Dikala senja itu Moi sedang menikmati acara televisi. Acara favoritnya adalah acara televisi yang berhubungan dengan olahraga. Dari olahraga sepak bola hingga catur semua dia suka. Sore itu Moi menyaksikan secara seksama salah satu pertandingan sepak bola yang disiarkan secara live oleh salah satu telivisi swasta. Pertandingan sore itu sangat sungguh tidak menarik. Permainan terlihat monoton, lebih seperti  tarkam dibandingkan liga profesional. Seorang pemain seperti orang yang baru belajar bermain bola. Teknik menggiring, mengoper, menendang bola hingga kerja sama team sangatlah buruk. Saat jenuh itu tiba-tiba handphone Moi bergetar.

“pesan baru”

Moi  membuka sms yang ada di handphone ajaibnya. 1 pesan baru itu dari teman kuliahnya, Ennong

“mo besok ke kampus apa tidak”? Tanya Ennong

“wuah, aku sibuk itu nong, lha ada acara apa tow”? jawab Moi sambil melontarkan pertanyaan

“motis sakit mo, rencananya teman-teman besok mau menjenguk, kamu ikut apa enggak?” Tanya ennong

“ikut nong, lha berangkat jam berapa? Jawab Moi sambil melontarkan pertanyaan baru

“sekitar jam 9 mo” jawab Ennong

“siap nong” Moi menyanggupi ajakan Ennong

 Senja kini berganti malam. Moi menunggu hari esok dengan penuh kesabaran. Malam itu berjalan sangat wajar seperti malam-malam sebelumnya. Setelah makan malam, menonton telivisi sambil smsan temannya mengenai rencana besok. Moi membuat planning untuk acara besok, bangun pagi mencuci sepeda motor, mandi sarapan, foto KTP elektrik, pergi ke terminal, berangkat ke kampus, menjenguk Motis, pulang ke rumah lagi. Planning acara yang sangat padat tersebut membutuhkan stamina yang kuat, oleh karena itu, Moi berniat untuk tidak begadang. Jam 9 malam harus segera tidur.

Moi bangun pagi seperti hari-hari biasanya yaitu jam 5, acara selanjutnya adalah menonton berita olahraga. Berita olahraga mulai pukul 5.30 hingga 6.30. Perut Moi sudah terasa lapar, cacing yang ada diperut Moi mulai meraung-raung. Ibu Moi jam 5 tadi sudah memasak namun belum membuat lauk dikarenakan harus membeli di pasar terlebih dahulu. Moi yang sudah kelaparan akhirnya tidak sabar menunggu ibunya dari pasar, dengan lauk seadanya Moi mulai sarapan pagi. Setelah menghabiskan nasi dua piring, Moi kembali melanjutkan menonton acara telivisi.

 Pagi itu disalahsatu televisi swasta menampilkan perform dari salah satu girl band popular di Indonesia. Demam boy band dan girl band di Indonesia benar-benar sangat luar biasa, lebih cepat menular bila dibandingkan dengan deman berdarah. Sebenarnya apa sich hebatnya girl band?? Pasti semua cowok akan bilang “ mereka cantik-cantik”. Para penggemar musik Indonesia lebih berorientasi pada penampilan fisik dibandingkan kualitas vocal. Sebenarnya seluruh tipe girl band di Indonesia bahkan di dunia bertipe sama yaitu, menggunakan baju dan celana super ketat, bila memakai rok sekitar 49 cm dari pusar, berpenampilan centil, muka penuh dengan bedak, dan masih banyak lagi kesamaan yang lain.

Deman boy band malah seharusnya membuat para orang tua resah. Perubahan anak cowok mejadi feminim akan menambah uang jajan yang harus diberikan kepada anak. Bila ada 5-10 pemuda berkumpul, alangkah baiknya segera dibubarkan karena bisa berdampak sistemik yaitu membuat boy band. Saumpama Presiden Soekarno hidup dijaman sekarang pasti jargon beliau akan berganti menjadi “sediakan 10 pemuda akan aku jadikan boy band”.

Waktu bergulir dengan cepat, hingga meninggalkan Moi yang terlena dengan pesona televisi. Ibu Moi sudah pulang dari pasar dengan membawa tas yang berisi sayuran. Ibu Moi sudah tahu rencana Moi hari ini. Melihat anaknya lupa waktu, Ibu Moi mengingatkan Moi untuk segera mandi. Moi merupakan anak yang patuh kepada orang tua dengan secepat kilat Moi sudah selesai mencuci sepeda motor dan mencuci tubuhnya alias mandi.

Jam di dinding menunjukan pukul 8.

“Apa jam segini kantor kecamatan sudah buka ya bu”? Tanya Moi

“Ya sudah, ini kan sudah jam 8” jawab Ibu Moi yang baru selesai memasak

Moi sebagai anak yang rakus mencium bau sedap dari lauk yang selesai dimasak ibunya membuat cacing yang ada diperutnya kembali kelaparan. Moi kembali mengambil piring yang belum sempat dicuci untuk kemudian menikmati makanan. Jam 8.10 Moi segera melunjur ke kantor kecamatan. Perasaan was-was mengiringi langkah Moi. Moi sudah hafal dengan tabiat birokrasi di Republik ini yang suka menelat untuk kepentingan rakyat jelata.

Sesuai dengan dugaan Moi sebelumnya. Pukul 8.20 Moi sudah memakirkan sepeda motor, Moi melihat banyak orang berkerumun di alula kecamatan. ”pasti ini orang juga mau foto” pikir Moi. Moi kemudian mendekati salah satu ibu-ibu yang merupakan tetangganya.

“mau foto tow mbah” Tanya Moi kepada ibu-ibu tadi

“iya itu mo, kamu juga mau foto?” Tanya ibu-ibu

“iya mbah, apa kantornya belum buka?” Tanya Moi

“ini sudah menunggu dari tadi, tapi petugasnya belum datang” jawab ibu-ibu

Moi menghela napas dalam-dalam, bukan dikarenakan asma melainkan merasa prihatin. Kalau menurut prosedur yang ada seharusnya petugas kecamatan harus hadir di kantor jam 8 pagi. Namun pada saat itu pukul menunjukan angka 8.30 yang hadir baru dua orang yang menyapu. Lalu pegawai yang lain mana??? Kemungkinan besar adalah terlambat. Banyak sekali penyebab terlambat salah satu yang paling sering digunakan sebagai alasan adalah macet. Tapi sebenarnya penyebabnya bukan macet pada jalan raya tapi macet diotak, karena malas.

Pegawai yang paling baik adalah guru. Dibandingkan dengan PNS lain, guru memiliki nilai yang lebih berharga. Apabila ada kenaikan gaji PNS, seharusnya paling utama adalah PNS guru. Guru mendidik murid agar kelak menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, Negara dan agama. Guru adalah teladan bagi murid-muridnya sehingga harus berpenampilan perfect. Coba bandingkan saja guru dengan pegawai lainnya?? Lebih berharga mana?

Pukul 8.45 Moi memasuki ruangan yang digunakan untuk foto. Di dalam ruangan sudah berkumpul orang-orang yang akan foto, jumlahnya hampir 20 orang. Moi kemudian termenung sebentar kalau nanti menunggu foto, jam berapa dia berangkat ke kampus. Padahal sesuai rencana, Moi dkk akan menjenguk motis pukul 9. Acara pemotretan belum dimulai Moi mengeluarkan jurus jitu untuk bisa keluar dari ruangan tersebut. Moi menyetel alarm Hp yang diberi nada getar, jadi saat semua diam, Hp Moi bergetar. Kemudian dia berpura-pura mengangkat telpon dan keluar.

Moi melanjutkan rencana yang telah dibuat semalam. Sesampainya di terminal pukul 9, ini sudah tidak sesuai rencana awal, Moi menunggu kehadiran bus yang akan membawanya ke kampus tercinta. Tidak beberapa lama, bus yang ditunggu datang juga. Moi segera masuk ke dalam bus ternyata kursi sudah dipenuhi manusia sehingga memaksa Moi untuk berdiri. Beberapa minggu ini bus langganan Moi selalu penuh penumpang, padahal banyak kasus kecelakaan yang di alami bus umum.

Perjalanan bus sering terhenti dikarenakan turun dan naiknya penumpang. Hampir separuh perjalanan Moi menggelantungkan diri pada atap bus. Tidak beberapa lama tiba-tiba ada dua orang wanita yang berdiri disebelah Moi. Wanita yang termasuk katagori menengah ke bawah ini entah ada penyebab apa tiba-tiba berdiri dekat dengan Moi. Moi tidak berani memandang wanita tersebut. Moi malah asyik dengan HPnya.

“sudah sampai mana Moi” bunyi sms Ennong

“ini sudah hampis sampai kampus nong, lha ini anak-anak pada dimana? Tanya Moi

“ini masih dikampus Mo” jawab Ennong

“hahaha, tunggu aku ya nong” balas Moi

Moi sudah sampai di depan kampus, kemudian dia SMS Ennong

“nong pada dimana” Tanya Moi

“masih dikampus mo, nunggu ableh” jawab Ennong

“yawdah, aku tunggu di kos saja ya nong” Tanya Moi

“wokey mo” jawab Ennong

Ableh, nama lengkapnya adalah Yono Suableh. Dia adalah pemuda yang sangat super gembel. Orang-orang yang menunggu Ableh pasti tidak sabar. Apabila dia ditanya sudah berangkat apa belum pasti jawabnya OTW. Ditunggu sekian lama dia belum nampak juga hampir satu jam baru datang. Benar-benar laki-laki super….super gembel

Sesampainya di kos, Moi membaringkan tubuh sejenak di kasur gembelnya. Kasur sebagai tempat tidur Moi, tidak layak disebut kasur lebih layak disebut karpet karena sangat tipis. Tidak beberapa lama mucul Kebo yang kemudian menggantikan posisi Moi di kasur. Beberapa saat kemudian muncul Mul,  teman Moi yang lain. Moi dan Mul asyik berbicang-bincang masalah sepak bola, dari liga Inggris hingga liga Indonesia. Sementara Kebo hanya mengikuti berbincang-bincang kurang lebih 10 menit selebihnya dia tidur. Jam yang ada di Hp menunjukan angka 11, ini pertanda agenda acara semula molor 2 jam. Sesaat kemudian mulailah berdatangan teman-teman Moi yang akan menjenguk Motis.

Moi dkk menuju rumah motis dengan menaiki sepeda motor berboncengan. Hari itu yang ikut menjenguk Motis selain Moi yaitu Ableh, Kur-kur, Mul, Cesi. Kebo, Boy dan Tiyem. Moi berboncengan dengan Ennong, Mul dengan Kur-kur, Ableh dengan Tiyem, Kebo dengan Cesi, dan Boy single. Sebelum berangkat menuju rumah Motis, rombongan gembel ini menyempatkan diri membeli oleh-oleh untuk Motis. Sebenarnya oleh-oleh tersebut tidak mungkin dimakan Motis. Coba dibayangkan orang sakit perut dibelikan oleh-oleh buah semangka dan melon, apa bisa sembuh? Ini merupakan sekenario jahat dari Ableh yang terkenal sangat licik. Semangka dan Melon itu pasti yang memakan orang-orang yang menjenguk bukan orang yang dijenguk.

Buah-buahan dilengkapi dengan buah jambu, kemudian laskar gembel melanjutkan perjalanan menuju rumah Motis yang berjarak cukup jauh. Jalan bekelok-kelok penuh tikungan tajam dan tanjakan membuat romatis perjalanan. Moi yang selama ini bersepeda motor di dataran rendah merasa agak kaku dengan keadaan itu. Secara berhati-hati dan pasti rombongan lascar abal-abal akhir sampai juga di rumah motis. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, pantat terasa sangat panas, untuk digunakan duduk sangat sakit. Apakah setersiksanya ini orang yang menderita ambeyen? Rombongan segera turun dari kendaraan masing-masing dan melakukan relaksasi terhadap otot-otot yang kaku ketika bersepeda.

Dari dalam rumah mucul wanita paruh baya, beliau adalah ibu dari motis. Ableh selaku sesepuh dari rombongan segera menghampiri ibu motis dan berjabat tangan disusul teman-teman lainnya.

“wuah malah merepotkan kalian” kata ibu motis dambil meyalami Ableh dan kawan-kawan

“tidak apa-apa kok bu, lha motisnya apa sudah sembuh?” Tanya Ableh, nyengir seperti kuda betina

“sudah agak mendingan, kemarin sudah periksa, ayo masuk ke dalam” kata ibu Motis mengajak rombongan gembel untuk masuk ke dalam

“iya bu, kami sudah membawa obat yang ampuh buat motis, hehehe” kata Ableh sambil melirik salah satu cewek dalam rombongan. Saumpama ini cerita sinetron di telivisi dapat dipastikan di kepala Ableh muncul dua tanduk menggantikan kuping.

 Rombongan segera masuk dalam kamar tempat Moi beristirahat. Di atas sebuah ranjang terdapat Motis yang sedang duduk memandangi kehadiran rombongan. Tampang yang gembel ditambah belum madi beberapa hari tidak mandi menambah dramatis pertemuan ini. Setelah menanyakan kabar dan menanyakan bagaimana kondisi Motis, kemudian rombongan duduk berkumpul di tikar yang telah disediakan ibu motis. Oleh-oleh yang dibawa rombongan segera diberikan kepada ibu motis untuk segera dibelah dan kemudian di santap bersama-sama.

Disatu tikar yang ukurannya tidak terlalu besar, Sembilan gembel berkumpul dan bercerita tentang keadaan yang dialami. Rasa kekeluargaan menyelimuti suasana yang ada di ruangan tersebut. Sesekali bercanda gurau dengan bahan candaan yang berganti-ganti membuat suasana sangat menyenangkan. Sesaat kemudian ibu motis menyediakan teh hangat dan kacang goreng. Mungkin untuk orang kaya makanan tersebut tidak layak, tapi untuk renkarnasi dari monyet(rombongan) makanan tersebut sangat mewah. Mereka menikmati makanan yang ada sambil bercerita tanpa ada ujungnya diselingi canda-tawa. Kacang goreng lima piring habis dalam sekejap mata. Habis kacang goreng, dikeluarkan lagi makanan dari dapur ibu Motis. Benar-benar dijamu dengan sangat super rombongan gembel tersebut.

Sebenarnya menjenguk orang sakit itu tidak membuat sembuh orang yang sakit. Belum ada ceritanya orang sakit perut dijenguk oleh teman-temannya dan kemudian sembuh. Orang sakit bisa sembuh apabila sudah waktunya sembuh tiba dengan sendirinya. Untuk mempercepat waktu sembuh maka orang perlu periksa kedokter guna mendapatkan obat, makan teratur dan cukup istirahat. Para penjenguk acapkali menjadi beban yang mempunyai rumah. Tamu-tamu ini laksana raja yang harus dilayani dan dijamu.

 Waktu tidak terasa cepat berlalu, rasanya baru saja duduk ternyata sudah hampir dua jam bersama. Memang dalam setiap waktu bersama, waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Akhirnya diputuskan rombongan akan segera kembali pulang. Di tengah-tengah perjalanan, rombongan memutuskan guna mengisi tenaga dikarenakan dari tadi pagi mereka belum makan nasi. Mencari tempat makan bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami. Bukan dikarenakan tidak ada rumah makan, tapi dikarenkan mereka mencara rumah makan secara selektif. Itu lah kesulitannyabagi orang miskin, mau makan harus menghitung uaNg yang ada Dikantong. setelah beRapa lama akhIrnya didapatkanlah rumah makan yang pas dengan kondisi kantong mereka.

Aktivitas hari ini benar-benar sangat romantis, dari berangkat hingga pulang semuanya senang dan riang gembira. Tidak tampak wajah-wajah lelah yang nampak hanya wajah-wajah penuh senyum yang sangat indah. Tepat hari ini hari valentine, hari yang konon hari kasih sayang. Kasih sayang tidak hanya kepada pasangan akan tetapi kasih sayang dalam persahabatan juga mempunyai makna yang mendalam. Valentine with abal-abal tak akan pernah terlupakan…poreper

(#DP9#)

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s