IMG0874APukul 06.30 WIB, Pak Bejo sudah sampai sekolahan. Hampir setiap hari beliau datang setengah jam sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Pagi itu langit begitu cerah bersih putih, seperti kondisi parkiran yang masih bersih tanpa ada sepeda motor. Kondisi itu bertahan sampai pukul 06.55, satu persatu mulai terisi parkiran sekolahan dengan kendaraan siswa. Banyak siswa yang terlambat, begitu juga para guru. Baru 15 menit setelah bel, parkiran terisi penuh. Itu menggambarakan sekelumit kisah bagaimana waktu kurang dihargai. Masih banyak orang yang senang terlambat dari pada datang tepat waktu.

Tulisan ini berjudul tepat waktu or telat waktu, satu pilihan yang bisa langsung dijawab. Tidak perlu menanggung galau termat panjang untuk memilih jawaban. Sebagian koresponden akan memilih telat waktu. Kebanyakan manusia sangat suka dengan terlambat, sehingga muncullah kata kiasan “jam karet”. Dari judul di atas sebenarnya perbedaannya hanya terdapat pada kata “tepat” dan “telat”. Lebih mengkrucut lagi perbedaanya hanya terdapat pada huruf “P” dan “L”. namun arti kata tersebut memiliki perbedaan yang sangat kontras. Ibarat langit dengan bumi, ibarat malaikat dengan setan, bahkan ibarat Surga dan neraka.

Nah kata mana yang kira-kira dipilih oleh peserta didik/siswa????

Secara serentak dan kompak mereka memilih untuk telat waktu. Benar-benar luar bisanya mereka. Kebiasaan datang terlambat sudah menjadi budaya yang mengakar hingga kedalam jiwa mereka. Satu kelas bisa dihitung dengan jari berapa siswa yang setiap hari selalu datang paling lambat pukul 07.00. sebagian besar mereka memilih untuk terlambat. Kata mereka sekolah tidak terlambat “bagai taman tanpa bunga”, itulah indahnya terlambat. Para siswa menganggap bahwa terlambat adalah satu kebutuhan sebagai peserta didik.

Siswa-siswa seolah-olah elergi dengan tepat waktu, dan lebih nyaman dengan telat waktu. Mereka tidak memiliki rasa bersalah apabila mereka terlambat. Satu anggapan mereka, telat adalah kebiasaan yang secara turun temurun dilatih oleh system. Nah siapa yang mengendalikan system di sekolahan?? Yap, benar sekali yaitu pendidik (guru). Guru harus bisa menanamkan rasa untuk selalu tepat waktu kepada siswa. Apabila perlu, guru membuat peraturan yang tegas untuk memaksa siswa untuk tidak telat waktu.

Lha, masalahnya sendiri guru juga sering terlambat. Banyak guru yang masih datang terlambat. Kalau begitu bagaimana mengajarkan kepada siswa untuk tidak terlambat sedangkan dirinya sendiri juga terlambat?. Menjadi seorang guru yang profesionalitas tidaklah sulit, apabila sudah terbiasa dengan profesionalitas mengajar. Sebagian besar guru hanya bisa memberi contoh tidak bisa dicontoh. Ada benyak peribahasa yang menyangkut mengenai keteladanan.

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Merupakan salah satu peribahasa yang menyinggung secara pedas bagaimana tingkah guru akan ditiru lagi oleh muridnya bahkan tingkah lakunya lebih jelek dari guru. Kata-kata lainnya yaitu slogan yang dikatakan oleh bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Peran guru adalah sebagai “ing ngarsa sung tuladha” yaitu member contoh, sedangkan siswa beperan “tutwuri handayani” yaitu mengikuti.

Pola pertama untuk merubah system yang suka dengan telat waktu adalah membenahi pendidiknya terlebih dahulu. Ditanamkan kepada mereka betapa pentingnya waktu. Waktu yang telah dilewati tidak akan pernah kembali. Manfaatkanlah waktu sesuai dengan kegunaannya. Mulai menanamkan budaya tepat waktu. Sayangilah waktu seperti orang yang paling kita cintai. Orang barat bahkan memiliki idiom “time is money” , waktu adalah uang. Betapa sangat berharganya waktu.

Mulai sekarang, mari kita mengurangi budaya telat waktu. Sedikit demi sedikit lama-lama akan habis kebiasaan buruk berupa telat waktu dan berganti dengan budaya tepat waktu. Budaya telat waktu merupakan perilaku yang harus dimusnahkan dari muka bumi karena tidak sesuai dengan peri kebaikan dan peri kedisiplinan. Generasi lama harus berganti dengan generasi baru yang berbeda dan lebh baik dari generasi lama.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s