1.  Sejarah Museum Proklamasi

Museum perumusan naskah proklamasi merupakan museum sejarah yang menjadi saksi lahirnya naskah proklamasi Indonesia. Persiapan dan perumusan naskah, pengetikan, serta pengesahan atau penandatanganan naskah proklamasi dilakukan di gedung museum. Naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 Wib, oleh Ir. Soekarno diproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan pembacaan Naskah Proklamasi di halaman depan rumah kediamannya, Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta atau sekarang menjadi Jl. Proklamasi – Jakarta (Gedung Perintis Kemerdekaan).

Berdirinya museum perumusan naskah proklamasi dilatar belakangi sejarah panjang bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya. Setelah ratusan tahun hidup dalam penjajahan, akhirnya tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan negara Indonesia diproklamasikan. Peristiwa penting sejak persiapan perumusan naskah proklamasi, dirumuskannya naskah proklamasi, pengetikan, dan akhirnya pengesahan atau penandatanganan naskah proklamasi merupakan peristiwa sejarah yang mungkin hanya terjadi sekali saja dalam sejarah suatu bangsa. Berdasarkan peristiwa sejarah lahirnya naskah proklamasi bagi kemerdekaan Indonesia maka pemerintah Indonesia akhirnya mendirikan museum perumusan naskah proklamasi yang menempati gedung bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, dimana proses lahirnya naskah proklmasi terjadi di gedung tersebut.

Didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa pada waktu itu, dengan luas tanah 3.914 m2 dan luas bangunan 1.138,10 m2. Pada 1931, pemiliknya atas nama P.T. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah Perang Pasifik, gedung ini dipakai British Council General, sampai Jepang menduduki Indonesia. Pada masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Setelah Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, gedung ini tetap menjadi tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945. Setelah kekalahan Jepang gedung ini menjadi Markas Tentara Inggris.

Pemindahan status pemilikan gedung ini, terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan, dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris sampai dengan 1981. Selanjutnya gedung ini diterima oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 28 Kebudayaan 28 Desember 1981. Tahun 1982, gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran.

Gedung ini menjadi sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia, karena pada 16 – 17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Pada 1984, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto, menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasi gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Sebagai Unit Pelaksana Teknis) di bidang kebudayaan, berada dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Koleksi Museum Proklamasi

Koleksi museum perumusan naskah proklamasi diantaranya, perabot rumah tangga seperti kursi-kursi yang berada saat penyusunan, foto-foto tokoh yang menyusun naskah proklamasi, kaset, mata uang kertas, cap atau stempel, koran, lukisan, buku, poster, patung. Selain koleksi berupa benda yang berkaitan dengan proklamasi Indonesia, museum memiliki koleksi berupa ruang-ruang yang merupakan tempat proses yang melahirkan proklamasi bagi Indonesia.

Ruang-ruang yang terdapat di museum diantaranya, ruang pertama merupakan tempat peristiwa sejarah yang pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi. Setelah kembali dari Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945, Pukul 22.00 Wib, Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Soebardjo, diterima oleh Maeda di ruang ini.

Ruang kedua tempat dirumuskannya naskah proklamasi.Dini hari menjelang pukul 03.00 WIB, Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo memasuki ruang kedua ini dan mengitari meja bundar, untuk merumuskan konsep naskah proklamasi. Soekarno yang menuliskan konsep naskah proklamasi di atas secarik kertas, sedangkan Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Hal ini terlihat dari coretan – coretan yang ada.

Ruang ketiga merupakan ruang pengesahan/penandatanganan naskah proklamasi. Konsep naskah Proklamasi diutarakan oleh Soekarno kepada hadirin di ruang ini dan dibacakan secara perlahan lahan berulang – ulang dan beliau meminta persetujuan atas rumusan naskah proklamasi tersebut. Jawaban hadirin adalah setuju. Ruang keempat terdapat dibawah tangga merupakan ruang tempat pengetikan naskah proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik dengan ditemani oleh B. M. Diah. Ada perubahan tiga kata yang dilakukan Sayuti Melik pada konsep naskah proklamasi. “Tempoh” menjadi “

a.      Ruang Pra-Proklamasi Naskah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Ruang ini merupakan tempat peristiwa sejarah yang pertama dalam persiapan Perumusan Naskah Proklamasi. Setelah kembali dari Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945, pukul 22.00 WIB (sekitar pukul 23.00 menurut kesaksian Shigetada Nishijima; juru bicara dan staf Pusat Penyelidikan Ekonomi dan Politik yang diketuai oleh Laksamana Tadeshi Maeda), Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta, dan Mr.Ahmad Subardjo, diterima oleh Laksamana Maeda di ruang ini (Nishijima mengisahkan dia dan Subardjo bercakap-cakap di serambi depan, sedangkan Soekarno dan Hatta berada di kamar yang sekarang dikenal sebagai Ruang Pra-Proklamasi. Maeda kemudian turun dari lantai dua menemui Soekarno dan Hatta. Beberapa menit kemudian Subardjo dan Nishijima memasuki Ruang Pra-Proklamasi).

Note: Malam itu Soekarno, Hatta, dan Maeda sempat meninggalkan kediaman Maeda untuk menemui Mayor Jenderal Nishimura, Kepala Staf Umum Operasi Jepang di rumahnya. Pertemuan tidak berjalan baik. Kronik Revolusi Indonesia merekam sebagian percakapan antara Nishimura dan Hatta, sebagai berikut.

Nishimura: Mulai jam 13.00 tadi Jepang tak boleh mengubah status quo. Jadi tentara Jepang menjadi alat Sekutu. Sayang, Jepang tak bisa menolong para pemimpin Indonesia menyelenggarakan kemerdekaan.

Hatta: (Memperingatkan janji Jepang kepada Sukarno-Hatta-Radjiman lewat Jenderal Terauchi).

Nishimura: Tapi sekarang rapat PPKI terpaksa kami larang.

Hatta dkk.: Kalau Jepang tak bisa memenuhi janjinya, rakyat Indonesia sendiri yang akan memerdekakan dirinya. Jepang jangan menghalang-halangi.

Nishimura: Kami harus menghalangi terjadinya perubahan atas status quo.

Hatta dkk.: Apakah tentara Jepang akan menembaki Pemerintah Indonesia?

Nishimura: Apa boleh buat. Tapi sabarlah, Sekutu memperhatikan keinginan bangsa Indonesia. Kami terpaksa menjilat Sekutu.

Hatta: Apakah itu janji dan perbuatan samurai? Demi nasib yang kurang jelek? Hanya berani pada orang yang lemah? Kami akan menunjukkan, bagaimana samurai menghadapi suasana yang berubah.

Nishimura hanya menyetujui diadakannya ‘jamuan minum teh’.

Maeda pulang diam-diam. Miyoshi tertegun-tegun dalam menerjemahkan. Sesudah itu mereka ke rumah Maeda (tiba sekitar pukul dua atau menurut kesaksian Nishijima).

 b.      Ruang Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Ruang ini (ruang makan di kediaman Maeda) merupakan tempat dirumuskannya naskah proklamasi. Dini hari menjelang pukul 03.00 WIB, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo memasuki ruang ini dan mengitari meja bundar, untuk merumuskan konsep naskah proklamasi. Soekarno yang menuliskan naskah proklamasi di atas secarik kertas, sedangkan Hatta dan Ahmad Subardjo yang menyumbangkan pikirannya secara lisan. Hal ini terlihat dari coretan-coretan yang ada.

 c.       Ruang Pengesahan Naskah Proklamasi

Ruang ini merupakan ruang pengesahan/penandatanganan naskah proklamasi. Konsep naskah proklamasi diutarakan oleh Soekarno kepada hadirin di ruang ini dan dibacakan secara perlahan-lahan, berulang-ulang, dan Beliau meminta persetujuan atas rumusan naskah proklamasi tersebut. Jawaban hadirin adalah setuju.

 d.      Ruang Pengetikan Naskah Proklamasi

Setelah persetujuan dari hadirin, Soekarno meminta agar Sayuti Melik (suami S.K.Trimurti) mengetik naskah proklamasi. Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi di ruangan bawah tangga dengan ditemani oleh B.M.Diah. Konsep naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik dengan mengadakan perubahan tiga kata. ‘Tempoh’ menjadi ‘tempo’, kata-kata ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ berubah menjadi ‘atas nama bangsa Indonesia’, begitu juga dalam penulisan hari dan bulannya (‘Djakarta, 17-8-05’ menjadi ‘Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05’).

Setelah naskah proklamasi selesai diketik segera dibawa kembali ke ruang pengesahan/penandatanganan naskah proklamasi. Di ruang ini naskah proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Peristiwa ini berlangsung menjelang waktu subuh, hari Jumat, tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Setelah naskah proklamasi ditandatangani, dibicarakan mengenai tempat pembacaan naskah proklamasi dan atas pertimbangan keamanan maka Soekarno mengumumkan bahwa pembacaan naskah proklamasi diadakan di halaman depan rumah kediamannya, Jalan Pengangsaan Timur no.56 (sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan, Jl.Proklamasi), pukul 10.00 WIB.

Note: Ribuan rakyat membanjiri Lapangan Ikada karena pamflet yang diedarkan para pemuda menyebutkan pembacaan proklamasi dan upacara bendera akan dilakukan di sana. Ketika mengetahui upacara dilakukan di kediaman Bung Karno, rakyat berbondong-bondong menuju Jl.Pegangsaan Timur, namun ternyata Proklamasi Kemerdekaan telah selesai. Jadi dapat di analisis bahwa Museum Proklamasi  merupakan Gedung yang sangat penting artinya bagi bangsa Indonesia karena pada 16-17 Agustus 1945 terjadi peristiwa sejarah, yaitu perumusan naskah proklamasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0476/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang berada di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s