mobil kunoAku berpikir bahwa saat ini benar-benar berbeda dengan zamanku dulu Yanindra. Iya, benar-benar kata-kata zeitgeist yang disampaikan pak prof saat kuliah ku rasakan saat ini ketika aku menyaksikan dengan mata dan kepalaku sendiri tindakan anak-anak yang ada di depanku ini. Zeitgesit kata pak prof itu adalah jiwa zaman. Setiap zaman memiliki jiwanya sendiri Yanindra. Zaman Bung Karno akan berbeda dengan zaman Pak Harto dan akan berbeda lagi dengan zaman Pak Joko tapi ini tetap satu Yanindra, walaupun zaman telah berbeda kita tetap tinggal di tempat yang sama, Indonesia.

Andaikata kita sedikit mengkaca, akan nampak perbedaan-perbedaan orang-orang saat ini dengan orang-orang pendahulu kita pada masa lalu dan entah apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Katanya masa kini (present) merupakan jembatan antara masa lalu (last) dengan masa yang akan datang (future). Anak-anak yang di depanku ini tidak suka Sejarah Yanindra. Mereka mengatakan bahwa masa lalu biarlah berlalu, dan untuk apa mempelajari masa lalu karena kita tidak akan hidup di masa lalu. Lebih baik kita mempelajari masa depan karena kita akan hidup di masa yang akan datang.

Aku setuju sekali dengan gagasan dari anak-anak yang ada di depanku ini Yanindra. Aku juga tidak terlalu suka dengan sejarah, sejarah itu banyak kontroversinya Yanindra. Satu peristiwa yang ditulis dalam sebuah buku, mungkin akan ditulis berbeda dibuku lain dengan peristiwa yang sama. Sampai saat ini aku masih bingung mana yang benar dari peristiwa gerakan tiga puluh September yaitu sebuah malam petaka yang mana para jenderal angkatan darat dibunuh, entah itu dibunuh atau terbunuh.

Angkasa itu luas, begitu juga dengan masa lalu itu sendiri. Sejarah itu cangkupannya sangat luas Yanindra kalau sejarah diartikan sebagai geschicht yang berasal dari geschehen yang berasal dari bahasa Jerman yang berarti sesuatu yang telah terjadi, berarti setiap orang bisa dan memiliki sejarah sendiri. Selama ini orang-orang hanya berpikiran sempit dan dangkal kalau peristiwa sejarah itu “cuman” seperti yang diajarkan oleh guru-guru sekolahan saja. Bahkan kata pak Kyai, isi dari kitab suci itu sebagian besar adalah sejarah. Itu menandakan bahwa Tuhan juga mengingatkan kepada manusia agar belajar dari pengalaman orang-orang terdahulu kita.

Aku merasakan ada yang berbeda antara mereka dengan anak-anak zaman aku dahulu Yanindra. Sungguh jauh berbeda meski dengan balutan yang sama, sama-sama anak-anak. Saat ini memang sulit mendefinisikan kata”anak-anak” kalau dilihat dari postur tubuh Yanindra, kalau dari umur sudah jelas patokan mana anak-anak dan mana orang dewasa. Tapi perilaku anak-anak saat ini sudah mirip dengan orang dewasa ki Yanindra.

Ada seorang anak kelas satu SMP yang bercerita kepadaku bahwa pertama kali ia pacaran itu sejak kelas IV SD. Jambuuuuuuuuu, keren sekali

Aku membayangkan ketika dulu saat aku masih kelas IV SD. Aku kembali bernostalgia dengan masa laluku ketika aku masih menjadi anak-anak yang santun, tampan, baik dan barang tentu cerdas. Masa dimana aku dipuja-puja sebagai seorang manusia yang sempurna. Heoheoheo…… Pada masaku itu jangankan pacaran Yanindra, dekat dengan cewek saja sudah barang tentu aib, yang membuat takutnya luar biasa.

Aku masih ingat dulu ketika sekolah masih menggunakan kapur sebagai alat tulis, tidak seperti sekarang yang menggunakan whiteboard. Aku juga masih ingat waktu itu, kami belajar dengan sungguh-sungguh dari menulis, membaca hingga menghitung. Dari “ini ibu budi” hingga menghitung jumlah makanan. Kalau sekarang semua sudah berbeda Yanindra. Jiwa anak-anak sekarang ini sudah berbeda dengan jiwa zaman ketika aku masih kecil dulu. Anak-anak sekarang sudah mulai terkikis rasa malunya. Anak SD saja sudah mulai pacaran, dan tontonan film orang dewasa sudah menjadi jatah mereka. Butuh revolusi mental untuk memperbaiki semua ini.

Apakah ini pengaruh westernisasi Yanindra???

Apapun pengaruh dari luar, kalau fondasi mental kita sudah kuat, mungkin kita akan dapat memilah dan memilih mana yang baik dan buruk bagi kita Yanindra. Memang saat ini sulit sih membedakan mana putih dan mana yang pink. Anak-anak kecil itu pacarannya sudah terlewat batas Yanindra. Dan aku sekarang mulai bingung mana sebanarnya batas antara yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Mana lagu anak-anak dan mana lagu orang dewasa. Mana pakaian untuk anak-anak mana pakaian orang dewasa. Manusia tanpa sekat, mungkin itu yang terjadi pada saat ini.

Aku pun dapat memastikan bahwa jiwa zamannya memang berbeda Yanindra. Permainanku kecil dulu sungguh berbeda dengan permainan anak-anak saat ini. Sungguh berbeda dan mungkin tidak sama. Jiwa zaman mempengaruhi segalanya Yanindra. Anak-anak dibesarkan dengan bergelimang harta, orang tua mulai lupa dengan memberikan cinta. Orang tua menganggap harta itu adalah cinta, dengan menyediakan apa yang mereka inginkan orang tua menganggap itu cinta. Tapi mereka lupa bahwa esensi dari cinta bukanlah harta semata.

Anak-anak kecil nggak tahu malu Yanindra. aku melihat dengan mataku sendiri setiap pagi ada beberapa anak SMP yang dengan pedenya menghisap puntung rokok saat berjalan menuju sekolah. Kalau zamanku dahulu itu tidak ada Yanindra. Mungkin karena aku hidup dizaman Bung Karno, zaman ketika anak-anak negeri ini tanpa malu-malu menyatakan kemerdekaan negara Indonesia. Berbeda dengan saat ini anak kecil tanpa malu menyatakan cinta pada lawan jenisnya. Tapi aku masih ingat dia malu-malu ketika bertemu kamu di Candi Sukuh, Yanindra.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s