“anak-anak hari ini bapak akan mengajarkan pelajaran sejarah” pak Joko Tingkir mulai membuka pelajaran hari itu, “apa kalian suka mempelajari sejarah?” tambah pak Joko Tingkir

Siswa yang pada awalnya sangat antusias pada kedatangan pak Joko Tingkir yang tampan, wajah  yang bersinar mulai meredup saat mendengar kata sejarah.

 Sekelumit cerita di atas menandakan bahwa salah satu pelajaran yang paling tidak disukai adalah sejarah. Pertanyaannya adalah ada apa kok siswa enggan belajar sejarah? Ternyata penyakit elergi pelajaran sejarah tidak hanya melanda siswa sekolah, tapi penyakit ini telah menjangkit para pemimpin kita. Pelajaran sejarah sering diperspektifkan sebagai pelajaran yang menjemukan dan tidak ada manfaatnya.

Sebelumnya. Sejarah itu apa tow???

Pertanyaan ini Nampak sederhana, akan tetapi apabila diteliti dan dikaji serta hakikatnya mengandung makna yang mendalam dan luas. Maka berikut ini dipaparkan definisi sejarah:

Perkataan sejarah mula-mula berasal dari bahasa Arab “syajaratun” (baca: syajarah) artinya pohon kayu. Pohon menggambarkan pertumbuhan terus menerus dari bumi ke udara dengan mempunyai cabang, dahan dan daun, bunga serta buah. Memang didalam kata sejarah itu tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah (Yamin, 1958:4). Begitulah sejarah yang berarti pohon, juga berarti keturunan, asal-usul atau silsilah.

Perkataan sejarah dalam Bahasa Belanda ialah geschiedenis (dari kata geschieden = terjadi). Sedangkan dalam Bahasa Inggris ialah history (berasal dari bahaya Yunani historia apa yang diketahui dari hasil penelitian). Aristoteles mengartikan historia sebagai pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam tanpa mempersoalkan susunan kronologis. Edward Hallett Carr mendefinisikan sejarah sebagai suatu proses terus menerus interaksi antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya, suau dialog tidak henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam (History is a continuous process of interaction between the historian and his fact, and unending dialogue between the present and the past). Sedangkan menurut moh Yamin, “sejarah ialah ilmu pengetahuan dengan umumnya, yang berhubungan dengan ceritera bertarikh sebgai penafsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau atau tanda-tanda lain.

Dalam tulisan ini sejarah yang dimaksud adalah sejarah sebagai ilmu. Helius Sjamsuddin menjelaskan bahwa yang dimaksud sejarah sebagai ilmu (History-as-Science) adalah suatu susunan pengetahuan (a body of knowledge) tentang peristiwa dan ceritera yang terjadi di dalam masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar sejarah.

Setelah panjang lebar mempelajari pengertian sejarah, kita kembali kepertanyaan awal. Mengapa siswa enggan untuk belajar sejarah? Ada banyak sekali factor mengenai alasan siswa enggan untuk belajar sejarah, diantaranya:

1)      Faktor dari Siswa

Materi sejarah yang dianggap sulit oleh beberapa siswa merupakan salah satu faktor yang paling utama. Siswa harus menghafal nama-nama tokoh, tahun, candi, prasasti yang begitu banyak, padahal daya ingat siswa sangat terbatas. Siswa lebih senang dengan pelajaran yang lebih ilmiah seperti matematika, kimia, dan fisika yang ada rumus pasti. Namun sebenarnya pelajaran yang lain juga menuntut siswa untuk menghafal, tapi kok mereka bisa senang dengan pelajaran itu dibandingkan dengan sejarah?? Alasannya adalah orentasi masa depan. Orang yang pandai matematika, fisika, kimia dan beberapa ilmu lain seolah mempunyai masa depan yang cerah, sedangkan orang yang senang mempelajari sejarah yang fokusnya masa lampau akan mengalami masa depan yang suram. Apakah ini benar? Jawabannya hanya allah yang tahu.

2)      Guru kurang menarik

Peran guru sangat besar dalam kegiatan belajar-mengajar. Seorang guru harus mempunyai kemampuan menarik minat siswa dalam mempelajari suatu pelajaran. Guru sejarah selama ini biasanya didominasi oleh orang-orang tua, berpenampilan apa adanya sehingga kurang menarik. Guru sejarah harus mampu menguasai materi. Kelemahan dari pelajaran sejarah, mungkin juga pelajaran yang lain,adalah masalah keterbatasan waktu. Dengan materi yang melimpah-ruah, hanya diberikan waktu sekitar 45 menit, apakah materi dapat tersampaikan?? BISA, namun dengan syarat guru menguasai materi, menggunakan metode yang sesuai dan kemampuan siswa dalam menerima materi.

     Seharusnya bagaimana cara agar bisa membuat siswa tertarik dengan pelajaran sejarah?

    Ini bisa dilakukan oleh siswa sendiri maupun dorongan dari guru. Siswa harus sering membaca, khususnya buku-buku yang berhubungan dengan sejarah. Dalam satu hari diupayakan untuk membaca. Memang sulit, karena siswa yang masih sekolah ditingkat SMP atau SMA harus belajar banyak mata pelajaran, namun sedikit-sedikit kalau sudah terbiasa siswa akan mengalami kecanduan membaca. Guru Sejarah harus bisa mengemas pelajaran sejarah sebaik mungkin agarsiswa suka denga pelajaran sejarah. Yang perlu diutamakan adalah membuat siswa suka dengan sejarah. Guru harus bisa membuat siswa menjadi CINTA SEJARAH, kalau sudah cinta, hasilnya akan baik. Asumsi dari cinta disini bukanlah cinta manusia biasa. Cinta diibaratkan seperti iman, diyakini dalam hati, diucapkkan dengan lisan dan dilakukan dalam perbuatan. Kalau siswa sudah mengalami penyakit jatuh cinta sejarah, guru tinggal memberikan obat penawar dengan materi-materi yang dikuasai.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s