menangisSuasana sontak menjadi geger setelah pertandingan bola voly siang itu. Beberapa remaja putri berlarian sambil menundukan kepala. Tetesan ait mata yang hendak mereka tahan, seakan sulit untuk dibendung. Di belakang mereka ada anak-anak putri lain yang menggunakan seragam olahraga. Hal yang sama juga ada pada mereka. Mereka menundukan wajah cantik mereka. Meraka tidak menghiraukan sekitar yang hendak bertanya apa gerangan yang sedang terjadi. Beberapa guru mengikuti mereka dari belakang dengan langkah sayu. Ada juga yang memapah siswa yang lemah tidak berdaya menahan siksa derita. Apa yang terjadi sehingga membuat anak-anak periang itu menundukan kepala? Apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka teramat bersedih?

Ruangan kelas menjadi pemuas untuk mereka meneteskan air mata. Ada beberapa yang membaringkan tubuh mereka di lantai, ada yang duduk sambil menyembunyikan kepala. Mereka teramat bersedih, ada satu penyesalan dari tangisan mereka. Penyesalan bukan dikarenakan seperti kegagalan perjanjian Renville (1948) yang membuat wilayah Indonesia semakin sempit. Ada duka mendalam yang mereka pendam, lebih dari pekerja Romusha di zaman pendudukan Jepang. Tidak hanya mereka yang menggunakan seragam olahraga, anak-anak lain yang menggunakan seragam sekolah juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka bermaksud menghibur agar kakak-kakaknya untuk tidak menangis. Mereka tidak ingin kakaknya bersedih. Akan tetapi mereka sendiri juga tidak bisa menyembunyikan itu, kesedihan yang mendalam.

smp muhammadiyah 6 NgawiiHari ini anak-anak putri sekolah di tempat bekerja Om On mengikuti pertandingan bola voly. Pertandingan yang kemarin bisa dimenangkan dan hari ini adalah pertandingan semifinal dan sebentar lagi mereka di ambang gelar juara. Anak-anak selama ini berlatih penuh semangat di lapangan kecil sekolah. Meski siang, matahari membakar kulit tipis meraka, itu tidak menghentikan semua. Mereka juga harus bergantian dengan tim voly putra yang juga berlatih di tempat yang sama. Keterbatasan sarana dan prasarana membuat latihan menjadi kurang maksimal. Entah apa yang meraka cari sampai segitunya. Guru mereka sebenarnya tidak begitu memaksa meraka untuk melakukan semua. Tapi meraka anak putri penuh semangat ibu kartini, mereka ingin memberikan bukti dengan sebuah prestasi.

Pada olimpiade sebelumnya, mereka kalah pada pertandingan pertama. Meraka tidak terlalu bersedih seperti saat ini. Terkadang optimism yang terlalu tinggi, kalau mengalami kegagalan akan lebih sangat menyakitkan. Pada olimpiade tahun kemarin, mereka mendapatkan pengalaman yang berharga. Persiapan yang tergesa-gesa sedangkan kemampuan anak pas-pasan menjadi sebab kekalahan. Hal ini juga ditunjang anak-anak yang demam panggung. Biasanya mereka di desa dapat berteriak sekeras-kerasnya, akan tetapi di tempat tersebut nyali mereka menciut. Mereka minder, mereka merasa inferior dibandingkan anak-anak yang dari kota. Meraka tidak bisa mengeluarkan kemampuan secara maksimal. Mereka terbelenggu akan ketakutan.

Pada tahun ini semangat anak lebih tinggi dari tahun yang lalu. Mereka lebih rajin untuk berlatih dan persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Mereka yakin bisa berbicara banyak pada olimpiade tahun ini. Namun sayang usaha mereka terhenti di babak semifinal. Kekalahan dengan angka tipis dari lawan lebih menyesakkan dibandingkan dibantai dengan skor besar. Kekalahan yang tipis membuyarkan bayangan tentang prestasi yang hendak diraih. Sehingga wajar mereka meluapkan kesedihan dengan air mata. Wajar mereka berduka, karena mereka sangat berharap gelar juara. Pembuktian kepada semua pihak, bahwa orang-orang desa mampu berprestasi dengan segala keterbatasan.

Kondisi seperti ini apabila tidak segera di atasi akan membuat anak-anak menjadi trauma, dan semakin menjadi anak-anak yang inferior. Tugas para guru adalah memberikan dorongan semangat, menenangkan hati kecil mereka. Jangan berlarut-larut bersedih, masih ada hari esok. Esok matahari akan bersinar lebih pijar daripada hari ini. Hari ini bukan akhir perjalanan, hari ini baru pijakan untuk melangkah ke depan. Banyak hal yang didapatkan pada hari ini, optimisme yang tinggi kalau tidak berhasil akan menimbulkan luka yang begitu dalam. Optimisme diperlukan tapi kita juga harus realisitis terhadap kemampuan kita.

Guru harus mampu kembali membangun mental anak. Guru yang baik adalah guru yang bisa memberikan kedamaian hati bagi anak-anak didik. Guru yang baik adalah guru yang mampu menjadikan kesedihan berubah menjadi tawa. Jangan hanya bisa menjadi guru yang sering memarahi anak didik. Sebagai guru harus mengajarkan anak penuh dengan cinta. Merekalah anak-anak yang akan menjadi generasi emas Indonesia. Mereka adalah tumpuan dan harapan di masa yang akan datang. Jadilah guru yang mampu memberikan kehangatan bagi anak didik yang merasa kedinginan akibat kesedihan. Jadilah guru yang mampu memberikan sinar harapan kepada anak didik.

Motivasi dibarengi dengan apresiasi yang tinggi terhadap perjuangan anak, membuat anak didik menjadi senang. Meraka merasa apa yang mereka lakukan dihargai oleh guru-guru mereka. Kekalahan hanya kemenangan yang tertunda, selama mau berusaha mimpi menjadi juara bukanlah hanya hidup di alam pikiran melainkan juga bisa menjadi kenyataan. Kalau setiap kekalahan atau kegagalan guru terus menyalahkan anak, itu akan membuat anak tidak akan menjadi berkembang. Kekalahan dan kegagalan harus mampu membuat guru berintropeksi diri terhadap apa yang mereka ajarkan selama ini. Guru terbaik adalah pengalaman pada masa lampau.

Pada akhirnya anak-anak bisa bangkit dari keterpurukan. Pada keesokan harinya mereka bisa memenangkan pertandingan. Semangat mereka lebih membara dari pada sinar matahari pada saat itu. Anak-anak bersemangat karena ingin juara dan mereka bakal melawan bisa dikatakan musuh bebuyutan. Tuangan minyak motivasi dari guru membuat semangat meraka menjadi lebih membara lagi. Mereka bermain lepas tanpa beban, sorakan supporter membuat mereka menjadi lebih kuat. Meraka bisa bangkit untuk memperoleh apa yang meraka inginkan. Pada tahun ini juara tiga, mungkin tahun depan akan menjadi juara dua, dan pada akhir nanti bisa memperoleh apa yang mereka inginkan menjadi yang pertama. Kuncinya adalah tidak sombong, selalu memperbaiki kekurangan dan bersyukur kepada Tuhan.

(kisah perjuangan anak didik di SMP Muhammadiyah 6 Ngawi mengikuti OPM Tahun 2014)

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s