Kebudayaan

Betapa pentingnya kebudayaan, dapat disimpulkan dari pendapat-pendapat dua orang antropolog yaitu Melville J. Herstkovits dan Bronislaw Malinowski yang mengemukakan pengertian Cultural determinism, yang berarti bahwa segala sesuatu terdapat didalam masyarakat ditentukan adanya oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super-organik (artinya berada di atas sesuatu badan), karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi ke generasi tetap hidup terus, meskipun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiaran. (Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar, cetakan ke-empat tahun 1970 Jakarta: yayasan penerbit universitas Indonesia. Halaman 54).

Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal dari kata Latin colere yang berarti mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colera kemudian culture diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah alam (Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi cetakan kedua. Penerbit Universita Indonesia, Jakarta, 1965, halaman 77-78).

Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi (1964 : 118) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmani (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan pada keperluan masyarakat. Rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaedah-kaedah dan nilai-nilai kemasyarakatan yang perlu untuk mengatur masalaha-masalah kemasyarakatan dalam arti luas. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir dari orang-orang yang hidup bermasyarakatan dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu penegtahuan. Rasa dan cipta dinamakan kebudayaan rohaniyah (spiritual atau immaterial culture).(Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi. 1964. Setangkati bunga sosiologi, edisi pertama. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia).

E.B Taylor menyebut kebudayaan sebagai “that complex whole which includes knowledge,belief, arts, morals, law, custom and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society”. Adham Nasution.1983. Sosiologi. Bangung: alumni . William Graham Sumner membahas kebudayaan dalam pengertian kelaziman, aturan kesusilaan, hukum tertulis dan lembaga. Kelaziman (folkways) adalah kebiasaan yang turun temurun dalam satu masyarakat, yang dipergunakan manusia dalam menyesesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Kebiasaan yang mengandung pedoman penting bagi kesejahteraan masyarakat yang disebut sebagai mores (aturan kesusilaan). Hukum tertulis adalah aturan-aturan kesusilaan yang dikodefikasikan. Lembaga (institution) adalah suatu komplek kelaziman, aturan kesusilaan ataupun peraturan-peraturan untuk mempertahankan nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan yang penting.

Ralphlinton mengatakan kebudayaan adalah seluruh jarak kehidupan dari masyarakat yang manapun dan tidak hanya mengenai sebagaian dari sejarah hidup yaitu bagian yang oleh masyarakat lebih tinggi atau lebih diinginkan. Kebudayaan merupakan cara berlaku yang dipelajari, kebudayaan tidak tergantung dari transmisi biologis atau pewarisan melalui unsur genetis (T.O.IHROMI(ed). 1990. Pokok-pokok antropologi budaya. Jakarta. PT. Gramedia. Hal 18). C. Kluckhon didalam sebuah hasil karyanya yang berjudul universal catagories of culture menunjukan adanya cultural universal yaitu:

1) peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transport dan sebagainya)

2) mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, system produksi)

3) System kemasyarakatan (system kekerabatan, organisasi politik, system hokum, system perkawinan)

4) Bahasa (lisan maupun tertulis)

5) Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya)

6) System pengetahuan

7) Relegi (system kepercayaan) (Soejono Soekanto. 1969: 57).

Kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Kebudayaan merupakan rujukan orientasi nilai, norma, aturan dan menjadi pedoman tingkah laku sehari-hari anggota masyarakat dalam hidup berkelompok dan dalam kehidupan diri sebagai pribadi. Kebudayaan berperan sebagai control masyarakat, yaitu cara yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk mengembalikan anggota masyarakat yang menyimpang kepada tingkah laku norma. Control sosial dijalankan dalam bentuk sanksi restitutif dan sanksi represif.

Sanksi restitutif adalah pemberitahuan atau teguran masyarakat kepada anggotanya yang menyimpang sehingga anggota tersebut mengetahui perbuatannya yang salah. Sanksi refresif adalah tindakan yang dilakukan terhadap anggota masyarakat yang menyimpang tersebut secara setimpal umpamanya pengusiran dari kampong tempat tinggalnya. Control sosial bersifat formal dan informal. Control sosial formal norma-norma hukumnya tertulis dan berasal dari pihak-pihak yang mempunyai kekuasaan dan wewenang formal, sedangkan pada control sosial informal norma-norma hokum tidak tertulis, seperti pendidikan, agama, kisah atau legenda (Usman Pelly & Asih menanti. 1994 : 34).

Di samping berfungsi sebagai ontrol sosial, kebudayaan juga berfungsi untuk melindungi diri terhadap alam, mengatur hubungan antar manusia, dan segenap wadah segenap perasaan manusia (Soekanto, 1990: 1999).

Soekmono (1985 : 9) menyatakan bahwa kebudayaan adalah segala ciptaan manusia yang sesungguhnya hanyalah hasil usaha untuk mengubah dan member bentuk serta susunan baru kepada pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Maka pada hakekatnya kebudayaan itu mempunyai dua segi, bagian yang tidak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain, yaitu:

a. Segi kebendaan, yang meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Hasil-hasil ini dapat diraba.

b. Segi kerohanian, terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tak dapat diraba, hanya penjelmaannya saja dapat dipahami dari keagamaan, kesenian, kemasyarakatan, dsb. (Soekmono. 1985. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius)

(#DP9#)

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s