a.Munculnya Perkebunan Tebu di Jawa

solo-mangkunegaranSetelah berakhirnya perang Jawa (1825-1830), pemerintah kolonial Belanda mengalami kekosongan kas Negara. Biaya perang untuk melumpuhkan Diponegoro membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anggaran yang besar untuk membiayai strategi benteng stelsel mampu melumpuhkan Diponegoro dan juga melupuhkan kas Negara Belanda. Oleh karena itu, Van Den Bosch menggulirkan satu kebijakan yakni system tanam paksa (the cultivation system). System tanam paksa merupakan suatu usaha untuk membangunkan ekonomi perkebunan dengan tenaga kaum petani (Geertz 1983: 68).

Dalam pelaksanaan sistem tanam paksa ada campur tangan orang-orang Eropa dalam proses produksi. Ada penyatuan antara pemerintah dan kehidupan perusahaan dalam menangani produksi tanaman ekspor. Dari sini kita melihat bahwa kapitalisme sudah masuk ke Jawa. Penjelasan mengenai kapitalisme di Jawa akan dijelaskan lebih jauh dalam bab ‘Kapitalisme dan Diferensiasi Sosial di Jawa’. Pemerintah mengorganisir proses penanaman, sedangkan para pengusaha Eropa dengan modalnya ditugaskan mengolah hasil perkebunan di pabrik-pabrik pengolahan. Maka, pemerintah di sini adalah sebagai penyedia bahan mentah dan para pengusaha mengolahnya di pabrik-pabrik yang mereka dirikan.

Praktek tanam paksa juga dilakukan di tanah pertanian yang sudah digarap sehingga melibatkan kehidupan desa secara lebih mendalam. Pihak yang terlibat dalam tanam paksa dari birokrat pemerintah barat, para kepala pribumi organisasi desa, tenaga kerja rakyat, hingga pengusaha pemilik modal. Tujuan dari sistem tanam paksa semata-mata untuk mempertinggi produksi tanaman ekspor, yang dilakukan dengan organisasi yang rapi. Secara keseluruhan tujuan sistem tanam paksa dapat tercapai. Di satu sisi sasaran pokok memperoleh produksi setinggi-tingginya, di sisi lain banyak terjadi penyimpangan di lapangan.

System tanam paksa pada awalnya bekerja dengan cukup baik yaitu mampu mewujudkan mendatangkan keuntungan yang besar bagi pemerintah colonial. Terjadi peningkatan besar-besaran terhadap hasil tanaman ekspor seperti kopi dan gula. Kesuksesan dari tanam paksa ini dikarenakan adanya kerjasama antara Negara colonial Belanda dengan elit local dan regional. Para elit akan diberikan bagian dari hasil tanaman ekspor yang disebut cultuur procenten (Jan Luiten Van Zenden & Daan Marks 2012: 97).

Geertz (1983: 73) berkesimpulan bahwa adanya system tanam paksa dan perkebunan tebu mengarahkan terjadi ledakan jumlah penduduk yang besar di Jawa. Hal seperti ini disebut involusi pertanian. Maka terjadi reformasi yang dimulai pada akhir 1840-1950 untuk menyederhanakan tanam paksa secara perlahan menjelma menjadi sebuah perubahan mendasar dalam cara pengorganisasian  hasil tanaman. Hasilnya pada akhir tahun 1870 lahirlah sebuah system colonial baru yang menekankan pada pemikiran liberalisme. Pemerintah Belanda mengeluarkan Undang-undang Agraria guna mengatur maslah tanah petani. Adanya Undang-undang Agraria berdampak pada masuknya modal swasta ke Indonesia. salah satu bidang yang menggiurkan adalah perkebunan tebu dan kopi.

Penanaman tebu sudah dikenal di pulau Jawa pada perempat abad XVIII. Pada awalnya pengusaha swasta dari Cina dan Eropa mengusahakan tanaman tebu di sekitar Batavia yang diikuti dengan pendirian pabrik-pabrik tebu. Pada tahun 1950, di Jawa sudah terdapat 100 pabrik gula, 80 buah di antaranya dibangun di Batavia san selebihnya di Banten, Cirebon dan Pantai Utara Jawa Tengah (Mubyarto, dkk 1992: 17).

tebuHarga gula yang fluktuatif membuat produksi dari tebu mengalami penaikan dan penurunan. Hal ini berpengaruh terhadap pembangunan pabrik tebu. Baru setelah tahun 1859 terjadi pembangunan besar-besaran dalam penanaman tebu swasta di dua kerajaan, baik itu Surakarta maupun Mangkunegaran. Liberalisasi penerimaan masuknya orang-orang Eropa ke daerah dan prospek-prospek untuk menghasilkan keuntungan sangat mendorong perkembangan ini. Di Surakarta ppada tahun 1960 terdapat delapan penggilingan tebu bertenaga air dan Sembilan bertenaga sapi atau kerbau. Pada tahun 1963, pabrik tebu berkembang pesat menjadi 46 pabrik tebu (Houben, 2002: 585).

b.Keraton Mangkunegaran

Sejarah Mangkunegaran dalam dirunut dari sejarah panjang Kerajaan Mataram Islam. Mataram Islam adalah salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini. Keinginannya menguasai seluruh tanah Jawa harus berbenturan dengan kekuatan VOC di Batavia. Kebencian kepada VOC menjadi awal dari pertikaian antara Matara dengan VOC dengan berujung pada penyerangan Mataram ke Batavia pada tahun 1928 dan diulangi lagi tahun 1929. Namun setelah berakhirnya kekuasaan Sultan Agung, perlawanan terhadap VOC melemah. Elit kerajaan hanya disibukan dengan masalah suksesi kekuasaan. Hal ini malah berdampak bagi masuknya pengaruh VOC dikalangan kerajaan Mataram.

Adanya campur tangan dari VOC dalam masalah suksesi kerajaan menjadikan Mataram terpecah-pecah menjadi beberapa Kerajaan. Hasil dari Perjanjian Gianti (1755), Mataram terpecah menjadi dua yaitu Surakarta untuk Pakubuwono III dan Yogyakarta untuk Mangkubumi. Kemudian terjadi konflik diinternal Keraton Surakarta yang mengakibatkan keratin harus terpecah menjadi dua wilayah yaitu Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Pemisahan ini disahkan dengan adanya perjanjian Salatiga (1957). Mangkunegaran menjadi hak dari Raden Mas Said yang begelar Mangkunegara I.

Sebagai unit wilayah, Mangkunegaran terdiri dari kota praja dan daerah luarnyayang sebagian terdiri dari pedesaan. Batas-batas Mangkunegaran ketika itu kurang jelas. Keadaan ini menjadi salah satu penyebab sering terjadinya sengketa tanah di Surakarta. Hal ini dikarenakan letak dari praja Mangkunegaran terletak di jantung Kota Surakarta, di sebelah utara dari Kasunanan Surakarta. Kota praja Mangkunegaran meliputi 1/5 dari wilayah Surakarta. Pada tahun 1957 luas wilayah Mangkunegaran hanya sekitar 4000 karya atau 979,5 jung atau 2.800 hektar.  Namun wilayah ini beberepa kali mengalami perubahan disebabkan adanya hadiah tanah kepada mangkunegara (Wasino, 2008: 13).

Wilayah Mangkunegaran secara ekologis terdiri dari dua bentang alam yakni dataran tinggi dan dataran rendah. Wilayah pegunungan terletak di sebelah timur dan bagian selatan kota Mangkunegaran. Wilayah yang berbatasan dengan gunung Lawu meliputi distrik Karang Pandan di Karanganyar.  Sedangkan pegunungan kappur terdapat diseluruh wilayah Wonogiri. Wilayah pegunungan meliputi lebih dari 2/3 wilayah kerajaan. Sedangkan wilayah yang subur terletak di sebelah barat gunung Lawu. Di sana tumbuh hutan hujan tropis yang lebat. Penduduk hidup dari bercocok tanam padi dan palawija. Dataran rendah terletak di distrik Karanganyar dan kota Mangkunegaran.

Wilayah Mangkunegaran sebagian besar terdiri dari tanah kering di dataran tinggi Lawu dan perbukitan kapur Wonogiri. Selain tanaman pangan, pada awal abad XIX, lahan di wilayah Mangkunegaran banyak yang digunakan untuk tanaman komersial, yakni tebu dan nila. Tanaman tebu ini semula diusahakan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang menyewa kepada para pemegang lungguh di Mangkunegaran, namun pada masa Mangkunegaran IV  diusahakan sendiri oleh praja Mangkunegaran.

c.Pabrik Tebu Mangkunegaran

mangkunegara ivSebelum Mangkunegara IV berkuasa, sebagian tanah diberikan kepada para bangsawan dan pejabat kerajaan. Tanah tersebut dinamakan tanah apanage atau tanah lungguh. Tanah lungguh meskipun secara hukum milik raja, tetapi dalam pengelolaan dan pemanfaatannya berada ditangan para pemegang tanah lungguh. Akan tetapi status tanah lungguh bukanlah hak milik melainkan hak memimjam. Mangkunegara IV berpandangan bahwa hal tersebut tidak menguntungkan bagi praja dan rakyat Mangkunegaran. Sehubungan dengan hal itu, maka raja berusaha menarik kembali tanah lungguh yang disewakan untuk kemudian diusahakan sendiri (Wasino, 2008: 52).

Mangkunegaran IV memulai usahanya dengan tidak memperpanjang kontrak-kontrak persewaan tanah kepada pengusaha swasta barat yang akan berakhir pada 1859/1860. Rencana tersebut mendapatkan protes keras dari para penyewa tanah. penyewa tanah menuduh bahwa rencana itu bukanlah gagasan secara murni dari Mangkunegara IV, melainkan ide dari Residen Surakarta, Busckens. Namun pada akhirnya Mangkunegara IV tetap bersikeras untuk tidak memperpanjang kontrak. Penarikan tanah dimulai dari kalangan keluarga raja setelah itu baru tanah-tanah lainnya. Bagi para pejabat yang sudah ditarik tanah lungguhnya diganti dengan tunjangan dalam bentuk uang. Setelah tanah berhasil ditarik maka penggunaan tanah secara penuh berada di tangan raja.

Keinginan awal dari Mangkunegara IV mendirikan pabrik gula berawal dari kunjungannya ke tempat menantunya di Demak. Di Demak tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik, maka Mangkunegara IV menyimpulkan bahwa di daerahnya juga dapat ditanami tebu. Untuk melaksanakan gagasannya, Mangkunegara IV kemudian mengangkat Reden Ranaastra, priyayi dari Demak sebagai Wedana di Malang Jiwan. Pertimbangan pengangkatan ini dikarenakan Raden Ranaastra memiliki pengalaman dalam pengembangan tanaman tebu di wilayah Demak. Selain itu juga terjalin kerjasama dengan belanda dalam pembuatan pabrik tebu.

Pembangunan industry perkebunan tebu merupakan pilihan yang rasional dikarenakan beberapa hal yaitu pertama, gula merupakan produk ekspor yang pada saat itu harganyas sedang menanjak, kedua tanaman tebu sudah terbiasa ditanam di Mangkunegaran, Ketiga sumber pendapatan praja secara tradisional melalui pajak dan penyewaan tanah dirasa kurang cukup. Selain itu factor lain yang mendorong dibangunnya pabrik tebu adalah adanya kepentingan politik adu gengsi agar menunjukan trah Mangkunegaran lebih menonjol dibandingkan dengan kraton yang lain (Wasino, 2008: 55).

Sebelum membangun pabrik tebu, Mangkunegara IV meminta persetujuan dari Residen Surakarta, Nieuwenhuysen. Pemerintah Belanda menyetujui dari permintaan Mangkunegara IV dan siap membantu dalam prose pembuatan pabrik tebu. Tahap awal yang dilakukan Mangkunegara IV adalah membuka perkebunan tebu di desa Krambilan Distrik Malang Jiwan yang terletak di sebalah utara Kartasura. Pemilihan tempat ini dengan perimbangan tanahnya subur dan tersedia air yang mengalir secara memadai serta terdapat semak belukar yang cocok untuk keperluan tersebut.

Mangkunegara IV memerintahkan, R Kamptf untuk membangun sebuah pabrik gula. Peletakan batu pertama dilakukan pada hari minggu tanggan 8 ktober 1871. Biaya pembangunan mencapai f400.000. Modal sebagian besar diperoleh dari pinjaman yang berasal dari hasil keuntungan perkebunan kopi Mangkunegaran. Selain itu juga mendapat bantuan pinjaman dari orang Cina. Pada tahun 1862 pabrik gula sudah siap untuk dioperasikan. Dalam upacara pembukaan Mangkunegara IV memberikan nama pabrik tersebut dengan nama Colo Madu yang artinya Gunung Madu. Pengelolaan pabrik diserahkan kepada R. Kamptf sedangkan Mangkunegara IV berperan sebagai manajemen pabrik gula. Hal ini memperlihatkan pengelolaan Colo Madu sudah dikelola secara professional.

Dalam panen perdana tahun 1862, dari 135 bahu tanah menghasilkan 6.000 pikul gula atau 45 pikul tiap bahu. Selain untuk konsumsi local, produksi gula juga dijual ke Singapura dan Bandaneira. Penjualan dilakukan melalui pihak ketiga yaitu melalui perantara firma Cores dde Vries. Harga gula di Singapura f42 per kuintal sedangkan di Bandaneira f57 per kuintal. Perbedaan harga dikarenakan lerak wilayah, Singapura mudah dijangkau dibandingkan Bandaneira sehingga ongkos kirim lebih murah.

Keberhasilan pabrik gula Colo Madu mendorong Mangkunegara IV membangun pabrik gula kedua, yaitu pabrik gula Tasik Madu yang terletak di desa Sandakara Karanganyar. Wilayah Sandakara merupakan dataran rendah yang terletak di sebelah barat lereng gunung Lawu. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 11 Juni 1871 dan dapat diselesaikan tahun 1874. Tasik Madu berarti lautan gula. Hal ini merupakan harapan agar hasil dari pabrik Tasik Madu bisa melimpah ruah bagiakan lautan madu. Pabrik Tasik Madu bangunannya lebih mewah dibandingkan dengan pabrik gula Colo madu.

Seperti halnya Colo Madu, Tasik Madu juga merekrut tenaga kerja untuk menanam tebu dengan menerapkan system feodal. Petani penggarap di sekitar pabrik dikenakan kerja wajib tanam tidak dibayar. Mula-mula lahan yang digunakan adalah seluas 200 bahu meliputi dua desa sekitar pabrik. Kegiatan produksi dilakukan kerjasama dengan Nederlansche Handels Maatschappij (NHM) di Semarang. Maskapai ini memberikan modal kerja yang diperlukan bagi proses produksi gula. Sebelum adanya jalur kereta api, maka transportasi untuk mengirimkan gula dari Karangayar menuju Surakarta maka menggunakan Cikar, sedangkan dari Surakarta ke semarang menggunakan Kerata Api.

Keberadaan pabrik gula sangat membantu penghasilan Praja Mangkunegaran untuk melengkapi pendapatan tradisional dari pajak. Keuntungan yang diperoleh dari pabrik gula sebagian digunakan raja untuk mebayar gaji para bangsawan dan para kerabat dekatnya, serta sebagian lagi digunakan untuk menebus tanah lungguh yang belum selesai ditarik. Pabrik gula yang didirikan Mangkunegara memiliki arti penting dalam perkembangan produksi gula di Jawa pada masa itu

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s