Nak, makan buahmu sendiri ya…

om on by herlianaHari kamis yang lalu Om On mengikuti sebuah seminar pendidikan di kampus tempat dia menimba ilmu. Dari judul seminar cukup menarik yaitu redefinisi pembelajaran sejarah dalam kurikulum 2013. Judul tersebut menarik hati Om On untuk mengikutinya. Ada sesuatu yang menarik dari judul tersebut. Titik tekannya yaitu pada pembelajaran sejarah dan pada kurikulum 2013. Perubahan kurikulum ternyata berdampak bagi kegiatan pembelajaran sejarah. Kurikulum 2013 menekankan pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik adalah pendekatan dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dalam kegiatan pembelajaran. Apa bisa pembelajaran sejarah menggunakan pendekatan keilmiahan? Sejarah kan mata pelajaran nggak penting dan hanya sebatas pelengkap pembelajaran yang lain. Kenapa harus mempelajari masa lalu nanti jangan-jangan malah membuat kita nggak bisa move on?

Pada kurikulum 2013 sendiri, sejarah mendapat perhatian khusus. Sejarah Indonesia termasuk dalam katagori pelajaran wajib untuk tingkat SMA/MA dan tingkat SMK. Pembelajaran Sejarah Indonesia dalam satu minggu adalah satu kali tatap muka selama dua jam pelajaran. Selain Sejarah Indonesia, untuk tingkat SMA peminatan IPS ada juga mata pelajaran Sejarah peminatan. Sejarah Indonesia hanya mempelajari masalah Indonesia, sedangkan Sejarah peminatan cakupan lebih luas, yaitu Indonesia dan dunia. Untuk anak-anak IPS mereka akan menikmati sejarah dalam satu minggu kurang lebih lima sampai enam jam pelajaran. Mata pelajaran sejarah sendiri memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Kembali ke masalah seminar, dalam seminar itu terdapat pakar pendidikan yang menyatakan bahwa pembelajaran di sekolah seperti makan buah. Kata dari bapak pembicara tersebut dia mengatakan bahwa Anak didik hendaknya makan buahnya sendiri. Ilustrasinya seperti ini, pada pagi itu guru ke sekolah dengan membawa buah tangan. Guru tersebut mengikuti pelatihan kurikulum 2013 di Malang. Guru tersebut membeli apel sebagai oleh-oleh buat para Anak didik. Sesampainya di dalam kelas guru tersebut kemudian menyuruh Anak didik makan buahnya itu sendiri.

Wuah ini cerita apa?????

anak-makan-buah-300x230Proses pembelajaran diibaratkan seperti kisah di atas. Guru memberikan apel, dalam hal ini guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar. Guru memberikan ruang dan waktu kepada Anak didik untuk mengeksploitasi kemampuan yang dimiliki. Pada kurikulum 2013 terjadi perubahan mindset pembelajaran yang terpusat pada guru menjadi terpusat pada Anak didik. Seperti makan buah apel tadi, kalau terpusat pada guru, gurulah yang mengupas buah apel tersebut, kemudian menyucikan agar bersih kemudian baru memberikan kepada Anak didik. Atau bahkan sampi guru yang menghaluskan buah apel tadi dengan menggunakan gigi-giginya yang sudah mulai nampak berlubang baru kemudian memberikannya kepada mulut Anak didik.

Pada dasarnya tidak seperti itu. Guru hanya sekedar memberikan apel kemudian kalau diperlukan guru cuman memberikan rambu-rambu apa yang dilakukan Anak didik pada tindakan selanjutnya. Kemudian Anak didik sendirilah yag mengupas kulit buah, membersihkan kotoran-kotoran dengan air, kemudian menggigitnya pelan-pelan dan kemudian merasakan kenikmatan buah tersebut. Pembelajaran yang seperti inilah yang menekankan pada keaktifan Anak didik. Guru hanya sekedar mengelola kelas agar aktifitas Anak didik menjadi merata tidak terpusat pada satu atau dua anak. Guru mampu untuk memtoviasi anak didik agar berani untuk memberikan pendapat, berani berdebat, dan berani untuk berprestasi.

Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang baru dalam kehidupan pendidikan di Indonesia. Sudah jauh-jauh hari, pemangku jabatan pendidikan memikirkan hal ini. Namun pada tahap implementasi di lapangan belum sesuai dengan teori yang ada di buku. Pada tahun 1994, pemerintah menerapkan yang namanya Kurikulum Cara Belajar Anak didik Aktif atau yang lebih terkenal dengan naman CBSA. CBSA juga menekankan pada keaktifan Anak didik di dalam kelas. Sehingga metode ceramah seharusnya sudah tidak berlaku. Akan tetapi penerapan CBSA tidak optimal. Pembelajaran masih berpusat pada guru. Kepanjangan dari CBSA berganti menjadi Cah Bodo Soyo Akeh (Anak bodoh tambah banyak).

Kemungkinan kegagalan dari CBSA ini bisa disebabkan dari guru dan juga Anak didik. Guru masih terkekang dalam pola pikir tradisional yaitu mengajar dengan ceramah ceramah dan ceramah. Guru banyak ngomong sendiri sehingga Anak didik hanya menjadi pendengar yang baik. Kalau membuat gaduh Anak didik dimarahi sehingga Anak didik mengambil opsti untuk berlarian ke dunia mimpi alias tidur. Guru kurang kreatif dalam menerapkan metode yang menarik minat Anak didik untuk mengikuti pembelajaran. Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat Anak didik penasaran sehingga berupaya untuk menggali informasi dari berbagai sumber. Guru harus mampu memikat hati murid dengan ilmu dan tingkah laku.

Ada beberapa guru juga membiarkan Anak didik untuk aktif, yaitu aktif menulis. Sering sekali Anak didik ditinggal acara dinas, rapat atau kegiatan yang kurang bermanfaat. Guru hanya meninggalkan catatan di buku agar Anak didik kemudian menyalinnya. Setiap hari seperti itu sehingga Anak didik sampai-sampai nggak mengenal yang mana gurunya. CBSA pun berganti menjadi Catat Buku Sampai Habis. Kemungkinan kendala dari sistem CBSA juga dari kesiapan Anak didik. Anak didik kurang aktif dikarenakan bekal ilmu yang dimiliki dari sekolah sebelumnya masih sangat kurang. Anak didik juga takut untuk mengemukakan pendapat, takut-takut kalau salah kemudian mendapat hukuman dari guru. Biasanya juga rasa percaya diri dari Anak didik masih rendah sehingga belum mampu mengemukakan pendapat yang dimiliki.

Pada kurikulum 2013 ini Anak didik dituntut untuk aktif. Anak didik harus menggali informasi tentang materi yang diajarkan oleh guru. Pendekatan saintifik yang meliputi tahapan ilmiah yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring. Proses pembelajaran saintifik mampu menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dengan adanya pendekatan saintifik Anak didik diharapkan aktif dalam pembelajaran, melalui tahapan-tahapan yang telah disebutkan di atas. Dengan adanya tahapan-tahapan tersebut seperti gambaran tadi, Anak didiklah yang memakan buahnya sendiri dengan pengawasan dari guru. Bukan guru yang mengunyahkan buah tersebut baru kemudian diberikan kepada Anak didik.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s