3. Pengelolaan Baon oleh Penduduk Mengger

Tanah baon yang terdapat di sekitar Desa Mengger dimanfaatkan oleh penduduk sebagai lahan pertanian. Luas tanah baon yang dimiliki antara orang satu dengan yang lain bebeda-beda tergantung dari kepemilikan modal untuk tanam. Sebagian besar, tanah baon di Desa Mengger ditanami tanaman jagung, meskipun ada beberapa tanaman lain. Berikut ini tahap-tahap pengelolaan tanah baon yang dilakukan oleh penduduk Mengger:

a. Pembukaan lahan

Pada tahap pembukaan lahan baon, petani menentukan tanah yang akan dipilih untuk menjadi lahan pertanian. Tanah yang dipilih bisanya adalah tanah yang berwarna hitam dan datar. Tahap pembukaaan lahan meliputi:

1) Pemilihan tanah

Tanah yang dipilih sebagai lahan pertanian adalah tanah yang berwarna hitam. Letak tanah dipilih di daerah dataran rendah. Tanah yang baik untuk ditanami tidak di daerah  lereng dikarenakan daerah lereng air mudah mengalir, sehingga  tanah  menjadi cepat kering dan kurang subur. Tanah lereng juga dimanfaatkan petani untuk tanaman tertentu yang tidak membutuhkan air yang banyak misalnya saja ketela pohon dan rumput gajah.

2) Pembersihan lahan dari pepohonan

Sesudah memilih tanah, tahap selajutnya adalah pembersihan lahan pertanian dari pepohonan dan rerumputan yang mengganggu tanaman pertanian. Tanaman yang ditebang misalnya saja: sunten (pohon jati kecil yang tumbuh di sekitar pohon yang sudah ditebang), alang-alang, akasiah, lamtoro, siun, jabrutan ,dan abul-abul. Alat yang digunakan untuk membersihkan lahan tersebut biasanya sabit (arit) untuk pepohonan kecil, sedangkan untuk pepohonan yang agak besar digunakan kapak (petik). Pembersihan rumput digunakan obat-obat herbisida misalnya saja bionasa, dan sidafos.

3) Pembakaran

Pepohonan atau dedaunan yang sudah ditebang biasanya dikeringkan lalu dibakar. Ranting pohon yang berukuran agak besar, biasanya tidak ikut dibakar, akan tetapi dibawa pulang untuk dijadikan kayu bakar. Bekas dari pembakaran itu menjadi abu (awu) yang sangat menyuburkan tanaman (Hasil Wawancara dengan Latip tanggal 17 Agustus 2011).

Pembukaan lahan yang dilakukan oleh petani membutuhkan waktu kira-kira 1 bulan, namun juga bisa lebih tergantung dari luas lahan, tingkat kelebatan pohon dan jumlah pekerja. Pembukaan lahan sesudah beberapa kali panen tidak berbeda jauh dengan pada saat pertama membuka lahan. Petani tinggal membersihkan sisa-sisa batang tanaman yang ditanam serta menyemprot rumput dengan menggunakan herbisida.

Petani dalam kegiatan membuka lahan dibantu oleh istrinya. Petani berangkat ke hutan sekitar pukul 06.00, sedangkan istrinya menyusul setelah pekerjaan rumah selesai seperti memasak dan membersihkan rumah. Istri petani menyusul petani ke hutan dengan membawa sarapan (bontot), yaitu nasi dengan lauk seadanya dan air minum. Disela-sela bekerja, petani istirahat di gubuk sambil sarapan pagi. Sekitar pukul 11.00, petani menyelesaikan kegiatan membuka lahan. Sebelum pulang, petani mencari rumput untuk binatang ternak, sedangkan istri petani pulang ke rumah untuk mencuci pakaian (Hasil wawancara dengan Dwi Sugeng Widodo tanggal 12 Agustus 2011).

Anak petani turut serta dalam kegiatan pembukaan lahan. Anak laki-laki petani yang tidak sekolah, sejak pagi ikut membantu ayahnya membuka lahan. Anak perempuan petani tidak ikut ke hutan, tetapi bertugas menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Sekitar pukul 12.00, petani serta keluarganya sudah berada di rumah. Setelah mandi, petani dan keluarganya makan siang. Kegiatan petani selanjutnya adalah istirahat siang. Pukul 14.00 petani kembali ke hutan untuk melanjutkan pembukaan lahan dan pulang ke rumah pukul 18.00.

Ada juga petani yang tidak pulang ke rumah pada siang hari. Petani yang tidak pulang ke rumah di siang hari disebut ndino Sekitar pukul 11.00 petani istirahat di gubuk yang telah dibuat, namun apabila tidak mempunyai gubuk, petani beristirahat di bawah pohon besar. Pukul 17.00, petani pulang dengan membawa rumput.

b. Pengolahan lahan

Pengolahan lahan dilakukan oleh petani sesudah lahan pertanian dibersihkan dari pepohonan yang bisa mengganggu tanaman palawija. Pada saat pertama kali mengolah lahan, lahan diolah dengan menggunakan cangkul dan garpu (garbo). Setelah beberapa kali tanam, untuk mengolah lahan digunakan traktor dan bajak yang ditarik dengan hewan. Tanah digulut-gulut untuk tumbuh tanaman. Waktu yang diperlukan petani untuk mengolah lahan sangat bervariasi. Ada yang hanya 2-3 hari dengan menggunkan traktor, akan tetapi juga ada yang membutuhkan waktu berminggu-minggu apabila dikerjakan secara manual (Hasil wawancara dengan Mujianto tanggal 10 September 2011).

Alat pertanian yang digunakan cangkul dan garbo, petani juga selalu membawa sabit yang digunakan untuk memotong akar-akar tanaman yang tidak bisa dipotong dengan cangkul. Penggarapan secara manual dilakukan oleh petani yang tidak memiliki modal yang memadai. Bagi petani yang memiliki modal, dalam mengolah tanah menggunakan traktor. Penggunaan traktor menghemat waktu yang digunakan petani untuk mengolah lahan pertanian. Petani yang memiliki binatang ternak, seperti sapi atau kerbau, menggunakan binatang ternaknya untuk mengolah lahan. Sapi yang digunakan untuk mengolah lahan (mluku), bukanlah sapi yang sembarangan. Sapi yang digunakan sudah dilatih sejak kecil. Pada saat mluku, petani menyanyikan lagu-lagu jawa dan memberikan aba-aba kepada sapi, seperti herher untuk belok kiri dan jojo untuk belok kanan (Hasil wawancara dengan Lari ,nama informan, 14 Agustus 2011).

c. Penanaman lahan

Pulau Jawa mempunyai dua musim yang sangat berbeda tiap tahunnya yaitu hujan pada bulan November sampai April dan musim kemarau pada bulan Mei sampai Oktober (Mubyarto, 1977: 8). Penanaman tanaman di tanah baon dilakukan pada saat musim penghujan. Petani menggetahui kapan musim penghujan akan tiba melalui tanda-tanda alam, misalnya saja dari hembusan angin. Angin yang bertiup dari timut merupakan tanda musim kemarau sedangkan angin bertiup dari barat akan datang musim penghujan. Petani dalam satu tahun melakukan penanaman lahan sebanyak dua kali. Apabila mereka memaksakan menananm tiga kali, yaitu pada saat musim kemarau mereka tanam, hasil tidak akan maksimal, biasanya tujuan utama adalah untuk memperoleh makanan ternak. Petani menanam tanaman hanya pada musim penghujan, yaitu saat labuh dan rendeng (Hasil wawancara dengan Suyitno tanggal 11 September 2011).

            Petani harus menentukan pilihan dari berbagai tanaman yang mungkin ditanam pada bidang tanah yang telah tersedia. Penanaman lahan baon menunggu musim penghujan. Penanaman singkong dan rumput gajah sangat mudah dilakukan yaitu dengan cara menancapkan batang dari singkong atau rumput gajah di tanah. Sedangkan untuk tanaman jagung membutuhkan beberapa cara tanaman. Setelah tanah sudah dipersiapkan, maka penanaman jagung siap dimulai. Benih jagung dibeli di toko-toko maupun berhutang pada warung tetangga. Peralatan yang digunakan adalah gejik dan cangkul. Gejik adalah alat membuat lubang di tanah yang terbuat dari batang kayu. Kayu jati yang memiliki panjang sekitar 1 meter dan berdiameter 5 cm, dibuat runcing salah satu ujungnya. Fungsi dari gejik dan cangkul sama, yakni digunakan untuk membuat lubang tempat penanaman jagung. Gejik dan cangkul memiliiki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan gejik adalah dalam membuat lubang tidak membuang tenaga yang besar, sedangkan kelemahannya adalah membuat kesulitan bagi orang yang memasukan benih (ulur) jagung ke dalam lubang. Sedangkan cangkul kebalikan dari alat gejik.

            Ada beberapa cara tanam yang dilakukan oleh penduduk Mengger:

1) Tanah yang sudah dicangkul atau ditraktor kemudian dibuat lubang, bisa menggunakan cangkul maupun gejik. Benih jagung dimasukan kedalam lubang dan ditutup dengan tanah atau pupuk kandang. Cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan oleh penggarap baon di Mengger (Hasil wawancara dengan Latip tanggal 17 Agustus 2011).

2) Tanah yang sudah dibersihkan dari gulma atau tanaman pengganggu, tidak perlu dicangkul atau ditraktor, namun langsung dibuat lubang dari cangkul atau gejik. Benih dimasukan kedalam lubang dan ditutup tanah. Dalam menutup tanah bisa mengunakan kaki dan bisa menggunakan alat bantu, misalnya sapu dan daun. Sebagian besar menggunakan kaki untuk menutupi lubang (Hasil wawancara dengan Sudimin tanggal 3 September 2011).

Selain itu, masih ada cara lain untuk menanam jagung. Cara menanam ini yaitu tanah tidak perlu dicangkul atau ditraktor. Petani hanya membersihkan baon dengan menggunakan sabit untuk memotongi pohon dan tanaman penganggu lainnya. Rumput dan semak belukar disemprot menggunakan obat bionasa, dan dalam janagka watu beberapa hari (setelah rumput mati), digunakanlah pemotong rumput untuk membersihkan rumput. Petani mengumpulkan rumput tadi dengan menggunakan garuk yang terbuat dari besi. Rumput dan pohon yang telah dikumpulkan langsung dibakar. Setelah bersih, tanah tadi tidak perlu diolah, langsung ditanami jagung (Hasil wawancara dengan Supriyanto tanggal 11 September 2011).

Supriyanto dalam menggarap tanah baon menggunakan teknologi mesin. Teknologi itu mempermudah untuk penggarapan lahan yaitu waktu yang digunakan untuk mempersiapkan lahan lebih cepat. Cara menanam Supriyanto jarang dilakukan oleh petani lain. Cara yang digunakan Supriyanto dengan menggunakan mesin, membutuhkan modal peralatan yang tidak murah. Sebagian besar petani hanya menggunakan tenaga manusia dengan peralatan yang masih sederhana.

Penduduk Mengger menanami tanah baon dengan beberapa tanaman. Pemilihan tanaman disesuaikan dengan karakteristik tanah. Tanaman yang ditanam adalah:

a) Jagung

Jagung merupakan tanaman yang paling banyak ditanam di lahan baon. Tanaman yang tidak membutuhkan air sebanyak padi merupakan tanaman utama yang ditanam oleh penduduk Mengger. Beberapa alasan petani lebih memilih jagung sebagai tanaman utama karena cocok dengan kondisi tanah, tidak membutuhkan perawatan yang sulit, adanya jagung hibrida yang berkualitas, dan mudah dalam penjualan (Hasil wawancara dengan Dwi Sugeng Widodo tanggal 12 Agustus 2011).

Sebelumnya penanaman jagung di Desa Mengger hanya berjumlah sedikit, yaitu untuk mencukupi kebutuhan pangan di musim kemarau. Hasil dari penanaman jagung hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan, tidak untuk dijual. Jenis jagung yang ditanam adalah jagung putih. Benih jagung tidak dibeli di toko-toko, cukup meminjam atau membeli dari tetangga. Jagung yang sudah dipanen dibuat makanan pokok yang disebut sego brabuk. Sedangkan untuk saat ini jenis jagung yang ditanam oleh masyarakat merupakan jenis hibrida. Jagung jenis hibrida rasanya tidak enak untuk dibuat sego brabuk. Ada beberapa jagung hibrida yang ditanam, yaitu P21, NK, P11 dan Kuda.

b) Ketela pohon

Ketela pohon atau singkong merupakan salah satu tanaman yang juga ditanam di lahan baon. Singkong hanya berfungsi sebagai tanaman tepi, sehingga jumlahnya sedikit. Pemilihan singkong sebagai salah satu tanaman dikarenakan singkong mudah ditanam, perawatan mudah karena singkong tidak membutuhkan pupuk, dan pemanenan hingga penjualan yang mudah (Hasil wawancara dengan Suyitno tanggal 11 September 2011).

Penanaman singkong yang mudah merupakan alasan yang utama penanaman tanaman tersebut. Jangka waktu yang diperlukan untuk pemanenan singkong adalah 1 tahun. Singkong sebagian besar dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri. Singkong yang dijual dalam bentuk gaplek, yaitu singkong yang sudah dikupas kulitnya dan dijemur kering. Sedangkan yang dikonsumsi misalnya saja, pada saat pengolahan lahan pada musim tanaman kedua, apabila petani tidak membawa nasi dari rumah, petani tinggal mencabut singkong kemudian dibakar setelah itu dimakan. Singkong juga dikonsumsi oleh penduduk Mengger sebagai makananan pokok (tiwul) dan sebagai makanan ringan pada saat bersantai dengan keluarga. Daun dan kupasan kulit ketela dimanfaatkan petani untuk pakan ternak.

c) Rumput gajah

Rumput gajah adalah jenis rumput yang dimanfaatkan sebagai makanan ternak. Rumput gajah ditanam saat musim penghujan dengan cara menancapkan rumput gajah ke tanah. Rumput gajah ditanam di pinggir dari lahan baon.

d) Tanaman lain

Selain jagung, ketela pohon, dan rumput gajah, di lahan baon juga ditanami beberapa tanaman lain yaitu pisang dan papaya. Sayur-sayuran seperti cabe, ceme, pare dan terong.

d. Perawatan tanaman

Perkembangan pertanian yang pesat tidak luput dari beberapa permasalahan, diantaranya adalah masalah gulma dan hama penyakit yang merusak tanaman. Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tidak diinginkan oleh manusia. Banyak segi yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memacu pertumbuhan gulma, seperti penanaman dalam baris, jarak tanaman yang lebar, mekanisasi, penggunaan bahan-bahan kimia berupa pupuk dan pestisida. Beberapa contoh gulma yang mengganggu tanaman diantaranya, alang-alang dan rumput teki.

Beberapa cara yang dilakukan oleh petani dalam mengendalikan gulma dan hama penyakit, yaitu:

1) Perawatan jagung

Jagung yang ditanam petani akan mulai terlihat tumbuh pada usia 2 atau 3 hari setelah waktu tanam. Perawatan pertama adalah melakukan pembersihan daun jati yang menutupi tanaman jagung. Apabila tanaman jagung saat baru tumbuh tertutupi oleh daun jati, akan tumbuh kurang maksimal. Setelah umur 1 minggu tanaman dipupuk dengan menggunakan pupuk urea dan phonska. Pupuk digunakan untuk mempercepat tumbuhnya tanaman. Alat yang digunakan adalah gejik  untuk membuat lubang tempat pupuk. Selang beberapa hari kemudian, petani menyiangi lahan pertanian. Alat yang digunakan adalah cangkul. Petani dalam menyiangi lahan hanya dibantu oleh istrinya (untuk lahan kurang dari 1 ha). Penyiangan ini dilakukan untuk membersihkan lahan dari tanamam pengganggu. Selain menggunakan cangkul, petani membersihkan lahan dari tanaman pengganggu menggunakan obat khusus yang berfungsi mematikan tanaman pengganggu dan menggemburkan tanah. Jenis herbisida yang digunakan adalah nokson. Pemupukan yang kedua dilakukan lagi pada saat tanaman berumur 20-30 hari. Sesudah pemupukan kedua dilakukan, petani tinggal mengawasi tanaman (ngindangi tanduran), yang dilakukan pagi atau sore hari dalam waktu yang sebentar. Apabila jagung terjangkit penyakit, misalnya banyak serangga, petani melakukan penyemprotan pestisida. Kegiatan petani selanjutnya adalah menunggu waktu panen.

2) Perawatan ketela pohon dan rumput gajah

Tanaman ketela pohon dan rumput gajah tidak membutuhkan perawatan yang intensif. Tanaman ketela tidak membutuhkan perawatan sama sekali, sedangkan untuk rumput gajah, apabila terdapat banyak belalang disemprot dengan pestisida.

e. Pemanenan

Waktu yang diperlukan untuk tanaman siap panen adalah sekitar 95-110 hari, tergantung dari benih jagung yang ditanam. Jagung yang berumur 90 hari dibersihkan daunnya (dipocok), daun-daun jagung yang masih muda dimanfaatkan untuk makanan ternak. Pembersihan daun jagung dari pohon dilakukan oleh petani dibantu tetangga yang meminta daun jagung (wong ngarit) untuk makanan ternak. Wong ngarit tidak dibayar dengan demikian menguntungkan petani mendapatkan tenaga kerja gratis. Kebutuhan pakan ternak yang besar menyebabkan dalam waktu tidak lebih dari 1 hari, lahan seluas 1 ha, telah bersih daunnya. Jagung yang sudah dipocok, dibiarkan sekitar 1 minggu, hingga kulit jagung (klobot) benar-benar kering. Klobot yang sudah kering, menandakan jagung siap untuk dipanen (Hasil wawancara dengan Supriyanto tanggal 11 september 2011).

Panen jagung dilakukan petani pada pagi hari sekitar jam 06.30. Lahan yang luas membutuhkan tenaga bantuan yaitu dari keluarga dan kerabat juga dari pekerja harian. Keluarga atau kerabat biasanya tidak dibayar dengan uang, namun mendapat giliran dibantu pada saat panen. Pekerja harian mendapatkan upah sekitar 25 ribu hingga 45 ribu, untuk makan dan minum serta rokok sudah disediakan oleh petani pemilik lahan. Jagung dimasukkan ke dalam karung (sak) yang telah disediakan. Jagung yang sudah dipanen bisa langsung dipisahkan antara tongkol (banggal) dengan buahnya dengan menggunakan mesin pemisah yang disebut selep. Jagung bisa diselep di tempat itu juga apabila ada jalan yang cukup untuk selep bisa masuk sampai ke lahan baon. Buah jagung yang sudah terpisah dari tongkolnya dimasukkan dalam karung kemudian dijahit. Tongkol jagung (banggal) dimanfaatkan petani sebagai pengganti kayu bakar.

Pedagang jagung biasanya langsung datang ke lahan baon untuk melihat jagung yang telah diselep. Tawar menawar harga terjadi antara pedagang jagung dengan istri petani, misalnya saja jagung yang masih basah dibeli sekitaran harga Rp800-2.000/kg, yang semi-kering dibeli sekitar harga Rp1.800-2.300/kg, sedangkan jagung kering dibeli dengan harga Rp2.300-2.800/kg. Tawar-menawar biasanya jarang terjadi, harga jagung tergantung dengan harga yang ditentukan oleh pabrik (Hasil wawancara dengan Diyem tanggal 18 September 2011).

Petani yang memiliki lahan 1 ha akan mendapatkan jagung yang sudah diselep sekitar 4-7 ton.  Apabila 1 kilo dinilai dengan uang Rp2.000 petani akan mendapat bayaran uang Rp8.000.000-14.000.000. Biaya yang harus dikeluarkan petani yang memiliki lahan 1 ha yaitu benih jagung yang berkualitas sekitar 14-16 kg  dengan harga Rp60.000/kg. Selain benih petani juga memerlukan pupuk dan herbisida. Lahan baon yang luasnya 1 ha membutuhkan Bionasa sebanyak 15 liter dengan harga Rp40.000/liter. Pupuk yang digunakan adalah Urea dan Phonska total 6 kuintal dengan biaya Rp1.200.000. Biaya pemanenan meliputi biaya pekerja dan selep. 1 ha tanah baon dalam pemanenan jagung membutuhkan pekerja sebanyak 7 pekerja dengan upah Rp30.000,00/orang. Biaya selep dengan hasil  4-7 ton sekitar Rp100.000-200.000. Pendapatan petani dalam mengelola tanah baon yang memiliki luas 1 ha setelah dikurangi biaya-biaya adalah sekitar Rp5.000.000-10.000.000. Penanaman tahap awal membutuhkan biaya yang lebih banyak dibandingkan penanaman selanjutnya. Hasil panen pada saat awal membuka lahan dengan tahun berikutnya juga berbeda, pada awal pembukaan lahan hasil jagung lebih sedikit dibandingkan dengan  penanaman selanjutnya.

Hasil panen bisa langsung dijual ditempat itu juga dan bisa dibawa pulang. Di lahan baon petani membuat jalan setapak yang bisa dilewati mobil penganggkut jagung. Jalan yang terbuat dari tanah, pada saat musim penghujan sulit untuk dilewati kendaraan roda empat. Untuk mengangkut jagung ke rumah, petani membayar pengojek jagung. Satu karung biasanya dibayar Rp1.500-5.000, tergantung dari jarak baon dengan rumah petani (Hasil wawancara dengan Sujito 12 September 2011).

Pada lahan baon yang ditanami tanaman tambahan, yakni singkong, dipanen pada saat musim kemarau. Umur dari tanaman singkong yang siap panen adalah 1 tahun. Nggaplek adalah istilah untuk pemanenan ketela pohon pada saat musim kemarau. Nggaplek dilakukan satu tahun sekali. Pemanenan ketela pohon, petani dibantu oleh keluarganya. Peralatan yang digunakan adalah pengungkit yang terbuat dari kayu yang berfungsi untuk mempermudah mencabut ketela pohon, pisau dan alat pengupas tradisional yang dibuat oleh petani untuk mengupas kulit ketela pohon. Petani bersama anak laki-laki yang sudah besar bertugas mencabut singkong, sedangkan istri dan anak perempuan bertugas mengupas kulit ketela pohon. Ketela yang sudah bersih dari kulitnya dinamakan gaplek, dijemur ditempat yang telah disediakan oleh petani. Tempat menjemur gaplek terbuat dari kayu dan bambu.

Gaplek yang telah kering bisa dijual dan ada yang dimanfaatkan sebagai makanan pokok. Gaplek dijual dengan kitaran harga Rp 1.000-1.500/kg. Tanah baon dengan luas 0,5- 1 ha biasanya bisa menghasilkan gaplek antara 4-6 kuintal. Gaplek yang digunakan sebagai makanan pokok setelah dijemur kering, dicuci hinggga bersih. Tahap selanjutnya adalah gaplek digiling halus dengan menggunakan mesin penghalus gaplek keliling. Gaplek yang sudah halus dimasak menjadi nasi tiwul. Selain dijadikan nasi tiwul, ketela pohon juga dijadikan sebagai makanan ringan misalnya dijadikan ketela rebus, ketela goreng, kripik ketela, tape dan gatot. Gatot adalah makanan ringan terbuat dari gaplek yang menjamur. Sedangkan untuk rumput gajah, pemanenannya berbeda dengan jagung dan ketela. Tanaman rumput gajah yang sudah berukuran lebih dari 20 cm, sudah dipotong untuk pakan ternak. Rumput gajah akan tumbuh lagi (trubus), dan kemudian dipotong lagi.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s