Wayang

A. Sejarah Wayang

Buku-buku Jawa Kuno memuat permulaan adanya wayang. Dalam buku itu dinyatakan bahwa wayang adalah gambaran fantasi tentang bayangan manusia (Jawa: ayang-ayang). Perkembangan berikutnya wayang diartikan sebagai bayang-bayang boneka yang dimainkan di atas layar putih. Pengertian itu telah menunjuk pada boneka dua dimensi yaitu boneka wayang kulit (Suwaji Bastomi, 1996: 1).

Tinjuan dari sisi lain didasarkan pada anggapan bahwa orang Jawa jaman dahulu yaitu pada jaman neolitikum kira-kira pada tahun 500 sebelum Masehi mulai menaruh kepercayaan kepada roh nenek moyang bagi orang yang telah meninggal. Roh dianggap  dapat memberi pertolongan dan perlindungan kepada setiap kehidupan. Oleh karena itu anak cucu yang masih hidup dalam usaha memajukan kehidupan keluarga di lingkungannya mereka menyembah kepada roh nenek moyang (Suwaji Bastomi, 1996: 1).

Atas dasar keyakinan tersebut maka roh nenek moyang dapat diundang untuk datang di tengah-tengah keluarga anak cucu. Kehadirannya dapat diharapkan akan memberi pengaruh berkah kepada anak cucu yang masih hidup. Pikiran dan anggapan seperti itulah yang mendorong orang Jawa membuat bayangan roh sehingga seolah-olah orang dapat berjumpa dengan roh nenek moyang yang telah meninggal (Suwaji Bastomi, 1996: 1).

Dengan segala macam cara orang berusaha menahan roh nenek moyang untuk sementara dalam bayangan yang telah mereka buat tadi. Cara-cara yang ditempuh untuk menahan roh nenek moyang tersebut dengan memilih:

  1. Tempat khusus, yaitu di dalam rumah tempat tinggal keluarga yang dianggap gaib. Misalnya pendapa, pringgitan, mungkin juga di lingkungan alam terbuka yang dianggap gaib misalnya di sendang (kolam yang bermata air) yang berada dibawah pohon rindang.
  2. Waktu Khusus, yaitu waktu yang dianggap gaib seirama dengan gerak jiwa serta alamnya. Misalnya pada waktu tengah malam pada saat roh nenek moyang sedang mengembara.
  3. Orang Sakti, yaitu orang yang mampu berhubungan dengan hal-hal gaib antara lain pendeta, tokoh masyarakat, syaman, dukun, atau dalang (Suwaji Bastomi, 1996: 2)

Atas dasar kepercayaan kepada roh nenek moyang maka wayang dapat diartikan sebagai bayangan roh nenek moyang. Untuk memvisualisasikan atau menyatakan bayangan roh dibuatlah boneka yang diproyeksikan pada sehelai layar putih. Boneka berfungsi sebagai tempat sementara roh yang datang, sedangkan bayangan boneka sebagai bayangan roh yang tinggal sementara di dalam boneka.

Dasar penciptaan wayang adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Mula-mula bayangan roh nenek moyang digoreskan pada daun tal (Jawa: rontal) berupa gambar garis. Alat untuk menggambar adalah paku runcing. Bekas goresan paku diusap dengan jelaga (asap lampu minyak) sehingga gambar berwarna hitam dan menjadi jelas. Gambar pada rontal berukuran tinggi 2,5 cm, sesuai dengan ukuran lebar rontal. Gambar tersebut mula-mula hanya dipertunjukkan kepada lingkungan terbatas yakni lingkungan keluarga saja, penuturnya adalah kepala keluarga. Kebiasaan ini terjadi lebih kurang pada tahun 779. Bahasa yang digunakan oleh penutur adalah bahasa Jawa sederhana belum dipengaruhi oleh bahasa sansekerta (Suwaji Bastomi, 1996: 3)

Gagasan tentang wayang telah ada sebelum kebudayaan Hindu masuk ke Jawa, sehingga dikatakan bahwa wayang merupakan ciptaan asli orang Jawa. Dasar penciptaannya adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang datang dari roh nenek moyang. Kepercayaan itu disebut kepercayaan animism (Suwaji Bastomi, 1996: 1-4).

 B. Pengertian Wayang

Arti harfiah dari wayang adalah “bayangan” tetapi dalam perjalanan waktu pengertian wayang tersebut berubah dan kini wayang dapat berarti pertunjukan panggung atau teater atau dapat pula berarti aktor dan aktris. Wayang sebagai seni teater berarti pertunjukan panggung dimana sutradara ikut bermain. Jadi berbeda dari sandiwara atau film dimana sutradara tidak muncul sebagai pemain. Adapun sutradara dalam pertunjukan wayang dikenal sebagai dalang yang perananya dapat mendominasi pertunjukan pertunjukan (Pandam Guritno, 1988: 7).

Wayang sebagai hasil prestasi puncak masa lalu para leluhur yang bertempat tinggal di pulau Jawa dengan demikian dapat dianggap sebagai warisan budaya Indonesia yang patut dijadikan milik bersama. Di akui sedemikian karena isi kandungannya, baik berupa etika maupun estetikanya, tahan uji selama berabad-abad, dan tidak henti-hentinya memukau perhatian orang-orang di dalam maupun di luar negeri (Pandam Guritno, 1988: 8).

Dilihat  dari  sudut  pandang  keistilahan  ada  beberapa  pendapat mengenai  asal  kata wayang.  Pendapat  pertama mengatakan wayang  berasal dari kata wayangan atau bayangan yaitu sumber ilham, yang maksudnya yaitu ide  dalam  menggambar  wujud  tokoh.  Sedangkan  pada  pendapat  kedua mengatakan kata wayang berasal dari Wad dan Hyang, artinya leluhur (Pandam Guritno, 1988: 11).

Istilah wayang sendiri menurut G. A. J Hazeu yang dikutip oleh Sri Mulyono (1988: 16) bahwa wayang dalam bahasa Jawa berarti “bayangan” dalam bahasa melayu disebut “baying-bayang”, dalam bahasa Aceh “boyang”, dalam bahasa Bugis “wayang atau bayang”, dalam bahasa Bikol dikenal kata “baying” artinya burung yaitu apa yang dilihat dengan nyata. Akar kata dari wayang adalah “yang”. Akar kata ini bervariasi dengan “yung”, “yong” antara lain terdapat dalam kata “laying terbang”.

Dalam  pengertian  luas  wayang  bisa  mengandung  makna  gambar, boneka  tiruan manusia  yang  terbuat  dari  kulit,  kardus,  seng, mungkin  kaca serat (fibre-glass), atau bahan dwimatra lainnya, dan dari kayu pipih maupun bulat torak tiga dimensi. Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada  tanggal 7 November 2003, sebagai  karya  kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang  indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) (http://www. Pengertian Wayang. co.id di unduh tanggal 30  Juni  2011  pukul 11.18 WIB).

Ada  versi  wayang  yang  dimainkan  oleh  orang  dengan  memakai kostum,  yang  dikenal  sebagai  wayang  orang,  dan  ada  pula  wayang  yang berupa  sekumpulan  boneka  yang  dimainkan  oleh  dalang.  Wayang  yang dimainkan  dalang  ini  diantaranya  berupa  wayang  kulit  atau  wayang  golek. Cerita  yang  dikisahkan  dalam  pagelaran  wayang  biasanya  berasal  dari Mahabharata dan Ramayana  (http://www. Pengertian Wayang. co.id di unduh tanggal 30  Juni  2011  pukul 11.18 WIB).

Arti wayang menurut istilah yang diberikan oleh The Piqued yang dikutip Effendy Zarkasi (1977: 37) ialah:

  1. Boneka yang dipertunjukan (wayangnya itu sendiri)
  2. Pertunjukannya, dihidangkan dalam berbagai bentuk terutama yang mengandung pelajaran (wejang-wejangan, yaitu wayang purwa atau wayang kulit. Pertunjukan itu dihantarkan dengan teratur oleh gamelan atau instrument slendro)

Banyak orang yang memberikan predikat yang berlebihan bahwa wayang sebagai seni klasik tradisional adiluhung yaitu suatu nilai budaya yang dihayati dan dijunjung tinggi sepanjang masa oleh satu generasi ke generasi berikutnya. Predikat tersebut memberikan pengertian bahwa wayang adalah suatu bentuk seni pentas tradisional yang berdimensi dan berfungsi ganda yang masing-masing dimensi di dalam pedalangan disebut unsur pendukung dari ahli nilai pedalangan secara seutuhnya (Sri Mulyono, 1988: 75)

Wayang adalah bahasa simbol dari hidup dan kehidupan manusia, bukan sebaliknya. Bahwa manusia itu bukan simbol dari wayang. Dengan mempelajari dan mengenal, akan dapat mengenal hidup dan kehidupan sendiri (Bariyah Aryani. 1995: 12-13).

Jadi wayang adalah penjelmaan dari roh nenek moyang yang sudah ada sejak zaman pra sejarah, yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang adiluhung baik nilai estetika, nilai etika maupun nilai simbolisnya.

 C. Jenisjenis Wayang

Di Indonesia terdapat puluhan jenis wayang yang tersebar di pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, Sumatra, baik yang masih populer maupun yang hampir atau sudah punah dan hanya dikenal dalam kepustakaan atau di meuseum-museum. Menurut Pandam Gurit (1988: 11-12) jenis-jenis wayang yang pada masa itu dikenal di Pulau Jawa yaitu:

a. Wayang Beber (mula sekali diciptakan pada jaman Majapahit). Sisi ceritanya adalah wayang Purwa. Wayang beber terdiri dari adaegan-adegan yang dilukiskan pada kain yang dihaluskan. Dahulu dilukis pada “lulup” kulit kayu waru. Umumya satu cerita berisi enam belas adegan dan terdiri dari dari empat gulung jadi tiap gulung terdiri dari empat adegan. Wayang beber ini setelah dibeber wayangnya tidak dipegang oleh si dalang, dia hanya menceritakannya dari balik gambar. Umumnya selesai dalam dua jam)

b. Wayang Gedog, wayang yang diciptakan oleh Sunan Giri. Isi ceritanya lanjutan Wayang Madya sejak jaman Jenggala sampai Kerajaan Padjajaran.

c. Wayang Golek, yaitu wayang yang bentuknya serupa dengan boneka yang bahannya dari katu. Jumlahnya 70 buah. Isi ceritanya riwayat Menak, hubungan negeri Arab dan Persia pada jaman awal Islam.

d. Wayang Jemblung, yaitu sejenis kesenian wayang tanpa menggunakan boneka wayang dengan iringan mulut. Dalam arti wayang jemblung adalah kesenian oral dengan menggunakan iringan mulut menirukan suara gamelan (http://mmujiono.blogspot.com/2009/02/seni-jemblung-ponorogo.html di unduh pada 21 Agustus 2011)

e. Wayang Krucil (Klithik), yaitu wayang yang bentuknya kecil-kecil dan bahannya dibuat dari kayu. Jumlahnya hanya 70 buah. Isi ceritanya menggambarkan sejarah kerajaan Padjajaran sampai dengan akhir kerajaan Majapahit.

f. Wayang Langendria, yaitu wayang yang pemaninnya orang. Pementasannya sama dengan sandiwara lainnya, hanya saja memakai kelengkapan pewayangan mulai dari pakaian, musik, tari, dan cerita (http://www.facebook.com/note.php?note_id=139732931818 di unduh pada 21 Agustus 2011)

g. Wayang Lilingong, bisa disebut sebagai tiruan dari konsep Wayang Krucil. Yaitu wayang yang bentuknya kecil-kecil dan bahannya dibuat dari kayu.

h. Wayang Jawa, yaitu wayang yang diciptakan Dutadilaga Sala. Isi ceritanya sejarah kerajaan Demak sampai berakhirnya Mataram. Keistimewaan wayang ini ialah dapat juga dipergunakan untuk menggambarkan cerita Menak, sahabat Nabi Muhammad SAW.

i. Wayang Madya, wayang yang diciptakan oleh Mangkunagoro VII. Ceritanya merupakan lanjutan cerita wayang Purwa yakni sesudah Prabu Parikesit dan seterusnya sampai jaman Kerajaan Jenggala Kediri.

j. Wayang Purwa, wayang yang menggambarkan cerita kitab Mahabarata dengan pokok cerita Baratayuda. Cerita wayang purwa ini mula-mula diujudkan sebagai lukisan pada daun rontal dan diciptakan oleh Prabu Jaya Baya Raja Kediri yang kemudian setelah mengalami jaman Majapahit dan Demak berubah bentuk serta bahannya, sehingga berwujud seperti sekarang ini dipahat dari samping pada kuli binatang.

k. Wayang Dupara, wayang ini diciptakan oleh Sri Susuhan Paku Buwana X Surakarta. Ceritanya menggambarkan Kerajaan Demak, Pajang, Mataram, sampai dengan Kartasura.

l. Wayang Menak, wayang yang diciptakan oleh Trunadipa K. Isinya hanya khusus menggambarkan riwayat Menak sejak lahir, anak, dewasa, tua sampai mati. Wayangnya berjumlah 150 buah. Raden Samsudin Proboharjono menambahkan bahwa ceritanya wong Agung Menak Jayengmurti alias Amir Hamzah hingga lahirnya Nabi Muhammad SAW dan berkembangnya agama Islam.

m. Wayang Kancil, wayang yang dicipatakan oleh Bah Bo Liem seorang Tionghoa tahun 1952 di Sala. Isi ceritanya dongeng kancil dan binatang untuk dipertunjukkan terutama pada anak-anak.

n. Wayang Sasak, wayang yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Disebut Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Penatah wayang Sasak sampai saat ini ialah Amak Rahimah. Dahulu wayang Sasak dipergunakan untuk berdakwah agama Islam di pulau Lombok. Sekarang dipertontonkan dan untuk upacara adat, misalnya di masyarakat Malang kecamatan Gerung, kabupaten Lombok Barat. Bentuk wayang Sasak mirip dengan wayang kulit Gedog. Cerita wayang Sasak mengisahkan Amir Hamzah, yang merupakan paman Nabi Muhammad SAW (http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Sasak di unduh tanggal 21 Agustus 2011)

o. Wayang Perjuangan atau Wayang Sandiwara, wayang ini pada awalnya menggambarkan contoh kebaikan dan keburukan bernama wayang Sandiwara. Setelah 1945 diganti namanya dengan wayang Perjuangan. Isi ceritanya menggambarkan betapa kekejaman kolonial Belanda selama 350 tahun, penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun hingga jaman kemerdekaan.

p. Wayang Topeng, yaitu wayang yang pelaku-pelakunya memakai topeng.

q. Wayang Wong atau Wayang Orang, yaitu wayang yang mulai diciptakan sejak Mangkunagoro IV Surakarta. Isi ceritanya seperti wayang Purwa hanya tokoh-tokoh pelakunya orang. Dimainkan di panggung dengan dekor-dekor semacam sandiwara, walaupun demikian masih memakai dalang juga.

Menurut jenis aktor dan aktrisnya aneka ragam jenis wayang dapat digolongkan atas lima golongan yaitu:

  1. Wayang Kulit, yaitu wayang yang pelakunya muncul di panggung adalah boneka-boneka dua dimensi yang terbuat dari kulit atau tulang belulang.
  2. Wayang Golek, yaitu wayang yang pelakunya muncul di panggung adalah boneka-boneka tiga dimensi yang terbuat dari kayu.
  3. Wayang Wong atau Wayang Orang, yaitu wayang yang pelakunya muncul di panggung adalah orang.
  4. Wayang Beber, yaitu wayang yang pelakunya hanya digambarkan di atas kertas lebar yang di gulung dan di rentangkan (dibeber) dalam pertunjukan.
  5. Wayang Klithik, yaitu wayang yang pelakunya muncul di panggung adalah boneka-boneka yang terbuat dari kayu pipih (Pandam Guritno, 1988: 12).

Dari penggolongan tersebut, yang termasuk wayang kulit adalah wayang gedog dan wayang purwa di Jawa, wayang parwa di Bali, wayang sasak di Lombok, wayang banjar di Kalimantan, dan wayang Palembang di Palembang.

Wayang dapat juga di golongkan berdasrkan cerita yang dipentaskan dan bahasa yang dipakai. Meskipun sama-sama wayang kulit tetapi jika yang disajikan adalah lakon dari Kisah Panji, wayang itu bukan wayang purwa tetapi wayang gedog. Jadi kebanyakan jenis wayang dapat dikenal berdasarkan tiga kriteria yakni pelaku, sumber cerita, dan bahasanya.

Teguh Wartono (1988: 78-82) berpendapat bahwa wayang dibagi ke dalam beberapa jenis yaitu:

  1. Wayang Kulit. Wayang kulit terbagi dalam beberapa jenis yaitu: (a) wayang bayangan (sebagai upacara keagamaan); (b) wayang gedog (cerita panji); (c) wayang kulit purwa (cerita mahabarata dan ramayana); (d) wayang kidang kencana (cerita mahabarata dan ramayana); (e) wayang klitik kulit (cerita damarwulan); (f) wayang madya (cerita sesudah parikesit); (g) wayang kuluk (cerita dari kerajaan demak sampai Jogyakarta); (h) wayang dupara (cerita dari kerajaan demak sampai surakarta); (i) wayang wahana (cerita jaman sekarang dengan mengambil istitika wayang purwa); (j) wayang kancil (dongeng binatang); (k) wayang perjuangan (cerita perjuangan untuk permainan anak-anak); (l) wayang adem marifat (oleh paham tasawuf); (m) wayang jawa (sejarah indonesia atau pangeran diponegoro), (n) wayang suluh (penerangan perjuangan kemerdekaan); (o) wayang Pancasila (berisi tentang ajaran Pancasila); dan (p) wayang wahyu (agama kristen atau khatolik).
  2. Wayang Daun, dibagi menjadi dua yaitu: (a) wayang rontal (cerita mahabarata dan ramayana) dan (b) wayang daun kluwih (permainan anak-anak)
  3. Wayang Kain, yang terbagi ke dalam: (a) wayang beber purwa (cerita mahabarata dan ramayana dengan gamelan slendro); (b) wayang beber gedog (cerita panji dengan gamelan pelog)
  4. Wayang Kayu, dibagi menjadi beberapa jenis yaitu: (a) wayang golek sunda (cerita mahabarata dan ramayana); (b) wayang klitik (cerita damarwulan); (c) wayang krucil (cerita mahabarata dan ramayana bisa dimainkan pada siang hari); (d) wayang tengul (cerita amir hamayah, umarmoyo, dan umarmadi): (e) wayang golek purwa jakin nata (mahabarata)
  5. Wayang Orang, wayang Wong (cerita Mahabarata dan Ramayana)
  6. Wayang Suket (permainan anak-anak)
  7. Wayang Bambu (permainan anak-anak)
  8. Wayang Kertas (permainan anak-anak)
  9. Wayang Batu, terdapat pada candi-candi (Mahabarata dan Ramayana)

Penggolongan wayang dilihat dari pelaku, sumber cerita, dan bahasa, wayang dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1 memuat jenis-jenis dan penggolongan wayang

No Pelaku Sumber Cerita Bahasa Nama
1 Boneka Kulit Ramayana-Mahabarata Jawa-Sunda Wayang Purwa
2 Boneka Kulit Sesudah Zaman Purwa Jawa Wayang Madya
3 Boneka Kulit Kisah-kisah Panji Jawa Wayang Gedog
4 Boneka Kulit Babad Mataram II Jawa Wayang Dupara
5 Boneka Kulit Cerita Diponegoro Jawa Wayang Jawa
6 Boneka Kulit Kisah-Kisah Islam Jawa Wayang Dobel
7 Boneka Kulit Kisah Amir Hamzah Jawa Wayang Kulit Menak
8 Boneka Kulit Kisah-kisah Injil Jawa Wayang Wahyu
9 Boneka Kulit Ramayana Bali Wayang Ramayana
10 Boneka Kulit Mahabarata Bali Wayang Parwa
11 Boneka Kulit Kisah-kisah Panji Bali Wayang Gambuh
12 Boneka Kulit Bagian Kisah Panji Bali Wayang Cupak
13 Boneka Kulit Kisah Zaman Airlangga Bali Wayang Calonarang
14 Boneka Kulit Kisah Amir Hamzah Sasak Wayang Sasak
15 Boneka Kulit Ramayana-Mahabarata Betawi Wayang Betawi
16 Boneka Kulit Ramayana-Mahabarata Banjar Wayang Banjar
17 Boneka Kulit Ramayana-Mahabarata Palembang Wayang Palembang
18 Boneka Kayu Ramayana-Mahabarata Sunda Wayang Golek Sunda
19 Boneka Kayu Babad Cirebon Jawa-Sunda Wayang Cepak
20 Boneka Kayu Kisah Amir Hamzah Jawa Wayang Golek Menak
21 Boneka Kayu Kisah Prabu Siliwangi Sunda Wayang Pakuan
22 Boneka Khusus Kisah Galuh-Daha Bali Wayang Dangkluk
23 Boneka Kayu Pipuh Kisah Panji Jawa Wayang Klithik
24 Boneka Kertas Kisah-kisah Panji Jawa Wayang Beber
25 Sekelompok Orang Ramayana-Mahabarata Jawa-Sunda Wayang Orang
26 Orang Bertopeng Bermacam-macam Berbagai Suku Wayang Topeng
27 Penari Kisah Damarwulan Jawa Wayang Langendria
28 Sekelompok Orang (biasanya duduk-duduk saja tanpa gamelan) Ramayana-Mahabarata Jawa Wayang Jemblung

Sumber: Pandam Guritno, 1988: 14

(#DP9 & Eni Susilowati. S.Pd)

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s