Satu minggu ini berlalu sangat cepat, berganti dengan hari kemudian yang sangat berbeda seratus delapan puluh derajad.

     Pagi itu Joko Tingkir bangun seperti hari biasanya. Bangun pagi momong cucuk sambil nyimeng. Hushhh salah itu kan dialog film punk in love. Bangun tidur terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Sebagai seorang pendidik, Joko Tingkir dituntuk harus sempurna baik itu tingkah laku maupun penampilan. Gembel tetaplah gembel, walaupun mandi berjam-jam Joko Tingkir tetapl seorang gembel sehingga Joko Tingkir tidak pernah mandi lebih dari lima menit. Pengecualian untuk bertemu dengan Singo, Joko Tingkir dituntut tampil tampan.

     Masuk pagi pukul enam lima belas dan harus tepat waktu, Joko Tingkir harus berangkat dari kos sekitar pukul lima tiga puluh. Joko Tingkir telah menghitung jarak kesekolahan dan berapa waktu yang harus ditempuh sekalian berapa uang yang harus dikeluarkan untuk membeli bensin. Satu minggu awal telah berlalu kini Joko Tingkir mulai hafal dengan jalan menuju sekolahan PPL. Pagi itu Joko Tingkir berangkat jam enam tiga puluh bersama kawannya, Joko lelur. Pasangan dua sejoli tersebut mengarungi jalan penuh kehati-hatian dan akhirnya sampai sekolahan juga.

     Parkir khusus mahasiswa PPL, itulah satu plang yang menunjukan tempat mahasiswa PPL memarkirkan kendaraannya. Joko Tingkir dan Joko Lelur beranjak dari tempat parkir menuju tempat peristirahatan mahasiswa PPL. Alangkah terkejutnya sepasang manusia ini, tatkala melihat pintu ruang PPL tergembok. Apa ruang PPL tersegel polisi ya? Tapi kenapa gak ada tanda police line? Pikir Joko Tingkir. Dari kejauhan nampak teman Joko Tingkir memanggilnya.

Teman PPL lain: “Ko ruangannya pindah”.

     Ternyata pada hari itu ruangan PPL dipindah. Pindah kemana? Dekat ruang guru. Apah???? Kok bisa dipindah ya? Apa gara-gara ramai? Kok di dekat ruang guru? Pertanyaan sekian banyak menghelayut dipikiran mahasiswa PPL. Perlu diingat, tingkah laku teman PPL Joko Tingkir sekaligus Joko Tingkir sangat tidak manusiawi. Dari pagi sampai siang, kerjaan mereka hanya tertawa, mentertawai kegembelan Joko Tingkir. Mereka tertawa lepas, seolah sekolahan itu milik mereka. Dipindahkannya ruang PPL disebelah ruangan guru membuat mahasiswa PPL harus berfikir dua kali untuk tertawa lebar-lebar, mungkin mereka hanya bisa tertawa dalam hati. Satu ide cemerlang dari Joko Tingkir adalah tertawa melalui SMS.

     Para mahasiswa PPL tempat Moi mengadu nasib menjadi calon guru sebagian besar humoris. Mereka senang tertawa, entah bahan apa selalu ada untuk membuat mereka tertawa. Dari ketua PPL, yang terlihat pendiam tetapi kalau tertawa sangat prima hingga trio akutansi yang tidak bisa berhenti ngomong. Trio akutansi bila sudah menyatu mungkin akan mengalahkan kepopuleran tiga serangkai, Douwes dekker, Cipto mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Trio akutansi tersebut bernama Lita, Susi dan Ayuk. Ketiganya sangat kompak untuk membuat gaduh suasana.

     Tri akutansi ternyata tidak sendiri. Ada Trio yang diam-diam tapi menakutkan yaitu Trio Sejarah. Personil Trio sejarah adalah Joko Tingkir, Camping dan Ulin. Duet Joko Tingkir dan Ulin adalah duet tersensasional di PPL. Ketiga trio sejarah tersebut tak kalah ganasnya bila dibandingkan trio akutansi, malah mereka bersinergi dalam membuat kegaduhan. Selain Tiro Akutansi dan Trio sejarah, masih ada satu trio lagi yaitu trio POK. Tapi Trio ini bersifat cuman menjadi pelengkap. Mereka yaitu david, Catur dan Greg. Dari ketiga anggota Trio tersebut, greg termasuk yang pendiam, yang hanya bisa tertawa melihat kegembelan Joko Tingkir. Walaupu sebagai pelengkap, peran mereka sangat dibutuhkan.

     Tidak mengesampingkan pihak lain yang turut serta membuat kegaduhan yaitu duo biologi, Gama dan Joko Lelur. Gama adalah mahasiswa yang cerdas, namun pada bagian-bagian tertentu masih kurang cerdas karena masih sering dipintari Joko Tingkir dan Camping. Gama adalah mahasiswa PPL tertampan dan banyak diidolai oleh siswa di SMA. Kulit putih dipadu dengan wajah imut kayak curut selaksana perfect bagi siswa SMA yang baru gede. Joko lelur orangnya sangat berbeda, dia banyak diam, tapi bila bicara sangat bermakna dan bisa membuat teman sePPLan muntah darah karena terlalu sering ketawa.

     Tokoh lain seperti duo BK, Tyas dan Juwita, tunggal putri jurusan bahasa Indonesia, entin, fantastic four sosan, yaitu Romlah, Darsini, Endent, dan Nia. Dua nama terkahir termasuk pendiam dan hanya sebagai pendengar diforum umum. Pelaku kegaduhan lainnya yaitu Linda mahasiswi PPL pasangan dari ibu ketua PPL. Duo Kimia juga turut andil dalam melaksanakan kegaduhan, Anis dan Mei. Nama terakhir apabila sudah bertemu dengan Trio Akutansi, akan membuat suasana ruang PPL terasa seperti pasar cowok. Mereka berempat sering membicarakan siswa yang cakep, itu yang membuat Joko Tingkir mati kutu karena dia jelek.

     Sudah berulang kali teguran disematkan kepada peserta PPL. Tak jemu-jemunya para guru selalu memberikan arahan agar mahasiswa PPL bisa menjadi guru yang profesional. Tapi arahan dari guru tersebut hanya berlaku satu sampai dua hari, bila lebih dari itu kumpulan gembel itu akan kembali ramai seperti biasa. Teguran lewat lisan hingga berupa tulisan tidak membuat gentar mahasiswa PPL dalam melaksanakan kegaduhan. Namanya saja baru belajar, jadi tidak bisa instan menjadi baik. Segalanya membutuhkan proses guna menjadi guru yang profesional.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

One response »

  1. annis149 mengatakan:

    Nice post…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s