Mungkin tidak semua orang mengenal dengan kata Trinil. Kata Trinil terdengar asing dan aneh bagi sebagian orang. Namun bagi para Sejarawan dan antropologiawan, Trinil sangatlah populer. Sejak mempelajari ilmu sejarah ketika masih di bangku sekolah kita sudah dikenalkan dengan nama Trinil ini. Bahkan nama Trinil juga sangat dikenal di seluruh dunia, terutama di kalangan orang-orang yang mempunyai perhatian khusus di bidang antropologi khususnya sejarah manusia. Museum Trinil adalah tempat penyimpanan fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di Ngawi. Manusia purba yang dimaksud adalah Pithecanthropus Erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun1981.

Museum Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Jawa Timur.  Museum Trinil terletak dipinggir Sungai Bengawan Solo. Seperti halnya situs Sangiran atau situs sambung macan Sragen juga dibantaran sungai Bengawan solo. Jarak Museum dari jalan raya cukup jauh melewati persawahan dan perkempungan penduduk. Letak yang berada jauh dari jalan raya dengan didukung sarana transportasi yang kurang mengakibatkan museum Trinil lurang populer sebagai objek wisata.

Arti Trinil ini konon berasal dari pemberian nama oleh Eugene Dubois seorang berkebangsaan Belanda. Beliau adalah orang pertama yang menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di utara kota Ngawi, di Desa Karang Tengah. Pithecanthropus Erectus inilah yang kemudian diyakini sebagai jawaban atas missing link dari rangkaian teori evolusi Darwin. Kata TRI diambil karena lokasi tersebut berada di antara tiga desa. Di sebelah timur aliran sungai Bengawan Solo itu adalah Desa Ngancar. Sedangkan di sebelah barat ada Desa Kawu. Dan di sebelah utara terdapat Desa Gumarang. Sementara kata NIL karena dulunya para kompeni itu menyebut sungai itu dengan nama NIL. Maka diambillah nama Trinil itu, jadi Trinil itu sebenarnya merupakan nama sebuah situs. Dalam beberapa buku sejarah ada yang menyebutkan bahwa Trinil adalah nama sebuah desa, padahal itu tidak benar. Yang benar adalah sebuah situs yang bernama Trinil dan kemudian menjadi nama sebuah museum yaitu Museum Trinil. Kabarnya fosil temuan Eugene Dubois yang lahir di kota Eijsden, Belanda pada 28 Januari 1858 itu terdiri dari tiga jenis fragment. Yaitu berupa gigi geraham dan atap tengkorak yang ditemukan pada 1891 dan tulang paha yang ditemukan setahun kemudian (1892). Penemuan ini tidak berlangsung bersamaan karena setelah penemuan pertama sungai Bengawan Solo meluap, sehingga pencarian dihentikan. Setahun kemudian baru ditemukan kembali fragment tulang paha yang jaraknya sekitar 12 meter dari titik penemuan pertama. Dimungkinkan hal ini terjadi karena gerakan dari lapisan bumi. Fosil asli temuan Eugene Dubois kabarnya sekarang berada di Belanda, sementara yang di Museum Trinil ini hanya replikanya saja. Semua fosil yang berada di museum ini merupakan replika, mengingat nilainya yang sangat tinggi hingga tak ada yang berani meletakkan di museum ini. Kalau pun ada fosil manusia yang ditemukan biasanya langsung dibawa ke museum Suaka di Trowulan.

Trinil sendiri sangat terkenal di luar negeri seperti Belanda, Perancis, Kanada dan negara lainnya. Terlebih bila dilihat dari sisi sejarahnya yang sangat terkenal. Jadi tidak aneh bila para pengunjung yang datang, terutama sebelum krisis moneter menimpa, adalah pengunjung yang berasal dari luar negeri. Kabarnya ada wisatawan dari Jerman yang sering berkunjung ke museum ini. Tetapi setelah krisis moneter melanda, jumlah wisatawan asing yang datang menurun drastis. Yang ada sekarang hanya satu-dua saja, seperti dari Belanda, Australia dan Jepang. Konon mereka datang hanya sekedar untuk penelitian. Yang diteliti tentu saja fosil binatang yang ada di sana, sementara untuk fosil manusia biasanya mereka hanya meneliti lokasi penemuannya saja.

Museum yang berdiri di atas lahan seluas 3 hektar itu, diresmikan Gubernur Jatim Soelarso, pada 20 Nopember 1991. Kini di bawah kelolah Balai Pelestarian Purbakala (BP-3) Trowulan, Mojokerto. Dan situs ini dibangun atas prakarsa dari Teuku Jacob, seorang ahli antropologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

#DP9 & WK#

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

One response »

  1. […] oleh bapakku itu ladang berpindah mirip seperti milik Pithecanthropus Erectus yang berasal dari Trinil, Ngawi. Tapi dengan ladang berpindah tersebut, beliau berhasil menyekolahkanku hingga sejauh ini. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s