BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

1. Kesimpulan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis uraikan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Desa Mengger merupakan salah satu desa hutan yang terletak di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi. Desa Mengger terbagi menjadi 9 Rukun Warga (RW) dan 22 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk Desa Mengger adalah 2931 jiwa diperinci menjadi jumlah penduduk laki-laki 1413 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 1518 jiwa dengan kepala keluarga (KK) sebanyak 961 KK dan semuanya memeluk agama Islam. Penduduk sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Beberapa faktor yang mempengaruhi penduduk hanya bermata pencaharian petani yaitu, petani merupakan mata pencaharian warisan orang tua, tingkat pendidikan yang rendah, tersedianya lahan pertanian yang subur, dan penduduk lebih senang tinggal di desa. Pendidikan penduduk di Desa Mengger masih sangat rendah. Penduduk di Desa Mengger sebagian besar hanya tamatan sekolah dasar, bahkan ada yang tidak sekolah sama sekali. Pendidikan kurang menarik bagi penduduk yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Desa Mengger Kecamatan Karanganyar Kabupaten Ngawi termasuk dalam katagori desa hutan. Secara administratif, hutan di Desa Mengger tergabung dalam daerah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi yaitu Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Payak. Kedekatan serta ketergantungan masyarakat Mengger dengan hutan, menyebabkan adanya interaksi masyarakat dengan hutan di sekitarnya. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan meningkat pula kebutuhan akan lahan untuk berbagai kepentingan. Kebutuhan yang meningkat ini mengancam keberadaan hutan. Kebutuhan akan lahan yang semakin meningkat mengakibatkan pembukaan lahan hutan semakin meningkat. Pembukaan lahan disertai dengan adanya reboisasi hutan. Program PHBM dari Perum Perhutani yang bertujuan untuk mereboisasi hutan dengan melibatkan masyarakat, mendapatkan tanggapan yang antusias oleh masyarakat Mengger. Tanpa paksaan, masyarakat Mengger membuka dan menggarap lahan baon.
  2. Pengelolaan tanah baon dilakukan oleh Perum Perhutani dan penduduk Mengger. Pengelolaan tanah baon yang dilakukan oleh Perum Perhutani yaitu penyediaan bibit tanaman tegakan yaitu jati, mahoni, sambi atau gembelina dan pengawasan terhadap pertumbuhan tanaman. Penduduk di Desa Mengger juga turut dilibatkan dalam pengelolaan tanah baon. Hal ini tidak lepas dengan adanya program PHBM yang diterapkan oleh Perum Perhutani. PHBM adalah program yang diterapkan oleh Perum Perhutani untuk melakukan reboisasi terhadap hutan yang gundul dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaannya. Perhutani menerapkan Program PHBM, dikarenakan hutan memiliki fungsi ekonomi, ekologi dan sosial. Dalam fungsi sosial inilah masyarakat sekitar hutan harus diikutsertakan dalam pengelolaan hutan. Program PHBM mendapat dukungan masyarakat dikarenakan masyarakat sekitar hutan kekurangan lahan pertanian. Pengelolaan lahan dengan sistem tumpang sari, petani diwajibkan menanam tanaman pokok Perum Perhutani. Pada sela-sela tanaman pokok, para petani diperbolehkan menanam tanaman palawija yang tidak mengganggu tanaman pokok. Penggarapan yang dilakukan oleh petani hanya dalam jangka waktu terbatas, yaitu sampai tanaman tegakan tumbuh besar. Tanah baon tidak diperuntukan sebagai area perumahan dan bukan menjadi hak milik petani. Perum Perhutani menyediakan hutan sebagai lahan pertanian yang subur bagi penduduk di Mengger. Selain itu, penduduk juga harus mempersipakan lahan untuk tanaman tegakan yang didominasi jati. Pengelolaan tanah baon yang dilakukan oleh penduduk meliputi pembukaan lahan, pengolahan dan penanaman lahan, perawatan tanaman hingga pemanenan hasil pertanian.
  3. Pengelolaan tanah baon yang dilakukan oleh penduduk Mengger memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan. Hal tersebut dibuktikan dengan terpenuhinya kebutuhan  pangan, sandang dan papan masyarakat Mengger. Setelah penggarapan tanah baon, kebutuhan pangan penduduk terpenuhi. Penduduk tidak lagi mengkonsumsi nasi tiwul maupun brabuk. Sandang penduduk terpenuhi dengan pembelian pada saat panen dari hasil baon dan penjualan binatang ternak. Papan atau rumah di Desa Mengger sebagian besar terbuat dari kayu. Setelah adanya penggarapan tanah baon mulai dilakukan perbaikan rumah, misalnya saja dipondasi, lantai tidak lagi  tanah, dan pembuatan rumah semi-permanen. Kepemilikan alat-alat elektronik dan kendaraan bermotor sangat meningkat. Sebagian besar penduduk Mengger sudah memiliki televisi, handphone dan sepeda motor sendiri. Hal yang sulit ditemukan di Desa Mengger sebelum adanya pengelolaan tanah baon. Adanya tanah baon, secara tidak langsung petani harus memelihara binatang ternak khususnya sapi. Setiap rumah tangga di Mengger memelihara binatang ternak. Binatang ternak mampu mencukupi kebutuhan petani saat musim kemarau panjang yang mengakibatkan gagal panen. Tanah baon selain berhasil mencukupi kebutuhan pokok penduduk, juga mampu membuka lapangan pekerjaan baru, seperti, pembajak lahan, penanaman dan pemanenan hasil pertanian, pengojek hasil panen dan milik dos. Pengelolaan tanah baon juga berhasil menjaga kelestarian hutan. Petani merawat tanaman tegakan dengan baik. Perhutani juga mengawasi pertumbuhan tanaman tegakan, apabila terdapat tegakan yang rusak atau mati, maka Perhutani melakukan penyulaman. Kelestarian hutan sangat diperhatikan dalam pengelolaan tanah baon.
Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

2 responses »

  1. Rindy berkata:

    Like mas (Y) 🙂
    (Rindy Mengger)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s