Latar belakang Kurikulum 2013

kurikulum 2013Sejak digulirkannya leer plan 1947 [1], tahun ini adalah ke-11 kalinya pemerintah Indonesia melakukan pembaharuan kurikulum. Seperti kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2013 merupakan alternatif jawaban dari sebuah tantangan jamannya. Di era yang serba borderless saat ini, pendidikan dituntut untuk dapat beradaptasi guna menjamin tercapainya tujuan pendidikan nasional. Sebuah kata kunci untuk menggambarkan zaman ini secara komprehensif adalah: Globalisasi[2]. Dimana WTO, ASEAN Comunity, APEC, CAFTA turut mempengaruhi wajah Indonesia, tidak hanya terhadap aspek ekonomi dan politik, melainkan pula sosial, budaya dan bahkan pendidikan.

WTO misalnya, pada tahun 2005 menyetujui General Agreement on Trade in Services (GATS – Perjanjian Umum Perdagangan Jasa), dimana pendidikan merupakan salah satu dari 12 bidang jasa tersebut. WTO telah mengidentifikasi 4 mode penyediaan jasa pendidikan sebagai berikut:

  1. Cross-border supply, institusi pendidikan tinggi luar negeri menawarkan kuliah-kuliah melalui internet dan on-line degree program;
  2. Consumption abroad, adalah bentuk penyediaan jasa pendidikan tinggi yang paling dominan, mahasiswa belajar di perguruan tinggi luar negeri;
  3. Commercial presence, atau kehadiran perguruan tinggi luar negeri dengan membentuk partnership, subsidiary, twinning arrangement dengan perguruan tinggi lokal, dan
  4. Presence of natural persons, dosen atau pengajar asing mengajar pada lembaga pendidikan lokal.

Liberalisasi pendidikan tinggi menuju perdagangan bebas jasa yang dipromosikan oleh WTO adalah untuk mendorong agar pemerintah negara-negara anggota tidak menghambat empat mode penyediaan jasa tersebut dengan kebijakan-kebijakan intervensionis[3]. Terlihatlah bagaimana pemerintah harus mengejar tanggungjawabnya sebagai anggota WTO dengan setidaknya menyetarakan kualitas pendidikan dalam negeri dengan pendidikan luar negeri. Terlepas dari itu evaluasi kurikulum merupakan agenda periodik yang muaranya pada peningkatan mutu pendidikan. Pada masa orde lama, kurikulum hampir statis selama 20 tahun, di masa orde baru kurikulum diperbaharui rata-rata setiap 10 tahun, sedangkan pasca reformasi, kurikulum 2013 merupakan pemutakhiran kedua dari KBK 2004.

Kurikulum 2013 pada dasarnya melanjutkan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Ada beberapa hal yang melandasi perubahan dari kurikulum kali ini, terutama dari permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan KTSP 2006, antara lain:

  1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
  2. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
  3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
  4. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
  5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
  6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
  7. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
  8. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir[4].

Berdasarkan dari evaluasi terhadap kelemahan-kelemahan kurikulum KTSP 2006 tersebut Kemendikbud membentuk konsep kurikulum baru yang menitik beratkan pada penyederhanaan mata pelajaran dan membuat struktur materi yang tematik-integratif. Selain dua hal mendasar tersebut, yang menjadi ciri pula adalah penambahan jam belajar siswa. Anak usia sekolah di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu di sekolah lebih sedikit dibanding negara lain yang relatif maju dalam bidang pendidikan. Namun demikian muatan materi pelajaran di Indonesia justru dinilai terlampau berat.

Ranah afektif juga mendapat perhatian cukup besar dalam kurikulum ini, dimana fenomena perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam ujian (contek, kerpek), gejolak masyarakat (social unrest) menjadi dasar digalakkannya kembali pendidikan karakter. Yang tidak kalah penting dalam kurikulum baru ini adalah paradigma belajar yang diusung dalam proses pembelajaran, yaitu mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba (observation based learning) untuk meningkatkan kreativitas peserta didik.

Dengan segala keterbatasannya, terutama terkait waktu dan sosialisasi, kurikulum 2013 telah diluncurkan secara resmi oleh Menteri Pendidikan M. Nuh melalui Permendikbud No. 81A tahun 2013 pada tanggal 27 Juni 2013. Kurikulum 2013 mulai diberlakukan di 6.329 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia pada tahun ajaran 2013/2014. Jawa Timur nampaknya adalah daerah yang paling siap mengimplementasikan kurikulum ini, dimana 1.055 sekolahnya terdaftar sebagai pelaksana kurikulum 2013[5].

Catatan:

Materi didapatkan dari makalah yang disusun oleh Ageng Sanjaya, Doni Setyawan, Wahyu Pambudi, Diana Trisnawati, dan Prihadi Dwi Hatmono yang merupakan mahasiswa Magister Pendidikan Sejarah FKIP UNS Angkatan tahun 2013 dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Transformasi Pendidikan yang diampu oleh Drs Djono, M.Pd

[1] rencana pembelajaran dalam bahasa Belanda, sebuah istilah yang sama dengan padanan kata kurikulum saat ini. Anonim, 2011. Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia. Jakarta: PJJPGSD., hlm. 70.

[2] Sistem ekonomi global, muncul tahun 1959. Online Etymology Dictionaryhttp://www.etymonline./index.php?term=globalization diakses 30/09/2013 11:16

[3] Sofian Effendi, 2005. GATS dan Liberalisasi Pendidikan Tinggi. Makalah pada Diskusi “GATS: Neo-imprialisme modern dalam Pendidkan” diselenggarakan oleh BEMKM UGM, Yogyakarta, 22 September 2005.

[4] Bahan uji publik Kurikulum 2013. http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/uji-publik-kurikulum-2013-1 diakses 27/12/2012 9:56

[5] Data dari Portal EPIK (Sistem Elektronik Pemantauan ImplementasiKurikulum 2013). http://kurikulum.kemdikbud.go.id/public/school diakses 30/09/2013 14:14

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s