1.  Sejarah Museum Kebangkitan Nasional

Museum Kebangkitan Nasional yang kini masih berdiri kokoh di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh No 26. Jakarta Pusat; menjadi saksi tumbuhnya rasa nasionalisme para pelajar Indonesia yang saat itu dikenal sebagai pribumi atau bumiputera. Bangunan di atas lahan 14.000 meter persegi ini dulu bernama Gedung Slovla. Gedung inilah para pemuda terpelajar Indonesia mendirikan organisasi pergerakan nasional Budi Utomo tepatnya pada 20 Mei 1908. Oleh karenanya, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pelopor Budi Utomo antara lain dr Sutomo. dr Cipto mangunkusumo, dr Wahidin Sudirohusodo, dan dr Setiabudi (Douwes Dekker). Kemunculan organisasi ini. Dalam catatan sejarah dianggap sebagai tonggak penting dalam proses terbentuknya kesadaran nasional untuk melawan penjajah Belanda. Gedung tua ini adalah bekas sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda untuk orang-orang pribumi bernama STOVIA (SchoolTot Oplelding Van lnlandsche Arsten) dan selesai dibangun pada tahun 1901.

Pada masa pendudukan Jepang di Tanah-Air tahun 1942, gedung eks Stovia ini difungsikan sebagai penjara bagi tentara Belanda yang menjadi tawanan perang. Pada tahun 1920 pendidikan Stovia dipindahkan ke Gedung baru, di Jalan Salemba No 6 yang sampai saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, karena gedung lama tidak memenuhi syarat lagi untuk pendidikan kedokteran.Kemudian, tahun 1925 Gedung Stovia digunakan untuk pendidikan MULO (setingkatSMP), AMS (setingkat SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Sekolah ini berlangsung sampai tahun 1942, karena sejak kedatangan tentara Jepang (1942-1945) gedung ini digunakan untuk tempat penampungan bekas tentara Belanda (sebagai tawanan perang). Selama masa pendudukan Jepang, gedung bekas STOVIA ini dipergunakan oleh tentara Jepang sebagai tempat tahanan bagi tentara Belanda yang tertangkap.

Setelah Indonesia merdeka, gedung tua bekas sekolah STOVIA tersebut masih berdiri kokoh dan baru direnovasi oleh Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 6 April 1973. Setelah beberapa lama, gedung ini diresmikan oleh Presiden Soeharto menjadi Gedung Kebangkitan Nasional, dan pada tanggal 27 September 1982 pengelolaannya dialihkan dari Pemerintah DKI Jakarta kepada Pemerintah Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Dengan kewenangan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui SK Mendikbud No. 030/0/1984 akhirnya menetapkan penyelenggaraan sebuah museum di dalam Gedung Kebangkitan Nasional dengan nama Museum Kebangkitan Nasional.

2. Koleksi Museum Kebangkitan Nasional

Secara umum, museum ini memamerkan berbagai benda-benda sejarah yang berhubungan dengan sejarah Kebangkitan Nasional, seperti dokumen, kamera, peralatan, benda, pakaian, senjata, replika, patung, foto, lukisan, diorama, vandel, dan film. Koleksi-koleksi ini tertata rapi dalam tujuh ruang pamer koleksi, yaitu

a.   Ruang Pengenalan

Berisi tentang penggambaran masuknya kedatangan bangsa barat di Indonesia, sampai munculnya perlawanan lokal atau yang masih bersifat kedaerahan. Ruang pengenalan berfungsi menjadi miniatur gedung dan koleksi,sehingga menjadi penuntun bagi pengunjung dalam mengetahui dan memahami secara utuh koleksi dan fungsi ruangan yang  ada di Museum Kebangkitan Nasional. Patung R. Soetomo bisa diketemukan di dekat pintu masuk arah ke sebelah kiri Museum Kebangkitan Nasional,yang terletak dalam suatu ruangan,yang tak lain adalah Ruang Pengenalan. Soetomo lahir di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888, dan lulus dari STOVIA pada 11 April 1911. Soetomo adalah salah satu pendiri dan ketua pertama perkumpulan Boedi Oetomo, yang adalah organisasi pemuda modern pertama yang lahir di Indonesia, yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1908. Tanggal itu kemudian ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

b.   Ruang Ruang Awal Pergerakan Nasional

Menggambarkan bangkitnya pergerakan nasional di Indonesia. Pada Ruang ini antara lain :

a)    Peragaan Kelas STOVIA

b)   Pembelaan HF. Roll

c)    Patung Pelajar STOVIA dari berbagai daerah di Indonesia

c.    Ruang Kesadaran Nasional

Pada ruangan ini menggambarkan tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara lewat perjuangan R.A. Kartini, Wahidin, Dewi Sartika dan sebagainya. Koleksi yang terdapat di ruangan ini antara lain : Meja Kursi makan pelajar STOVIA.

d.   Ruang Pergerakan Nasional

Ruang ini menggambarkan tentang perjalanan awal dari jalannya pergerakan Nasional di Indonesia, yang dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo, Indische Partij, Muhammadiyah dan lain sebagainya. Pada ruang ini koleksi antara lain :

a)    Diorama pertemuan Wahidin, Sutomo dan Suradji

b)   Diorama berdirinya Budi Utomo

c)    Foto-foto Organisasi Awal Kebangkitan

d)   Vandel-vandel

e)    Foto-foto organisasi Pemuda

e.    Ruang Propaganda Studie Fonds

Menggambarkan suasana pada saat pertemuan antara Wahidin dengan para pelajar STOVIA, untuk membicarakan tentang keadaan masyarakat yang pada umumnya sangat tertinggal dalam bidang pendidikan, sehingga muncullah ide pembentukan Studie Fonds. Koleksi pada ruang ini antara lain:

a)    Lukisan perjalanan Dr. Wahidin

b)   Patung Dr. Wahidin

c)    Patung pelajar STOVIA

f.     Ruang Memorial Budi Utomo

Pada ruang ini yang sebelumnya disebut sebagai ruang praktek anatomi, menjadi tempat paling bersejarah diantara ruang yang lain, karena di ruang ini Soetomo dengan kawan-kawannya mendirikan organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Koleksi pada ruang ini antara lain :

a)    Lukisan Wahidin Sudirohusodo

b)   Kerangka Manusia yang digunakan praktek pelajar STOVIA

c)    Kursi Kuliah STOVIA

d)   Patung dada pendiri Budi Utomo

e)    Foto kegiatan pelajar STOVIA

f)     Lukisan situasi perkumpulan Budi Utomo

g.   Ruang Alat-Alat Kedokteran

Menggambarkan tentang alat-alat kedokteran yang pernah digunakan oleh pelajar STOVIA. Jadi dapat di analisis bahwa Museum Kebangkitan Nasional awalnya merupakan bangunan sekolah STOVIA. Akan tetapi lambat laun bangunan ini menjadi tempat bersejarah sebagai tonggak berdirinya Organisasi Budi Utomo. Pada tahun 1920 pendidikan Stovia dipindahkan ke Gedung baru, di Jalan Salemba No 6 yang sampai saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, karena gedung lama tidak memenuhi syarat lagi untuk pendidikan kedokteran.Kemudian, tahun 1925 Gedung Stovia digunakan untuk pendidikan MULO (setingkatSMP), AMS (setingkat SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Sekolah ini berlangsung sampai tahun 1942, karena sejak kedatangan tentara Jepang (1942-1945) gedung ini digunakan untuk tempat penampungan bekas tentara Belanda (sebagai tawanan perang) Oleh karena itu, Pada April 1973, pemerintah DKI Jakarta melakukan renovasi terhadap gedung ini, dan setahun kemudian, tepatnya pada 20 Mei 1974, almarhum mantan Presiden Soeharto meresmikan gedung ini dengan memberi nama Gedung Kebangkitan Nasional.

Museum Kebangkitan Nasional adalah tempat yang baik perlu di kunjungi untuk mendapatkan pemahaman dan pembelajaran yang lebih baik tentang para tokoh dan peristiwa yang terjadi dalam masa pergerakan nasional.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s