Who is “ON”???

Siapa “ON”??? kira-kira itulah judul dari tulisan ini. Apabila kita mendengar kata “ON”, otak kita langsung bisa mengidentifikasi bahwa kata “ON” merupakan bahasa asing. Bukan dari planet lain, akan tetapi dari Negara Ratu Elizabeth, Inggris. Bahasa Inggris sudah dijadikan sebagai bahasa dalam pergaulan dunia internasional. Sekarang ada anggapan kalau tidak menggunakan bahasa Inggris dianggap tidak gaul dan ketinggalan dalam mengikuti perkembangan zaman.

Penulis bukanlah orang Inggris yang tahu menahu dan tidak mau sok tahu mengenai bahasa Inggris. Penulis merupakan asli putra negeri ini. Sehingga dalam menterjemahkan kata “ON” penulis meminta bantun dari orang lain. Penulis bertanya-tanya kepada orang yang ahli bahasa Inggris dan membuka kamus untuk mengetahu arti sebenarnya dari kata “ON” . menurut beberapa ahli bahasa Inggris “ON” berarti hidup terus kemudian menunjukan tempat. Kata “ON” silit diterjemahkan secara langsung, artinya disesuaikan dengan kata selanjutnya.

Tulisan ini bukan akan membahas masalah bahasa Inggris, melainkan membahas satu tokoh yang kontroversial yaitu “ON”.

“ON” merupakan nama panggilan dari salah satu pengajar mata pelajaran masa lalu, yakni sejarah. Nama lengkapnya Orlando Nugroho. nama yang keren dengan penampilan fisik yang pas-pasan. Tubuh kurus seperti tiang, tinggi dan kulit hitam, rambut ktiting dan kusam, satu kombinasi yang pas untuk menunjukan kegembelannya. Sebagai seorang laki-laki Jawa tulen hal itu sangatlah wajar. Kulit orang Jawa pada umumnya sawo matang sedangkan kulit “ON” sawo busuk.

Sebagai pengajar sejarah kadang ON mendapatkan sentimen-sentimen negatif. Hal ini berhubungan dengan ilmu sejarah sendiri. Kebanyakan orang mengatakan bahwa sejarah adalah ilmu yang tidak penting, buat apa mempelajari masa lalu kalau kita hidup di masa yang sekarang. Tidak ada gunanya belajar sejarah. Sejarah hanya digunakan sebatas seremonial pada saat hari libur nasional. Sejarah hanya dipandang dengan satu mata.

Bahkan ada anggapan lain lagi terhadap pengajar sejarah. Kata orang, kalau guru yang pengetahuan alam, rambutnya akan botak di depan. Sedangkan kalau guru sejarah, botaknya dibagian belakang karena selalu memikirkan masa lalu. Hal ini yang membuat ON menjadi cemas, karena takut semakin jelek. Terus ada anggapan lain buat apa belajar sejarah, kalau kita belajar sejarah kita tidak bisa move on. Kritikan dan beberapa cemohan dari orang lain, tidak membuat ON menjadi mundur. Memang dia pernah mundur satu langkah kebelakang tapi kemudian dia maju seribu langkah ke depan.

ON tetap tenang. Prinsip ketenangan dan selalu fukos menjadi pegangannya. Pernah dia takut kalau benar-benar botak di belakang, tapi kemudian dibuang jauh-jauh perasaan takut itu. Lebih baik botak dibelakang daripada di depan. Kalau botak di depan akan secara langsung dapat dilihat orang sedangkan kalau botak di belakang tidak akan terlihat apabila tidak berbalik badan. Sedangkan orang mengatakan sejarah tidak bisa move on itu salah. Kebanyakan orang hanya melihat sejarah pada masa lalu saja. Sedangkan sejarah mempunyai tiga dimensi waktu yang saling mempunyai keterkaitan (prinsip kasualitas dalam sejarah). Oran-orang hanya melihat sejarah pada satu dimensi waktu, yakni masa lalu (Past). Mereka melupakan dimensi yang lainnya. Hakikat ilmu sejarah memiliki tiga dimensi waktu, sedangkan orang-orang tadi hanya melihat dan terfokus pada satu dimensi saja. Orang-orang Indonesia hanya memandang sejarah pada masa lalu, melainkan melupakan dimensi masa sekarang (Prsent) dan masa yang akan datang (Future).

Kebanyakan orang munafik. Pada dsarnya mereka sangat membutuhkan sejarah dalam hidup. Hal ini dikarenakan mereka masih manusia. Mungkin orang lupa bagaimana mereka menggunakan sejarah. Sebagai contoh biar mereka membuka mata. Setiap terjadi peristiwa entah itu musibah ataupun bencana pasti ada kata-kata bijak “ambil hikmahnya”. Orang-orang mungkin lupa, ambil hikmah pasti dengan peristiwa masa lampau dan tidak mungkin mada datang. Kalau seorang ingin mengambil hikmah, dengan arti langsung mereka akan membutuhkan sejarah.

Tulisan di atas menjelaskan bagaimana pembelaan ON terhadap mata pelajaran yang menjadi keahliannya. Kita kembali ke ON.

ON seorang pemuda yang baik dan sangat ramah. Hampir selalu senyum tersungging dari bibir tebalnya. Perawakan yang sederhana dan muka yang polos membuat dia layaknya good teacher. Saat mengajar suara yang keras ditambah gerakan akrobatik membuat penampilan ON sangat menarik. Namun, seperti pepatah “tiada manusia yang sempurna”, karena ON masih manusia jadi dia juga mempunyai kelemahan. Salah satunya adalah tulisannya agak tidak bisa dibaca orang banyak, hanya orang-orang beriman yang bisa membaca tulisan ON. Kata orang semakin jelek tulisan, berarti dia semakin pintar, mungkin ON juga termasuk itu.

ON sangat bangga dengan panggilan ON yang diberikan siswa. Bahasa Inggris yang menggunakan kata ON sebagian besar baik, bersifat positif. Dari kata move on, go on, on time dan masih banyak lagi. Namun satu yang tidak disukai dari kata ON. Siswa ON sebagian besar orangnya terlalu baik, inilah yang tidak disukai oleh ON. Sesuatu yang “terlalu” itu tidak baik meskipun itu terlalu baik. Siswa ON baik sekali yaitu menambahkan huruf O dinama panggilannya. Jadi dalam namanya, pada awalnya hanya satu “O” tetapi sama siswanya ditambah satu “O” lagi sehingga sekarang dia punya dua “O”. Alangkah baiknya siswa didik ON mereka menerapkan prinsip tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah, memberi lebih baik daripada menerima. Tetapi kenapa pak ON tidak suka?? Apa dia tidak bersyukur?

Coba bayangkan, nama yang keran ON ditambah dengan satu O lagi. Kalau O nya ditambahkan dibelakang sih wajar saja, masih biasa. “ONO” merupakan gabungan dari kata ON yang ditamban O bagian belakangnya, yang berarti “ada”(dalam bahasa Jawa ONO= Ada). Tapi coba  “O”nya ditambahkan di depan akan menjadi “OON”. Kata yang tidak asing bagi manusia Indonesia yang berkonotasi negative. Tapi tidaklah apa-apa asalkan orang lain bahagia, ON akan mengikhlaskannya. Pengabdian yang ikhlas tanpa pamrih dengan landasan ibadah, dikemudian hari akan mendapatkan imbalan satu tempat mulia disisi Tuhan.

Sekian perkenalan mengenai sosok “ON”, salam sederhana dan bermutu

………”always ON”

(#DP9#)

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

3 responses »

  1. […] Om On. Dia adalah teman baruku di Pascasarjana pendidikan sejarah UNS. Dia seorang guru tapi dari tingkah […]

  2. […] Contoh Om On, manusia tertampan nomer dua di dunia. Dia selalu bersikap jujur tanpa pernah berkata dusta. Dia […]

  3. […] “mau nggak kamu malam mingguan sama Om???” […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s