Namanya Om On. Dia adalah teman baruku di Pascasarjana pendidikan sejarah UNS. Dia seorang guru tapi dari tingkah lakunya tidak mencerminkan seorang guru.

om on by herlianaPertama kenal dia, sejak aku menagih uang rutin kas kelas. Aku bertanya siapa namanya, dan dia menjawab namanya “Heru”. Aku bingung, yang ku tau, di absen kelas tidak ada yang bernama Heru. Sepintas aku jadi teringat, dulu ketika aku baru lahir, aku dikira laki-laki oleh Mbahku, dan Bapakku sangat senang sekali mendengar anak pertamanya adalah laki-laki. Sebelumnya Bapak sudah menyiapkan nama, kalau laki-laki akan diberi nama Heru Prasetyo Wibowo, sedangkan kalau perempuan bernama Arindiani Muninggarsari. Ternyata Bapak kecewa, karena ternyata aku ini perempuan. Akhirnya namaku diubah menjadi Herliyana Rosalinda. Heru diganti dengan Herliyana, dan nama akhirku Rosalinda akupun tidak tau jelas apa arti sebenarnya dari nama itu.

Kembali lagi pada Om On. Ya selanjutnya kami ternyata terlibat dalam satu kelompok mata kuliah transformasi pendidikan. Awalnya, aku sering memanggilnya Heru, lalu dia selalu cepat membenarkan dengan gaya khas jawabnya “Om On Om On!”, dan akupun tertawa setiap melihat ekspresinya itu. pada hari berikutnya, jam pertama adalah mata kuliah sejarah lokal. Pada saat itu aku datang telat, dikelas sudah penuh dengan teman-teman, dan aku langsung menempati kursi kosong di pojok kiri depan. Disamping kananku ternyata si anak ini tadi. Om On langsung menegurku yang masih kegerahan karena jalan cepat-cepat menuju kelas. Dia berkata “eh bocah kok senenge telatan. Kita ini calon pengajar, bagaimana nanti anak didiknya, jika pengajarnya saja telat!”. Mendengar kata-kata itu, dalam hati aku meng-iyakan, dan sedikit tertohok ­-__-, tapi ternyata belakangan baru aku tau bahwa sebenarnya dia pun telat, hanya saja dia datang sedikit lebih awal dibanding aku.

Sejak saat itu, aku sering mengobrol dengannya. Aku merasa lucu dengan gaya bicaranya yang cepat, ceplas-ceplos, ngelantur, tapi ya kadang-kadang bener. Selain itu, terkadang ketika Om On berbicara dengan bahasa jawa timuran, ada beberapa kata yang mengingatkan aku pada Bojonegoro, kampung halaman orang tuaku. Dan terlebih lagi aku jadi ingat gaya bahasa Ibu di rumah yang sampai sekarang masih selalu berbahasa jawa meski sudah 24 tahun hidup di Jakarta.

Om On sering memanggilku dengan sesukanya; Lia lia lia (salah satu judul lagu sheila on 7), ndut, ataupun heru. Dia menyebut pertemanan kita sebagai simbiosis mutualisme, saling membutuhkan atau mungkin saling melengkapi. Om On memperlihatkan blognya yang berisi tulisan-tulisannya. Aku sendiripun tidak mempunyai blog, karena aku tidak bisa menulis, aku lebih senang menggambar. Menurutku menggambarkan sesuatu itu lebih mudah ketimbang menuliskannya. Sedangkan Om On senang menulis, sebagian tulisannya seputar dengan kejadian-kejadian yang dialaminya, dikemas menarik dan lucu. Sejak aku menggambarkan siluet wajahnya ketika kuliah disiang itu, ternyata Om On memberi apresiasi diluar dugaanku. Menurutnya gambarku itu bagus, mirip dengan dirinya. Aku tiba-tiba jadi senang, aku pikir itu hanya gambar yang sangat sederhana. ya selama ini banyak orang yang sudah aku gambarkan, dan salah satu ekspresi seperti dari Om On inilah yang menjadi penyemangat dan membuatku bangga dengan apa yang aku buat.

Om On memintaku untuk membuatkan gambar di tulisan-tulisannya dan juga membuatkan logo untuk blognya. Aku merasa senang, ya karena sedikitnya hobiku tersalurkan. Hmm jadi ilustrator kecil-kecilan lebih tepatnya. Ide tulisan datangnya dari Om On, dan aku membuatkan ide gambaran ilustrasinya, menyenangkan J

Kita semakin akrab. Om On sering mengantarku membeli roti untuk dosen, dan mengantar jemput ku dari kos ke kampus. Aku terkkadang merasa, simbiosis mutualisme ini lebih berat di Om On, aku selalu merepotkannya, aku hanya bisa memberi kontribusi sebisaku, ya kuharap dia ikhlas menerima beban ini.Ketika dijalan, aku yang dibelakangnya membonceng dan kami hendak menyebrang jalan, Om On selalu bilang “Lia, tangannya awe-awe”, awe-awe itu bahasa planetnya Om On yang menyuruhku untuk melambaikan tangan, tanda untuk pengguna jalan di belakang kami, bahwa kami akan menyebrang. Selain itu, ketika dia telah sampai kosku saat menjemput. Dia slalu mengsms “lia keluarlah dari kandang”.

Itulah Om On, pemuda konyol dari Ngawi. Sebatas ini, yang aku lihat darinya, Dia punya semangat yang jarang aku lihat di antara teman-teman laki-laki yang lainnya. Dia selalu berkata bahwa dirinya itu gembel, dari desa. Ya memang jika dilihat memang begitu, dia berasal dari desa. Tapi Om On membawaku pada sisi lain. Aku tau, tidak smua orang desa itu ndeso, dan itu smua aku liat pada diri Om On. Dia sederhana, tapi wawasannya, semangatnya, pola berpikirnya itu luas. Dia membangun mindset bahwa orang desa juga bisa berprestasi. Dibalik kekonyolannya, dia serius, dibalik seirusnya dia konyol. Entahlah sejauh ini, itu yang aku bisa lihat darinya. Kenal dengan makhluk ini, aku menjadi lebih tertantang untuk rajin kuliah. Rajin mengerjakan tugas, baik tugas dari dosen ataupun tugas gambar darinya. Okeee. Intinya berteman dengan Om On itu diibaratkan seperti yang biasa ada di dialog perkenalan bahasa inggris di sekolahan; “Nice to meet you, Om On”

herliana rosalinda penulis bernama herliana rosalinda, saat kuliah di UNS pada program magister pendidikan sejarah. semua karikatur dalam tulisan pada blok ini dibuat oleh beliau yang terhormat. ucapan sekedar terimakasih mungkin tidak sanggup untuk membalasnya. semoga dengan keiklhasan bantuan ini, dia mendapatkan balasan dari Tuhan YME.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s