Memberi, memahami dan melengkapi

om on by herlianaBeberapa hari ini Om On berubah menjadi seorang motivator. Mario Teguh, Tung Dasem Waringin hingga Bong Chandra merupakan motivator papan atas di Indonesia. Banyak nasehat-nasehat dari mereka yang membuat seseorang menjadi pribadi-pribadi yang super, sukses dan bisa meninggalkan masa kegalauan. Tokoh-tokoh tersebut seperti matahari yang mampu memberikan sinar pengharapan kepada hamba-hamba yang baru mengalami permasalahan. Melalui kata-kata dan nasehat mereka, banyak orang yang menjadi lega dengan isi hati yang disesaki dengan berbagai permasalahan. Terus apa jadinya kalau Om On menjadi seorang yang berpura-pura motivator???

Jangan-jangan nasehatnya akan menjerumuskan mereka yang curhat menuju jurang kesesatan..

Mr X : “beb, kamu lagi apa?”

Mr Y:”lagi nonton TV”

Mr X :”sudah makan apa belum beb?”

Mr Y:”sudah”

Nah itulah yang diceritakan salah satu anak didik Om On terhadap dirinya. Sebagai seorang guru, Om On sering dimintai nasehat oleh anak didiknya. Terkadang hal itu rasanya mustahil, seorang On mampu memberikan nasehat karena dari tampilannya dia nampak tidak seperti orang waras. Pikirannya berbeda dengan kebanyakan pikiran orang lain. Kalau orang lain mengajarkan mengenai optimisme, dia malah mengajarkan pesimisme. Hal yang sangat bertolak belakang. Kalau guru yang lain berpenampilan rapi, dia berpenampilan awut-awutan. Katanya, dia adalah manusia tertampan nomer dua di dunia. Sebenarnya tidak sih, itu hanya untuk menghibur dirinya sendiri.

apelNah, pecakapan di atas merupakan isi sms yang ditunjukan anak didiknya kepada Om On. Om On tidak pernah melarang anak didiknya untuk saling menjalin cinta dengan lawan jenis. Menurut Om On dalam kisah cinta atau pacaran sebenarnya ada satu sisi yang yang baik, bagaikan satu buah apel yang segar dalam sekeranjang apel yang berduri. Kalau bisa memilih dan memilahnya kita dapat menikmati apel yang segar itu tadi, namun kalau kita salah bisa berdampak buruk bagi perasaan dan pada akhirnya bagi kesehatan. Perasaan yang tersakiti akan sulit tersembuhkan apabila kita terlalu menaruh lebih harapan kepada seseorang. Dan pada akhirnya akan berdampak buruk bagi keseharan. Hal tersebut pernah dialami oleh teman Om On pada saat kuliah dulu.

Kalau kita membaca percakapan tersebut sebenarnya itu merupakan hal yang biasa-biasa saja. Itu bukanlah sms tentang seorang cewek yang mengajak putus cowoknya. SMS tersebut merupakan satu bentuk perhatian dari seseorang kepada orang lain. Kalau dipikir-pikir sebenarnya pacaran dan pertemanan itu tidak jauh berbeda. Pacaran sifatnya lebih mengikat dan memaksa. Kita harus menuruti segala peraturan yang dibuat selama itu hubungan akan dapat dipertahankan. Akan tetapi apabila kita tidak mau dipaksa menuruti aturan tersebut, maka harapan terburuk adalah putusnya hubungan.

Pada masa pacaran semua hal yang dulunya mustahil bisa menjadi sangat mungkin. Mereka menjadi buta dengan nilai norma dan etika yang ada. Dunia serasa milik berdua. Segala hal akan diperbuat untuk pasangannya. Katanya cinta butuh pembuktian, mungkin hal itulah yang membuat Bandung Bandowoso mau menerima apa yang diperintahkan oleh Roro Jongrang untuk membuat seribu candi sebagai bukti cintanya kepada wanita itu tadi. Kata pra pujangga, cinta itu ibarat iman, yaitu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dipraktekkan dalam kegiatan. Dan selama ini orang-orang hanya terfokus pada ucapan lisan dan praktek yang lebih mendekati hal-hal yang tidak diinginkan.

Konten dari SMS tersebut adalah adanya ketimpangan antara dua sejoli tersebut. Yang satu pemberi dan yang satunya hanya penerima. Padahal konsep pacaran yang baik adalah saling memberi, saling melengkapi, saling memahami bukan hanya sekedar saling memiliki. Memberi cinta, memahami kekuarangan masing-masing dan pada akhirnya saling melengkapi. Manusia sudah diciptkan oleh Tuhan berpasang-pasangan dimuka bumi ini. Apabila mendapatkan pasangan harus bisa saling memberi cinta jangan hanya sekedar cinta satu arah, yang satu memberi dan satunya hanya menerima. Apa jadinya kalau nanti si pemberi sudah lelah? Apakah si penerima akan bergantian memberi? Jawabannya belum tentu iya, sebagian malah tidak. Si penerima akan berganti mencari si pemberi yang lain dan melupakan pemberi yang pertama.

Setiap orang pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Sikap saling memahami kekurangan dan kelebihan pasangan adalah hal yang tidak mudah. Pasangan kita tidak mau tahu dengan kelemahan kita. Sebenarnya ada dampak positifnya bagi kita, yaitu kita dituntut menjadi sempurna versi dia yang mungkin akan bertentangan dengan perasaan hati kita. Alangkah mulianya juga kita mampu memahami kekurangan orang lain. Kita mencintai seseorang bukan karena hanya memandang kelebihannya melainkan juga mengerti dan mampu memahami kekurangan pasangan kita. Nah hal itu nanti akan membuat kita saling melengkapi satu dengan yang lain. Kebanyakan orang hanya terfokus pada konsep saling memiliki sehingga kalau pasangan dengan orang lain dia akan marah. Cowok atau cewek yang terlalu protectif, akan mengekang pasangannya untuk berkreasi. Om On selalu menasehati anak didiknya alangkah baiknya jangan pacaran terlebih dahulu, dikarenakan porsi antara sisi positif lebih sedikit dari pada sisi negatifnya.

Om On teringat ketika dia masih muda. Untuk mendekati seorang wanitapun dia tidak pernah berani. Om On adalah pemuda yang pendiam dia jarang terlibat asmara dengan lawan jenis. Kalau biasanya cowok yang mengejar-ngejar cewek, tapi dalam kehidupan Om On hal itu berkebalikan, para ceweklah yang mengejar-ngejar Om On. Tapi Om On adalah pemuda yang tangguh dan sulit untuk ditaklukan oleh para wanita. Om On memiliki perasaan takut apabila didekati oleh wanita. Selain takut dia juga merasa malu apabila namanya dipasangkan dengan nama wanita. Itulah mental anak desa zaman dahulu. Zaman ketika manusia masih culun, dengan tatanan rambut belah samping.

Namun perkembangan zaman sulit untuk terelakkan. Media informasi telah meracuni anak didik kita dengan hal-hal baru yang bukan merupakan kepribadian bangsa kita. Remaja Indonesia masih dalam taraf labil dan sering hanya ikut-ikutan trend yang ada. Mereka belum mampu menyaring budaya yang masuk ke Indonesia. Mereka menerima begitu saja apa yang disajikan oleh media. Mereka mendewakan media, semua yang ada dimedia semuanya benar dan pantas untuk ditiru. Televisi di negeri ini mengajarkan banyak hal yang kurang tepat bagi generasi masa depan Indonesia. Anak dinegeri ini belum mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka. Pembelajaran yang didapat dari media informatika tadi mampu merubah wajah anak-anak bumi pertiwi seperti anak-anak barat. Sopan santun, ramah, gorong royong dsb yang menjadi keunggulan negeri ini seoalah-olah menjadi luntur. Orang-orang yang mudah galau, gampang terombang-ambing keadaan menjadi ciri dari remaja Indonesia masa kini.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

5 responses »

  1. Rino Hanggoro berkata:

    sip2 mas doni
    jangan lupa mampir ke blogku jg 😀
    http://cintarenang.blogspot.com/

  2. Asschyan berkata:

    Seperti apa ya kalo seorang Om On jatuh cinta??? *thinking*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s