Tanggal 31 Desember 2011 mungkin hari yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh Moi. Dimana hari itu dia merasa disiksa baik secara fisik maupun batin. Sungguh tragis nasib dari pemuda separuh baya ini. Pagi itu Moi bangun sekitar pukul 07.30. dikarenakan semalamnya tidur agak larut malam. Hari itu Moi tidak tidur di kos sendiri melainkan di kos salah satu temannya, yaitu Joko Lelur dan Muke Gile. Joko Lelur dan Muke Gile adalah dua teman yang berasal dari satu daerah. Satu kamar mereka tempati secara bersama-sama. Malam itu Moi menginap di Kos Joko Lelur. Pertemanan Moi dengan  Joko Lelur dan Muke Gile merupakan  pertemanan yang baru saja dimulai. Moi hanya kenal dengan Joko Lelur karena satu PPLan. namun waktu pertemanan tak mempengaruhi keakraban mereka. Mereka sering makan malam secara bersama-sama. romantisssssss…..

Sebenarnya kegiatan di kamar yang berukuran 3 x 3 itu sangatlah monoton. Setiap Moi menginap di kos Joko Lelur aktivitas yang dilakukan mereka bertiga sama. Makan malam di Burjo, membeli minuman, menonton film, ngegame PS, mendengarkan dakwah melalui radio dan melihat televisi. Kos dari Joko Lelur isinya agak komplit, dari televise, radio, gallon air minum, computer, print hingga alat olahraga. Kamar yang tidak terlalu luas itu harus menampung tiga gembel dalam satu kasur. Sangat superrrr

Moi pagi itu berencana pulang pukul 08.00. bangun tidur Moi, Joko lelur dan Muke Gile sarapan pagi dengan tontonan film yang ada dikomputer. Jam 08.00 tepat Moi kembali ke kosnya sendiri yang letaknya tidak terlalu jauh dari kos Joko Lelur. Setelah persiapan pulang selesai, Moi langsung laundry pakaian dan kemudian pulang.

Rencana Moi pada hari itu tidak langsung ke rumah, melainkan mampir ke kantor BKPH tempat dia melakukan penelitian. Dari Solo hingga BKPH membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Hari itu jalan raya sudah ramai lalu lalang sepeda motor dan mobil mobil. Moi menaiki sepeda motor dengan perasaan senang. Pada dua hari sebelumnya Moi sudah ke kantor BKPH untuk mengambil surat keterangan telah melakukan observasi tugas dari kampus. Namun surat yangdiharapkan ternyata belum dibuat. Oleh petugas yang ada Moi disuruh datang lagi dua hari kemudian. Dua hari kemudian itu merupakan hari ini. Moi sangat gembira dengan bayangan tugasnya akan segera selesai.

Jam 9 tepat Moi sudah sampai di kantor BKPH yang kelihatan sangat sederhana. Mungkin bisa dibilang sangat sederhana untuk satu lembaga yang mengurusi hutan di pulau Jawa. Bila dibandingkan dengan rumah para petugasnya, kantor ini tidak ada apa-apanya, sangat sederhana. Setelah sampai di halaman parkir, Moi segera masuk ke dalam kantor. Dia bertemu dengan petugas yang kamarin ditemuinya.

Moi: “selamat pagi pak? Surat observasi saya sudah jadi apa belum??”

Petugas: “haduh belum itu dek, bapak sangat sibuk. Ini sebenarnya sudah saya buatkan suratnya tapi belum ditandatangani”

Moi: “lha bapake kemana tow pak?”

Petugas: “tadi ada acara dek, paling sebentar lagi kembali”

Moi: “kantor tutupnya jam berapa pak?”

Petugas: “untuk hari jumat dan sabtu buka sampai jam 11, ditunggu sebentar lagi aja”

Moi: “iya pak”

Waktu berjalan dengan sangat lambat. Untuk menghabiskan waktu menunggu, Moi smsn dengan temannya, yaitu Boy. Menunggu adalah kegiatan yang sangat tidak menyenangkan bagi semua orang begitu juga bagi Moi. Tadi pagi dia belum sarapan sehingga cacing dalam perutnya mulai melakukan konser. Pukul 10.00 berlalu menuju pukul 11.00, belum ada tanda-tanda kalau bapak yang dicari akan segera hadir. Tepat pukul 11.oo, “haduh kantor segera tutup” pikir Moi. Moi menunggu hanya sendiri duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu sambil memegang HP. Petugas yang ada masuk ke dalam satu ruangan. Jam dinding menunjukan pukul 12.00, ternyata kantor juga belum tutup begitu juga bapak yang dicari Moi belum tampak batang hidungnya. Moi yangsudah merasakan kelaparan stadium 4 sudah tidak tahan lagi. Dia kemudian masuk dalam ruangan petugas tadi dan izin untuk pulang suratnya menyusul dikemudian hari.

Memang benar, seorang pejabat itu kegiatan sangat padat. Harus kesana kesini tidak tentu. Namun ada yang membuat Moi agak mengelus dada, mengapa kok sudah hampir 1 bulan suratnya belum jadi. Tinggal tanda satu kali saja sangat sulit. Mungkin tanda tangan untuk satu proyek yang menghasilkan uang, walaupun 11 atau 12 tanda tangan pasti sangat mudah dilakukan.

Birokrasi di Indonesia terlalu memihak kepada yang punya uang. Masyarakat dibedakan menjadi berbagai kelas tergantung dari status sosialnya. Untuk orang kaya, urusan dengan biroktasi sangatlah mudah. Urusan mereka dengan sangat cepat diselesaikan. Kemungkinana besar mereka diistimewakan oleh birokrasi. Rakyat kecil yang menjadi korban dari tradisi seperti ini. Untuk menyelesaikan urusan dengan birokrasi membutuhkan waktu yang panjang dan berbelit-belit. Di Negara Indonesia tercinta seharusnya segeraka diadakan reformasi birokrasi. Birokrasi harus benar-benar mengabdikan kepada rakyat dan tidak mebeda-bedakan antara si miskin dan si kaya.

(#DP9#)

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s