Sultan-Iskandar-Muda-AcehAceh merupakan daerah di Indonesia yang terletak paling barat. Aceh merupakan pintu gerbang menuju wilayah nusantara. Pada masa dulu, Selat Malaka yang terletak di utara Pulau Sumatera merupakan jalur lalu lintas perlayaran laut yang sangat penting. Jalur tersebut menghubungkan pedagang dari Cina dengan pedagang dari daerah barat. Daerah Aceh mendapatkan julukan sebagai serambi Mekah. Hal ini dikarenakan kehidupan social masyarakat Aceh seperti yang ada di Mekah. Daerah Aceh merupakan daerah pertama kali yang mendapatkan pengaruh Islam dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Sumber sejarah kerajaan Aceh bisa ditelusuri dari kitab Bustanussalatin karangan Nuruddin Ar-Raniri yang menceritakan raja-raja Aceh.

Masyarakat Aceh terbagi atas dua golongan yaitu golongan teuku dan golongan Tengku. Golongan Teuku terdiri dari kaum bangsawan sedangkan Tengku adalah kaum ulama. Sering terjadi permusuhan antara kedua golongan tersebut. Kerajaan Aceh berkembang dari sector perdagangan. Komoditi unggulan dari Aceh adalah Lada. Kerajaan Aceh menjalin kerjasama dengan Kerajaan lain antara lain dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Timur Tengah.

Aceh merupakan daerah yang sangat luar biasa di Indonesia. Aceh mendapatkan status daerah istimewa. Sejarah Aceh sangat panjang dan mewarnai sejarah Indonesia. Dari perjuangan Aceh melawan bangsa Portugis hingga pemberontakn GAM di Aceh. Nama pahlawan dari Aceh seringkali menghiasi buku sejarah Indonesia antara lain Sultan Iskandar Muda, Cut Nyak Dien, Teuku Umar dsb. Aceh seringkali melakukan perlawanan terhadap bangsa asing yang mengusik kehidupan rakyat Aceh. Aceh sangat sulit ditaklukan oleh bangsa manapun. Belanda baru menguasai Aceh itupun gara-gara adanya strategi dari Snouch Horgrounje yang berhasil melihat kelemahan Aceh.

Perlawanan yang akan dibahas kali ini adalah perlawanan rakyat aceh terhadap Portugis di Malaka. Perdangan Malaka yang menjadi tempat penting saat itu dikuasi oleh Portugis (1511) dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Bangsa Portugis kemudian melarang pedagang Islam untuk berdagang di Malaka. Hal ini sebagai balas dendam terhadap orang-orang Islam (Turki Usmani) yang melarang Portugis berdagang di Konstantinopel. Selain itu Portugis berupaya memonopoli perdagangan yang ada di Malaka untuk kemakmuran mereka sendiri.

Monopoli perdagangan dan Portugis menangkapi kapal-kapal Aceh, membuat Kerajaan Aceh berupaya untuk mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1629, Aceh mencoba menaklukan Portugis di Malaka. Raja Aceh saat itu adalah Sultan Iskandar Muda. Namun usaha tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan antara lain tidak dipersiapkan secara baik, perlengkapan senjata yang digunakan masih sederhana, dan tidak semua pejabat kerajaan Aceh mendukung politik perluasan Aceh.

Iklan

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s