktu tanam. Perawatan pertama adalah melakukan pembersihan daun jati yang menutupi tanaman jagung. Apabila tanaman jagung saat baru tumbuh tertutupi oleh daun jati, akan tumbuh kurang maksimal. Setelah umur 1 minggu tanaman dipupuk dengan menggunakan pupuk urea dan phonska. Pupuk digunakan untuk mempercepat tumbuhnya tanaman. Alat yang digunakan adalah gejik  untuk membuat lubang tempat pupuk. Selang beberapa hari kemudian, petani menyiangi lahan pertanian. Alat yang digunakan adalah cangkul. Petani dalam menyiangi lahan hanya dibantu oleh istrinya (untuk lahan kurang dari 1 ha). Penyiangan ini dilakukan untuk membersihkan lahan dari tanamam pengganggu. Selain menggunakan cangkul, petani membersihkan lahan dari tanaman pengganggu menggunakan obat khusus yang berfungsi mematikan tanaman pengganggu dan menggemburkan tanah. Jenis herbisida yang digunakan adalah nokson. Pemupukan yang kedua dilakukan lagi pada saat tanaman berumur 20-30 hari. Sesudah pemupukan kedua dilakukan, petani tinggal mengawasi tanaman (ngindangi tanduran), yang dilakukan pagi atau sore hari dalam waktu yang sebentar. Apabila jagung terjangkit penyakit, misalnya banyak serangga, petani melakukan penyemprotan pestisida. Kegiatan petani selanjutnya adalah menunggu waktu panen.

2)      Perawatan ketela pohon dan rumput gajah

Tanaman ketela pohon dan rumput gajah tidak membutuhkan perawatan yang intensif. Tanaman ketela tidak membutuhkan perawatan sama sekali, sedangkan untuk rumput gajah, apabila terdapat banyak belalang disemprot dengan pestisida.

  1. e.    Pemanenan

Waktu yang diperlukan untuk tanaman siap panen adalah sekitar 95-110 hari, tergantung dari benih jagung yang ditanam. Jagung yang berumur 90 hari dibersihkan daunnya (dipocok), daun-daun jagung yang masih muda dimanfaatkan untuk makanan ternak. Pembersihan daun jagung dari pohon dilakukan oleh petani dibantu tetangga yang meminta daun jagung (wong ngarit) untuk makanan ternak. Wong ngarit tidak dibayar dengan demikian menguntungkan petani mendapatkan tenaga kerja gratis. Kebutuhan pakan ternak yang besar menyebabkan dalam waktu tidak lebih dari 1 hari, lahan seluas 1 ha, telah bersih daunnya. Jagung yang sudah dipocok, dibiarkan sekitar 1 minggu, hingga kulit jagung (klobot) benar-benar kering. Klobot yang sudah kering, menandakan jagung siap untuk dipanen (Hasil wawancara dengan Supriyanto tanggal 11 september 2011).

Panen jagung dilakukan petani pada pagi hari sekitar jam 06.30. Lahan yang luas membutuhkan tenaga bantuan yaitu dari keluarga dan kerabat juga dari pekerja harian. Keluarga atau kerabat biasanya tidak dibayar dengan uang, namun mendapat giliran dibantu pada saat panen. Pekerja harian mendapatkan upah sekitar 25 ribu hingga 45 ribu, untuk makan dan minum serta rokok sudah disediakan oleh petani pemilik lahan. Jagung dimasukkan ke dalam karung (sak) yang telah disediakan. Jagung yang sudah dipanen bisa langsung dipisahkan antara tongkol (banggal) dengan buahnya dengan menggunakan mesin pemisah yang disebut selep. Jagung bisa diselep di tempat itu juga apabila ada jalan yang cukup untuk selep bisa masuk sampai ke lahan baon. Buah jagung yang sudah terpisah dari tongkolnya dimasukkan dalam karung kemudian dijahit. Tongkol jagung (banggal) dimanfaatkan petani sebagai pengganti kayu bakar.

Pedagang jagung biasanya langsung datang ke lahan baon untuk melihat jagung yang telah diselep. Tawar menawar harga terjadi antara pedagang jagung dengan istri petani, misalnya saja jagung yang masih basah dibeli sekitaran harga Rp800-2.000/kg, yang semi-kering dibeli sekitar harga Rp1.800-2.300/kg, sedangkan jagung kering dibeli dengan harga Rp2.300-2.800/kg. Tawar-menawar biasanya jarang terjadi, harga jagung tergantung dengan harga yang ditentukan oleh pabrik (Hasil wawancara dengan Diyem tanggal 18 September 2011).

Petani yang memiliki lahan 1 ha akan mendapatkan jagung yang sudah diselep sekitar 4-7 ton.  Apabila 1 kilo dinilai dengan uang Rp2.000 petani akan mendapat bayaran uang Rp8.000.000-14.000.000. Biaya yang harus dikeluarkan petani yang memiliki lahan 1 ha yaitu benih jagung yang berkualitas sekitar 14-16 kg  dengan harga Rp60.000/kg. Selain benih petani juga memerlukan pupuk dan herbisida. Lahan baon yang luasnya 1 ha membutuhkan Bionasa sebanyak 15 liter dengan harga Rp40.000/liter. Pupuk yang digunakan adalah Urea dan Phonska total 6 kuintal dengan biaya Rp1.200.000. Biaya pemanenan meliputi biaya pekerja dan selep. 1 ha tanah baon dalam pemanenan jagung membutuhkan pekerja sebanyak 7 pekerja dengan upah Rp30.000,00/orang. Biaya selep dengan hasil  4-7 ton sekitar Rp100.000-200.000. Pendapatan petani dalam mengelola tanah baon yang memiliki luas 1 ha setelah dikurangi biaya-biaya adalah sekitar Rp5.000.000-10.000.000. Penanaman tahap awal membutuhkan biaya yang lebih banyak dibandingkan penanaman selanjutnya. Hasil panen pada saat awal membuka lahan dengan tahun berikutnya juga berbeda, pada awal pembukaan lahan hasil jagung lebih sedikit dibandingkan dengan  penanaman selanjutnya.

Hasil panen bisa langsung dijual ditempat itu juga dan bisa dibawa pulang. Di lahan baon petani membuat jalan setapak yang bisa dilewati mobil penganggkut jagung. Jalan yang terbuat dari tanah, pada saat musim penghujan sulit untuk dilewati kendaraan roda empat. Untuk mengangkut jagung ke rumah, petani membayar pengojek jagung. Satu karung biasanya dibayar Rp1.500-5.000, tergantung dari jarak baon dengan rumah petani (Hasil wawancara dengan Sujito 12 September 2011).

Pada lahan baon yang ditanami tanaman tambahan, yakni singkong, dipanen pada saat musim kemarau. Umur dari tanaman singkong yang siap panen adalah 1 tahun. Nggaplek adalah istilah untuk pemanenan ketela pohon pada saat musim kemarau. Nggaplek dilakukan satu tahun sekali. Pemanenan ketela pohon, petani dibantu oleh keluarganya. Peralatan yang digunakan adalah pengungkit yang terbuat dari kayu yang berfungsi untuk mempermudah mencabut ketela pohon, pisau dan alat pengupas tradisional yang dibuat oleh petani untuk mengupas kulit ketela pohon. Petani bersama anak laki-laki yang sudah besar bertugas mencabut singkong, sedangkan istri dan anak perempuan bertugas mengupas kulit ketela pohon. Ketela yang sudah bersih dari kulitnya dinamakan gaplek, dijemur ditempat yang telah disediakan oleh petani. Tempat menjemur gaplek terbuat dari kayu dan bambu.

Gaplek yang telah kering bisa dijual dan ada yang dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Gaplek dijual dengan kitaran harga Rp 1.000-1.500/kg. Tanah baon dengan luas 0,5- 1 ha biasanya bisa menghasilkan gaplek antara 4-6 kuintal. Gaplek yang digunakan sebagai makanan pokok setelah dijemur kering, dicuci hinggga bersih. Tahap selanjutnya adalah gaplek digiling halus dengan menggunakan mesin penghalus gaplek keliling. Gaplek yang sudah halus dimasak menjadi nasi tiwul. Selain dijadikan nasi tiwul, ketela pohon juga dijadikan sebagai makanan ringan misalnya dijadikan ketela rebus, ketela goreng, kripik ketela, tape dan gatot. Gatot adalah makanan ringan terbuat dari gaplek yang menjamur. Sedangkan untuk rumput gajah, pemanenannya berbeda dengan jagung dan ketela. Tanaman rumput gajah yang sudah berukuran lebih dari 20 cm, sudah dipotong untuk pakan ternak. Rumput gajah akan tumbuh lagi (trubus), dan kemudian dipotong lagi.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s