om on by herlianaBeberapa hari ini Om On mendampingi murid-muridnya guna mengikuti berbagai lomba dalam kegiatan Olimpiade Pelajar. Pada Olimpiade tahun ini terdapat 23 cabang olahraga yang diikuti oleh tim sekolah Om On. 23 cabang olahraga itu baik individu putra dan putri maupun secara tim. Tim dari sekolahan Om On mendaftar dalam semua cabang olahraga. Target yang dibuat oleh sekolah adalah juara umum. Akan tetapi sebagai ketua tim, Om On hanya menargetkan setiap lomba memperoleh piala entah itu juara tiga, dua ataupun satu. Om On berpikir realitis terhadap target yang diinginkan. Terkadang manusia terlalu mematok target yang tinggi tanpa berpikir seberapa kemampuan yang dimiliki. Ada beberapa alasan yang membuat Om On tidak berani menargetkan juara umum. Alasannya adalah juara umum pasti adalah tuan rumah. Sejarah sudah berbicara bahwa sebagian besar juara adalah tuan rumah. Hal ini didukung oleh beberapa hal yaitu kesiapan yang lebih matang, bermain di rumah sendiri dan ada indikasi adanya bantuan dari juri atau wasit terhadap atlet dari tuan rumah.

Selain itu alasan dari internal sekolah Om On adalah persiapan yang mepet yaitu kurang dari satu bulan sehingga tidak bisa membina atlet dengan intens, selain itu juga terbatasnya sumber daya manusia baik itu atlet maupun Pembina juga menjadi kendala selanjutnya. Sebagai sekolahan yang baru dua tahun berdiri hal ini sangat wajar masih dalam proses penyempurnaan. Apalagi lingkungan sekitar juga kurang mendukung adanya sekolahan ini. Padahal faktor lingkungan masyarakat sekitar sekolah dalam proses pendidikan merupakan faktor penting.

Sarana dan prasarana juga kurang memadai. Lapangan voly terbatas, bola hanya satu, raket jumlahnya tidak lebih dari empat, tidak ada lapangan futsal dan lains sebagainya menjadi kendala dalam persiapan siswa. Bayangkan saja siswa yang ingin berlatih futsal harus menempuh jarak yang sangat jauh. Sebelum bertanding saja mereka sudah kelelahan. Masalah pokok lainnya adalah pertandingan jauh dari daerah sekolah Om On. Sekolah Om On terletak di pinggiran desa sedangkan tempat perlombaan adalah pusat kota. Mental anak desa memang selalu ngedown saat berlomba di kota.

Hal ini pernah dialami Om On saat masih kecil ketika mengikuti beberapa kali lomba cerdas cermat. Untuk tingkat kecematan Om On berulang kali menjuarai cerdas cermat, akan tetapi setiap lolos ke babak kabupaten mesti dia harus pulang lebih awa. Bukan karena dia tidak bisa memjawab melainkan adanya perasaan “ndredek” ketika akan membencet bel. Sebenanrnya jawaban sudah ada dipikiran akan tetapi tangan tidak mampu memencet bel. Kalau bertanding ditingkat kecamatan tidak membutuhkan bel, melainkan mengangkat jari. Inilah perbedaan antara desa dan kota.

Ternyata masalah mental ini juga menular pada tim didikan Om On. Mereka itu hanya jago kandang, saat melawat ke tempat yang jauh seolah kemampuan mereka memudar. Wajar sekali dikarenakan mereka masih kecil dan mereka orang desa. Beberapa hal telah dilakukan Om On agar atletnya bermental baja. Hal yang dilakukan diantaranya adalah memberikan contoh. Guru merupakan contoh teladan bagi siswanya, guru yang baik akan menular baik kapada siswanya. Om On sekarang bermental baja alias nggak nduwe isin (tidak punya malu) dalam konteks yang positif. Jangan malu kalau tidak membuat kessalahan. Jangan malu kalau berbuat kebaikan. Jangan malau kalau tidak mencuri. Intinya adalah berbuat baik, jangan malu.

Om On adalah orang desa, dan dia mencoba mengubah mindset selama ini bahwa orang desa itu lebih bodoh dibandingkan orang kota. Mungkin memang benar dari segi fasilitas memperoleh ilmu desa jelas tertinggal dari kota. Namun di desa ada banyak hal yang tidak dimiliki oleh kota. Kepolosan, kejujuran, gotong royong dan lain sebagainya masih mengakar kuat di desa akan tetapi mulai luntuh di kota. Kemurnian ini menjadi modal utama untuk menjalani hidup yang lurus dan menabarkan kebaikan kepada umat manusia. Om On sering memotivasi muridnya agar menjadi orang yang tidak penakut. Jauh dari rumah harus berani menghadapi segala macam tantangan. Om On selalu menekankan agar muridnya percaya diri tampil di tempat umum. Karena sebetulnya siswa Om On mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan siswa-siswa di kota. Akan tetapi kemampuan itu tidak nampak akibat tertutupi perasaan takut dan minder.

Perasaan minder itu nampak saat pertandingan dimulai. Om On yang menunggu siswanya lomba sebenarnya juga memiliki perasaan yang cemas,takut kalau nanti kalah. Tapi itu tidak dinampakan kepada muridnya, Om On tampil professional dengan memberikan semangat kepada muridnya agar percaya diri main yang lepas seperti biasa. pada pertandingan futsal tim Om On lumayan beruntung karena bertemu dengan tuan rumah, sehingga dapat untuk mengasah mental. Perasaan minder sudah terlihat saat pemain sudah mulai datang. Postur tubuh lawan lebih besar daripada postur tubuh tim Om On. Pendukung mereka juga lumayan banyak, sedangkan tim Om On hanya beberapa orang saja.

futsalPada saat pemanasan dipinggir lapangan Om On memberikan arahan terhadap pertandingan nanti. Dia juga memberikan motovasi kepada siswa agar tidak minder. Sebenarnya Om On melihat tekanan batin yang kuat dari raut wajah muridnya. Walaupun mereka ingin menutupinya akan tetapi terlihat dengan jelas perasaan takut itu. Muka meraka menjadi pucat, duduk lemas, tidak banyak bicara dan lain sebagainya. Padahal biasanya murid Om On itu banyak bicara seperti gurunya. Om On mencoba mencairkan suasana dengan mengajak muridnya mengobrol.

Om On: “kamu grogi ya ris”? Tanya Om On kepada salah satu pemain futsalnya

Muklis: “enggak pak” sambil memasukan sarung kipper ketangannya. Tangannya terlihat gemetar. Hal itu menandakan bahwa murid tersebut sebenarnya sangat minder. Mereka sudah kalah sebelum bertanding.

Perasaan minder sebenarya tidak sulit untuk dihilangkan. Berjalannya waktu dengan jam terbang yang sudah banyak, maka perasaan itu lama kelamaan akan hilang. Semua membutuhkan proses, dan mereka masih kelas satu jadi langkah mereka untuk bekarya masih panjang. Yang terpenting adalah sering tampil dan guru mampu menjadi fasilitas dan motivator agar rasa percaya diri murid bisa tumbuh subur. Jangan malu menjadi orang desa, karena orang desa juga bisa beprestasi. Berpikir positif menuju generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s