Udara mengalun merdu mengiringi terbenamnya matahari. Binatang ternak berbondong pulang ke kandang diiringi oleh sang penggembala yang nampak sumpringah. Sapi-sapi yang pulang dengan perut keyang. Penggembala senang bisa melihat sang sapi gemuk dan nampak sehat. Sapi-sapi dengan sabar antri di depan pintu guna memasuki kandang.Si penggembala membuka pintu kandang dan mempersilahkan sang sapi menuju tempat peraduan. Dan tidak lupa si penggembala menyiapkan api unggun agar sapi tidak kedinginan dalam dekapan malam.

kerusakan moralAkhir-akhir ini bangsa Indonesia diterpa berbagai masalah yang berhubungan dengan rusaknya moral masyarakat. Permasalahan bertubi-tubi datang menguji seberapa kuat bangsa Indonesia mempu bertahan. Layaknya sebuah batu karang yang menjulang meskipun dihantam deburan ombak lautan. Itu seharusnya yang dilakukan oleh bangsa Indonesia dalam menghadapi era modern dan globalisasi yang menyebabkan kehidupan masyarakat tanpa batas yang jelas. Budaya asing bertubi-tubi datang ke Indonesia dan mulai melunturkan budaya Indonesia yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Bangsa Indonesia terombang-ambing layaknya buih yang ada di lautan luas. Tidak punya pendirian yang tetap hanya selaku bangsa pengekor, bukanlah bangsa yang inspirator.
Permasalahan korupsi tidak pernah mencapai garis akhir. Pihak pemberantas korupsi yang tidak kenal letih dalam rangka memerangi korupsi seakan tidak berdaya. Setiap hari orang-orang pemakan uang haram semakin bertambah. Para pejabat seakan berlomba-lomba untuk mengunduh hasil yang ditanam saat pemilu. Banyak pejabat public yang tidak amanah dalam menjalankan tugas. Mereka berkata tidak pada korupsi namun pada kenyataannya mereka adalah pelaku korupsi. Banyak orang-orang yang berkoar-koar menantang ganasnya korupsi pada akhirnya setelah dia menjabat penyakit itu juga menerpanya sehingga membungkam mulut mereka untuk bilang TIDAK pada korupsi.

Para pejabat memperkaya diri. Apa mereka tidak kasihan dengan roang-orang yang tidur dibawah jembatan? Apakah mereka tidak kasihan dengan orang-orang tua yang harus bekerja untuk sekedar memakan beberapa butir nasi?. Para pejabat yang korupsi mungkin tidak memandang hidup orang lain. Mereka sudah dibutakan oleh harta, hasrat mereka sulit untuk dipuaskan. Kala rakyat menjerit kelaparan, meja makan para pejabat penuh dengan berbagai makanan. Dibutukan para pejabat yang mengetahui penderitaan rakyat. Buka pejabat yang hanya bisa mengobral janji dan kemudian mereka ingkari.

Masalah lain adalah kasus terkait dengan pelecehan seksual. Berita di semua media menanyangkan mesalah kejahatan yang tidak manusiawi ini. Hiruk pikuk pemilu seakan terkalahkan dengan pemberitaan mengenai masalah yang satu ini. Semua pihak, baik itu keluarga, sekolah, dan pemerintah seakan lengah terhadap permasalahan moral anak. Tidak perlu menyalahkan satu pihak yang salah, masalah ini merupakan kesalahan semua pihak. Kejadian demi kejadian telah membuktikan bahwa nilai moral bangsa ini sudah mulai luntur. Keluarga saat ini sudah tidak mampu mengontrol tindakan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Seakan tugas orang tua hanya memberikan uang kepada sang anak dan melupakan tugas mereka mendidik anak agar bersikap baik. pendidikan yang utama adalah pendidikan keluarga.

Para orang tua berdalih mereka sudah menitipkan anak pada pihak sekolah. Untuk mengajari sesuatu adalah tugas sekolah. Apabila terjadi sesuatu masalah adalah tanggungjawab sekolah. Padahal pendidikan itu tidak hanya disekolah melainkan juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Guru tidak bisa mengawasi murid yang sekian banyak dan dalam tempo waktu 24 jam. Harus ada sinergi antara orang tua dan guru. Orarng tua mengawasi pergaulan anak di luar sekolah sedangkan guru bertugas mengawasi anak di sekolah. Peran media masa, khususnya elektronik dalam merusak moral anak sangatlah penting. Zaman dahulu acara ditelevisi memperlihatkan orang pacaran itu pada tingkat kuliah sebagai contoh film Si Doel. Berganti tahun kemudian giliran anak-anak pada tingkat sekolah menengah atas yang berpacaran. Sekarang virus seperti itu sudah menyentuh pada tingkat sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Para anak-anak muda menjadikan acara di televisi sebagai panutan mereka. Dari cara berpakaian, cara ngomong hingga cara hidup meraka. Kita bisa melihat akhir-akhir ini banyak kasus perceraian itu secara tidak langsung mungkin juga berhubungan dengan cara yang ada di televisi.

Televisi kita sudah berorientasi yang salah. Para pemilik media lebih menekankan pada mencari keuntungan bagi mereka dibandingkan dengan memelihara moral bangsa. Mereka mengorbankan jutaan kemurnian pikiran anak demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Berita yang baik-baik di televisi tidak laku dijual. Orang lebih suka dengan tayangan yang sedikit sekali unsur edukasinya. Anak-anak menjadi tergila-gila dengan televisi. Meraka melupakan apa yang namanya belajar. Mungkin belajar melalui televisi bisa, akan tetapi acara di televisi sebagian besar acaranya bukan mendidik tapi merusak moral.

Akhir-akhir ini bangsa Indonesia juga menjadi bangsa pemarah. Banyak sekali terjadi bentrokan antar suku, antar kampung, antar sekolah hingga antar mahasiswa. Mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi saja tidak bisa mengontrol emosi. Bangsa kita tidak lagi menjadi bangsa yang ramah melainkan bangsa pemarah. Berbagai tindakan telah membuktikan hal itu. Banyak kasus pembunuhan disebabkan oleh hal yang sepele dan tidak sepantasnya harus membunuh. Bangsa kita menjadi bangsa yang tidak berperikemanusiaan dan seakan sudah mulai lupa dengan Tuhan. Ada yang salah dalam kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

Para penjahat dipuja dan dipuji, orang-orang baik dihujat dan dijauhi. Orang-orang jujur dibuang ke tempat sampah, sedangkan orang-orang munafik didudukan di kursi-kursi mewah dengan berbagai kenikmatan dunia. Apakah mereka sudah lupa ada kehidupan nanti? Dimana antara baik dan buruk dihitung.. apakah mereka juga sudah lupa ada Tuhan yang selalu mengawasi mereka dalam segela tutur dan tindakan? Apakah mereka tidak sadar ada para Malaikat yang selalu menghitung amal baik dan amal buruk mereka? Dan apakah mereka lupa bahwa hidup didunia hanya sementara? Maka berbaik dirilah, perbaiki kualitas diri, intropeksi diri lebih utama daripada mencela perbuatan orang lain. Berbicara seribu kata nasehat kepada orang lain pastilah mudah, berbicara satu nasehat untuk diri sendiri mungkinlah sulit.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s