1. Pengertian Prestasi Belajar

juaraKata prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar.  Di  dalam  Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  yang  dimaksud dengan prestasi adalah “hasil yang telah dicapai dilakukan, dikerjakan”[1].  Adapun  belajar  menurut  pengertian  secara  psikologis,  adalah merupakan  suatu proses perubahan yaitu perubahan  tingkah  laku  sebagai hasil  dari  interaksi  dengan  lingkungannya  dalam  memenuhi  kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan  tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah  laku.  Menurut  Slameto  pengertian  belajar  dapat  didefinisikan sebagai  berikut:  “Belajar  ialah  suatu  proses  usaha  yang  dilakukan seseorang  untuk  memperoleh  suatu  perubahan  tingkah  laku  yang  baru secara keseluruhan,  sebagai hasil pengalamannya  sendiri dalam  interaksi dengan lingkungannya”[2].

Poerwanto (1996) memberikan  pengertian  prestasi  belajar  yaitu  “hasil  yang  dicapai  oleh  seseorang dalam  usaha  belajar  sebagaimana  yang  dinyatakan  dalam  raport[3].  Selanjutnya Winkel (1996)   mengatakan   bahwa   “prestasi   belajar   adalah   suatu   bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya   sesuai   dengan   bobot   yang   dicapainya”[4].

Prestasi    adalah    mengatasi    hambatan,    melatih    kekuatan,    berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”. Prestasi adalah hasil  yang  telah  dicapai  seseorang  dalam  melakukan  kegiatan.  Prestasi   belajar   dibedakan   menjadi   lima   aspek,   yaitu   : kemampuan     intelektual,     strategi     kognitif,     informasi     verbal,     sikap     dan keterampilan[5]. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990) bahwa hasil belajar  dibedakan  menjadi  tiga  aspek  yaitu  kognitif,  afektif  dan  psikomotorik[6]. Prestasi  merupakan  kecakapan  atau  hasil  kongkrit  yang  dapat  dicapai  pada  saat  atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.

Prestasi  belajar  menyangkut  pengungkapan  dan  pengukuran  hasil  belajar yang telah diikuti siswa selama proses belajar. Pengukuran ini dapat diketahui bila akhir  proses  belajar  diadakan  penilaian.  Dengan  mengadakan  penilaian  dapat diketahui   tingkat   keberhasilan   dan   tingkat   kegagalan   siswa,   sehingga   dapat diketahui seberapa besar tingkat prestasi belajar yang diraih oleh seorang siswa disamping  faktor  intrinsik  dan  faktor  ekslinsik.  Dengan  memperhatikan  tahapan perkembangan perilaku dan pribadi siswa[7], kategorikan  pola  belajar  siswa  ke  dalam  tipe  yang meliput:

  1. Tipe belajar signal atau isyarat,
  2. Tipe belajar mempertautkan/chaning,
  3. Tipe belajar stimulus respon,
  4. Tipe belajar asosiasi verbal,
  5. Tipe belajar mengadakan perbedaan,
  6. Tipe belajar konsep, pengertian,
  7. Tipe belajar membuat generalisasi,
  8. Tipe belajar memecahkan masalah.

Tingkat  prestasi  belajar  untuk  tiap akhir proses  pembelajaran dapat  dilihat dari hasil penilaian yang diadakan oleh guru penilaian ini mencakup dalam suatu program pokok bahasan   dalam   suatu   tatap   muka   pembelajaran dan  lebih operasional  serta  mudah  dilihat. Dapat  dipahami  bahwa  penilaian  dalam  arti kompleks  mencakup  segala  aspek  psikologis  siswa.  Penilaian  dalam  arti  sempit ini  sebagai  bentuk  untuk  mengukur  keberhasilan  siswa  yang  terformat  dalam bentu  evaluasi.  Evaluasi  artinya  penilaian  terhadap  tingkat  keberhasilan  siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program pembelajaran [8].

Salah satu tujuan diadakannya evaluasi diantaranya dapat dijadikan sebagai alat penetap apabila siswa termasuk kategori cepat, sedang, ataupun lambat dalam arti  mutu  kemampuan  belajarnya.  Berdasarkan  hasil  evaluasi  yang  dicapai  siswa tersebut maka dapat diketahui tingkat keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan ini tidak   berlangsung   secara  instans   artinya   diraih   begitu   saja   tanpa   proses, melainkan  lewat  proses  pembelajaran  yang  diikuti  siswa  dan  adanya  kolerasi dengan tingkat kemampuan siswa di samping ada faktor lain yang mempengaruhi seperti     kondisi     kesehatan, kerajinan,  kejenuhan  dan   lingkungan     yang mencukupinya.  Pada  prinsipnya,  pengungkapan  hasil  belajar  yang  ideal  meliputi segenap  ranah  psikologi  yang  berubah  sebagai  akibat  pengalaman  dan  proses belajar siswa.

2.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Kegiatan  belajar  dilakukan  oleh  setiap  siswa,  karena  melalui belajar  mereka  memperoleh pengalaman  dari  situasi  yang  dihadapinya. Dengan  demikian  belajar  berhubungan  dengan  perubahan  dalam  diri individu sebagai hsil pengalamannya di lingkungan.  Secara  global,  faktor-faktor  yang  mempengaruhi  belajar  siswa dapat kita bedakan menjadi dua macam:

  1. Faktor dari dalam diri siswa (intern)

Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu dibahas menurut Slameto (1995) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan[9].

1)      Faktor Jasmani

Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh.

a)    Faktor kesehatan

Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya.

b)    Cacat tubuh

Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain[10].

2)      Faktor psikologis

Dapat berupa intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi, kematangan, kesiapan.

a)      Intelegensi

Slameto (2003) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat[11].

b)      Perhatian

Menurut al-Ghazali dalam Slameto (2003) bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek[12]. Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.

c)      Bakat

Menurut Hilgard dalam Slameto (2003) bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Kemudian menurut Muhibbin (2003) bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang[13].

d)      Minat

Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (1996) bahwa minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu[14]. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya.

e)      Sikap siswa

Sikap  adalah  gejala  internal  yang  berdimensi  afektif    berupa kecenderungan  untuk  mereaksi  atau  merespon  (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, barang,dan sebgainya, baik secara positif maupun negatif[15]. Sikap  merupakan  faktor  psikologis  yang  kan  mempengaruhi belajar.  Dalam  hal  ini  sikap  yang  akn  menunjang  belajar seseorang  ialah  sikap  positif  (menerima)  terhadap  bahan  atau pelajaran  yang  akan  dipelajari,  terhadap  guru  yang mengajar dan  terhadap  lingkungan  tempat belajar  seperti: kondisi  kelas,  teman-temannya,  sarana  pengajaran  dan sebagainya[16].

f)        Motivasi

Menurut Slameto (2003) bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.

g)      Kematangan

Kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru. Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengikuti proses belajar mengajar.

h)      Kesiapan

Kesiapan menurut James Drever seperti yang dikutip oleh Slameto (2003) adalah preparedes to respon or react, artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi. Jadi, dari pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan baik[17].

3)      Faktor kelelahan

Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (1995) sebagai berikut:

“Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat dan perhatian”[18].

Dari uraian di atas maka kelelahan jasmani dan rohani dapat mempengaruhi prestasi belajar dan agar siswa belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya seperti lemas tubuh. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan rohani seperti memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa tidak sesuai dengan minat dan perhatian. Ini semua besar sekali pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Agar siswa selaku pelajar dengan baik harus tidak terjadi kelelahan fisik dan psikis.

  1. Faktor yang berasal dari luar (faktor  ekstern)

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat[19].

1)      Faktor keluarga

Faktor keluarga sangat berperan aktif bagi siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan keluarga, pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang kebudayaan dan suasana rumah.

a)      Cara orang tua mendidik

Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara. Dari pendapat di atas dapat dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anak. Cara orang mendidik anaknya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.

b)      Relasi antar anggota keluarga

Menurut Slameto (2003) bahwa yang penting dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya[20].

c)      Keadaan keluarga

Menurut Hamalik (2002), mengemukakan bahwa keadaan keluarga sangat mempengaruhi prestasi belajar anak karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu seperti kultur keluarga, pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, hubungan antara orang tua, sikap keluarga terhadap masalah sosial dan realitas kehidupan[21].

Berdasarkan pendapat di atas bahwa keadaan keluarga dapa mempengaruhi prestasi belajar anak sehingga faktor inilah yang memberikan pengalaman kepada anak untuk dapat menimbulkan prestasi, minat, sikap dan pemahamannya sehingga proses belajar yang dicapai oleh anak itu dapat dipengaruhi oleh orang tua yang tidak berpendidikan atau kurang ilmu pengetahuannya.

d)      Pengertian dari orang tua

Menurut Slameto (2003 : 64) bahwa anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk mengatasi kesulitan yang dialaminya.

e)      Keadaan ekonomi keluarga

Menurut Slameto (2003) bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak[22]. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya, misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.

f)         Latar belakang kebudayaan

Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar[23]. Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik, agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.

g)      Suasana rumah

Suasana rumah sangat mempengaruhi prestasi belajar. Suasana rumah merupakan situasi atau kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak-anak berada dan belajar. Suasana rumah yang gaduh, bising dan semwarut tidak akan memberikan ketenangan terhadap diri anak untuk belajar.

2)      Faktor sekolah

Faktor sekolah dapat berupa cara guru mengajar, ala-alat pelajaran, kurikulum, waktu sekolah, interaksi guru dan murid, disiplin sekolah, dan media pendidikan, yaitu :

a)      Guru dan cara mengajar

Menurut Purwanto (2004), faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor penting, bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki oleh guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya turut menentukan hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa[24]. Sedangkan menurut Nana Sudjana (2006) mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses , yaitu  proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar[25].

Dalam kegiatan belajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menhidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Dengan demikian cara mengajar guru harus efektif dan dimengerti oleh anak didiknya, baik dalam menggunakan model, tehnik ataupun metode dalam mengajar yang akan disampaikan kepada anak didiknya dalam proses belajar mengajar dan disesuaikan dengan konsep yang diajarkan berdasarkan kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar.

b)      Model pembelajaran

Model atau metode pembelajaran sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap prestasi belajar siswa, terutama pada pelajaran matematika. Dalam hal ini model atau metode pembelajaran yang  digunakan oleh guru tidak hanya terpaku pada satu model pembelajaran saja, akan tetapi harus bervariasi yang disesuaikan dengan konsep yang diajarkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa, terutama pada guru matematika. Dimana guru matematika harus bisa menilih dan menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran. Adapun model-model pembelajaran itu, misalnya : model pembelajaran kooperatif, pembelajaran kontekstual, realistik pembelajaran kreatif dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, model yang diterapkan adalah model pembelajaran kreatif dengan menggunakan metode “sehari bersama seleb” dan “setan JJ”, dimana model atau metode ini berpengaruh terhadap proses belajar siswa dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa

c)      Alat-alat pelajaran

Untuk dapat hasil yang sempurna dalam belajar, alat-alat belajar adalah suatu hal yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya perpustakaan, laboratorium, dan sebagaianya.

Menurut Purwanto (2004) menjelaskan bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak[26].

d)      Kurikulum

Kurikulum diartikan sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu. Menurut Slameto bahwa kurikulum yang tidak baik akan berpengaruh tidak baik terhadap proses belajar maupun prestasi belajar siswa.

e)      Waktu sekolah

Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu sekolah dapat pagi hari, siang, sore bahkan malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa.

f)        Interaksi guru dan murid

Menurut Roestiyah (1989) bahwa guru yang kurang berinteraksi dengan murid secara intim, menyebabkan proses belajar mengajar itu kurang lancar[27]. Oleh karena itu, siswa merasa jenuh dari guru, maka segan berpartisipasi secara aktif di dalam belajar.

g)      Disiplin sekolah

Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar. Kedisiplinan sekolah ini misalnya mencakup kedisiplinan guru dalam mengajar dengan pelaksanaan tata tertib, kedisiplinan pengawas atau karyawan dalam pekerjaan administrasi dan keberhasilan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman, dan lain-lain.

h)      Media pendidikan

Kenyataan saat ini dengan banyaknya jumlah anak yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat yang membantu lancarnya belaajr anak dalam jumlah yang besar pula[28]. Media pendidikan ini misalnya seperti buku-buku di perpustakaan, laboratorium atau media lainnya yang dapat mendukung tercapainya prestasi belajar dengan baik.

3)      Faktor Lingkungan Masyarakat

Faktor yang mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa antara lain teman bergaul, kegiatan lain di luar sekolah dan cara hidup di lingkungan keluarganya.

a)      Kegiatan siswa dalam masyarakat

Menurut Slameto (2003 : 70) mengatakan bahwa kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika siswa ambil bagian dalam kegiatan masyarakat yang telalu banyak misalnya berorganisasi, kegiatan sosial, keagamaan dan lain-lain, belajarnya akan terganggu, lebih-lebih jika tidak bijaksana dalam mengatur waktunya.

b)      Teman Bergaul

Anak perlu bergaul dengan anak lain, untik mengembangkan sosialisasinya. Tetapi perlu dijaga jangan sampai mendapatkan teman bergaul yang buruk perangainya. Perbuatan tidak baik mudah berpengaruh terhadap orang lain, maka perlu dikontrol dengan siapa mereka bergaul.  Menurut Slameto agar siswa dapat belajar, teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman bergaul yang jelek perangainya pasti mempengaruhi sifat buruknya juga, maka perlu diusahakan agar siswa memiliki teman bergaul yang baik-baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan dari orang tua dan pendidik harus bijaksana.

c)      Cara Hidup Lingkungan

Cara hidup tetangga disekitar rumah di mana anak tinggal, besar pengaruh terhadap pertumbuhan anak[29]. Hal ini misalnya anak tinggal di lingkungan orang-orang rajib belajar, otomatis anak tersebut akan berpengaruh rajin juga tanpa disuruh.


[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan., Kamus Besar Bahasa  Indonesia,  (Jakarta:  Balai Pustaka, 2002), hlm. 895.

[2] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengeruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 2.

[3] Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung:Remaja Rosdakarya, 1996),hlm 28.

[4] Winkel,   WS. Psikologi   Pendidikan   dan   Evaluasi   Belajar. (Jakarta : Gramedia, 1997), hlm 162.

[5] Gagne, R. The Conditions of Learning (4th ed.). (New York: Holt, Rinehart & Winston 1985), hlm 40.

[6] Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian. (Jakarta: Rienaka Cipta, 1991)., hlm 110.

[7] Syamsudin. Psikologi Kependidikan. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm 40

[8] Muhibbin,  Syah. Psikologi  Pendidikan  dengan  Suatu  Pendekatan  baru. (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm 45.

[9] Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). hlm 54.

[10] Slameto. Ibid. hlm 55

[11]  Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm: 56

[12]  Slameto.2003. Ibid. Hlm 55

[13] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm136.

[14] Nurkencana. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional, 2005),hlm 214.

[15] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.(Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm135.

[16] Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. Ke-2, hlm. 84

[17] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),hlm: 59.

[18] Slameto. Op.Cit.

[19] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm 60.

[20] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm.60.

[21] Oemar Hamalik.Psikologi Belajar Mengajar.Bandung:Sinar Baru, 2002).hlm 160.

[22] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta,2003), hlm 63.

[23] N.K, Roestiyah . Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Bina Aksara, 1989), hlm 156.

[24] Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm 104.

[25] Nana Sudjana. Metode Statistik.(Bandung: Tarsito, 2006), hlm 39.

[26] Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm 105.

[27]   N.K, Roestiyah (1989). Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Bina Aksara. Hlm 151

[28]   N.K. Roestiyah (1989). Ibid

[29] N.K, Roestiyah . Strategi Belajar Mengajar.(Jakarta: Bina Aksara, 1989) hlm 155.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s