sapi alayAlay dan lebay, kata yang akhir-akhir ini sedang mengemuka di negara begundal. Kita bisa hampir setiap hari melihat orang-orang alay dan lebay dari layar yang berbentuk kotak yang sepertinya akan menjadi dewa bagi kita, televisi. Popularitas kata tersebut mulai disaingi dengan cita citata bercita cita cacitnya cudicini menjadi penyanyi dangdut dadakan. Kepopuleran kata tersebut mulai meredupkan kepopuleran kata korupsi yang pasca reformasi menjadi musuh yang paling dicari. Kepopuleran Alay dan Lebay mengiringi kepopuleran yang lainnya, karena Alay dan Lebay sudah menyusup dalam sendi-sendi kehidupan di negara Begundal.

Alay merupakan salah satu bentuk proses kehidupan manusia di Republik begundal. Alay adalah salah satu fase menuju proses pendewasaan, katanya. Kalau saat alay bisa segera move on maka dewasa akan didapatkan, kalau alay tetap saja dipertahankan akan memunculkan penyakit yang mungkin lebih menyeramkan dibandingkan virus H5N1 atau sebanding dengan virus cinta dari B1N1, virus yang membahayakan itu adalah virus 4L4Y. Tapi tenang, katanya virus flu burung itu hanya virus yang mengada-ada yang hanya dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk memperoleh keuntungan. Kamu harus lebih takut lagi dengan virus baru yang lagi mendunia, virus ebola. Apalagi kini persaingan liga Champion lebih sengit daripada tahun kemarin.

Orang-orang yang mengidap virus ini akan tampil mencolok, entah itu dari gaya rambut, cara berpakaian, cara bertingkah laku, cara berbicara hingga cara menulis sms. Jangan bilang kalau orang Papua yang pakai koteka itu alay lho ya? kamu nanti bakal kena panah kayak para petugas yang ada di PT Freeport. Ya wajarlah mereka kena panah, lha wong mereka mengeksploitasi kekayaan alam Papua dan membawanya ke Amerika.

sapi ungguCara orang-orang alay berinteraksi dengan sesama itu pun dapat dikenali kalau mereka gerombolan dari kaum alay. Kalau orang korupsi bisa menyamar dan bersembunyi-sembunyi di dalam masyarakat, orang-orang alay malah show up kepada semua. Lihatlah orang-orang yang korupsi itu, mereka nampak santun akan tetapi hati mereka penuh dengan ketamakan. Berkedok keagamaan untuk menutupi kebohongan. Hal yang sama pernah dilakukan oleh Jacob van Neck ketika memimpin rombongan kedua orang-orang Belanda yang sampai Indonesia. Mereka nampak santun, dikarenakan dia, belajar dari sejarahnya Cornelieus de Houtman yang diusir dari Banten akibat kepongkahannya. Orang-orang alay akan blak-blakan dengan apa yang mereka ingin lakukan. Tolong perhatikan kami, itu kira-kira permintaan mereka

Pernahkah kalian mendapatkan sms dari orang alay?? Kemungkinan kalian akan sulit untuk membacanya. Butuh pakar informatika atau pakar bahasa untuk mengartikannya. Orang-orang alay tersebut bilang “sore” saja “core”, semangat diganti “cemungud”. Singkatan sms meraka itu tidak menggunakan standar nasional, melainkan menggunakan standar sesuka hatinya. Ya jangan seperti itulah, helm aja suruh pakai helm yang standar masak sms nggak pakai standar. Jangan sampai salah mengartikan singkatan sms low ya. Niatnya sms mesra pada pacar malah disalah artikan gara-gara pacar nggak tahu arti sebenarnya kemudian putus, kan kasihan.

Lebay itu melebih-lebihkan sesuatu, bisa hiperbola maupun ironi entah majas apalagi yang ada dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolahan. Berarti memang sejak kecil kita sudah dididik untuk lebay. Lebay dalam berbahasa akan menambahkan keberagaam tata bahasa di negara begundal. Kata-kata tersebut merupakan kata-kata asli yang bersumber dari kerpibadian bangsa ini, sehingga kita harus melaksanakannya secara murni dan konsekuen seperti halnya tujuan dari Orde Baru (1966-1998).

Jangan salahkan kalau orang-orang di republik para begundal melebih-lebihkan sesuatu. Lihat itu saking malesnya menghitung, para begundal itu mengatakan sesuatu yang banyak itu dengan kata sewu. Air tejun yang terkenal di kabupatan Karanganyar namanya Grojogan sewu. Tidak jauh dari kompleks air terjun terdapat hutan cemara yang banyak dan penduduk sekitar menemakannya sebagai cemara sewu. Kalau ada yang ingin memastikan jumlahnya, berarti dia memang kurang kerjaan.

Selain itu ada yang namanya candi sewu, jumlahnya juga nggak nyampek seribu. Terus ada lagi yang namanya lawang sewu di Semarang. Tempat terkenal mistis itu merupakan sebuah gedung peninggalan zaman Belanda yang pada saat itu dijadikan sebagai kantor kerata api, akan tetapi pada zaman Jepang dirubah fungsinya menjadi penjara. Bangunan tua yang masih berdiri kokoh tersebut ternyata jumlah pintunya tidak ada seribu. Bukannya orang zaman dahulu membuat kebohongan publik, tapi orang zaman dahulu mengatakan banyak itu dengan ungkapan sewu.

Percaya nggak kalau Didi Kempot itu mencari pacarnya di sewu kutho (seribu kota)??? Kelihatannya nggak mungkin kalau dia melakukannya, mungkin banyak kota tapi tidak sampai seribu kota. Jodoh itu nggak perlu dicari jauh-jauh karena jodoh itu nggak mungkin tertuker selama kita mau memilih. Seperti ini contohnya pahlawan perang puputan itu I Gusti Ngurah Rai. Itu low perang yang sampai titik darah penghabisan di Bali saat Belanda menolak hukum tawan karang yang diterapkan warga Bali. Nggak mungkin tokohnya diganti dengan tokoh lain semisal Pangeran Diponegoro. Nggak mungkinnn

Para pejabat saat ini juga lebay, mereka melebih lebihkan anggaran untuk kemudian dinikmati sendiri atau perkelompok bukan untuk rakyat banyak. Terus kemudian kalau meraka diduga korupsi ada yang lebay dengan sumpah akan ini itu kalau terbukti korupsi dan ada pula yang melarikan keluar negeri. Kalau mereka tertangkap, lebay mereka nampak lagi, ada yang pura-pura sakit ingatan ada pula menggandeng pengacara mahal untuk membela mereka di pengadilan. Sebenarnya guna pengacara itu apa sihhh? Mbela orang jahat???

Terus siapa yang akan mbela kamu saat bertengkar dengan pacarmu? KPK???

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s