Mau bicara apa?

wisudaAku harus berkata apa Yanindra???

Dari tadi aku hanya diam saja Yanindra. Bunyi jam dinding hingga terdengar di ruangan itu. Mulut yang biasanya melantunkan lagu merdu seolah menjadi bisu. Aku bingung mau mengatakan apa Yanindra. Hal ini bukanlah hal yang mudah untuk aku lakukan. Aku tidak bisa meniru ajaran Gus Dur, gitu aja kok repot. Aku benar-benar repot Yanindra, kata apa yang harus ku ucapkan untuk melukiskan perasaanku pada saat itu. Aku benar-benar sangat bingung Yanindra. Maka itu, dari tadi aku hanya diam. Kediamanku ini bukanlah bentuk ketidaksetujuanku, tapi kebisuanku ini dikarenakan ketidakmampuanku.

Aku tidak bisa berbicara dengan orang yang ada di sebelahku Yanindra. Dari karakteristik tubuhnya, orang di sebelahku ini bukanlah orang-orang seperti kita Yanindra, ia orang timur tengah entah mana negaranya. Aku bingung mau mengajak ngobrol ia dengan menggunakan bahasa apa. Aku dan orang tadi sama-sama nggak bisa bahasa Indonesia, aku menggunakan bahasa Jawa sementara orang itu menggunakan bahasa Arab. Aku malu Yanindra, orang sekeren aku nggak bisa bahasa Inggris. Seharusnya dulu aku belajar sama mbak-mbak cantik yang katanya sekarang lanjut sekolah program magister. Andaikata saat itu aku mau belajar darinya, mesti saat ini aku bisa berbincang-bincang dengan orang yang ada disebelahku. Dan tidak hanya diam seperti saat ini.

Saat ini banyak orang-orang yang diam dan meraka acuh tak acuh terhadap permasalahan yang terjadi. Ada degradasi moral yang menimpa sebagian umat di negara ini. Revolusi mental yang dulu didengung-dengungkan saat pemilu mulai terasa layu. Kalau itu ibaratkan bunga, baru tumbuh dan kemudian layu. Revolusi mental memperbaiki negeri ini bukan hanya tugas dan wewenang pemerintah semata Yanindra. Melainkan kita semua, umat manusia yang tinggal di negara yang katanya seperti surga. Selama kita masih bisa berbicara tentang kebenaran, katakanlah meskipun mungkin tidak didengar oleh mereka.

Andaikata aku bisa meniru Bung Karno yang pandai berbicara banyak bahasa, meskipun beliau tidak kuliah di luar negeri. Kalau saja Bung Karno masih hidup aku ingin belajar dari beliau. Bung Karno adalah salah satu tokoh hebat di negeri ini Yanindra. Kepopulerannya menyaingi kepopuleran Gajah Mada. Bung Karno dan Bung Hatta merupakan pahlawan proklamator yang berani dan mampu mengucapkan kemerdekaan Indonesia. Bangsa yang terbelenggu lama oleh penjajahan, dapat dibebaskan dengan mengucapkan dua paragraph, Proklamasi.

Aku juga ingin meniru Bung Karno, bagaimana beliau menaklukan banyak wanita. Tapi Bung Karno dan Aku adalah orang yang berbeda dan hidup di zaman yang berbeda. Kalau aku baca dari paragraph-paragrap kehidupan yang menggambarkan sosok Bung Karno, aku melihat betapa hebatnya Bung Karno berhasil memikat banyak wanita untuk menjadi pendamping hidup beliau. Aku ingin belajar bagaimana beliau menyatakan cinta, dan betapa beraninya beliau mengungkapkan kepada Bu Inggit kalau beliau mencintai seorang gadis yang dulu adalah muridnya, Fatmawati.

Aku, untuk mengatakan cinta pada seorang wanita itu sulitnya luar biasa Yanindra. Dibalik keurakanku ini tersembunyi kecemenan Yanindra. Aku suka kepada seorang wanita, tapi sulit untuk mengungkapkannya. Dulu aku pernah mengalaminya Yanindra. Aku pernah mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Pada saat itu aku seakan bukanlah aku. Aku yang biasanya banyak berbicara, bisa melantukan berbagai lagu meski nggak hafal penuh liriknya, saat itu untuk mengucapkan sepatah dua patah kata sulit sekali.

Mungkin wanita yang ada di depanku saat itu tahu kalau aku benar-benar ketakutan. Mungkin tidak setakut nabi saat pertama kali menerima wahyu yang membuatnya gemetar dan harus berselimut. Dan pasti wanita yang ada di depanku tahu kalau aku gugup Yanindra. Dari bajuku nampak detak jantungku yang menderu-deru, tanganku yang gemetar, dan dari suaraku yang terdengar gemetar menandakan bahwa aku benar-benar gugup. Tenggorokanku seolah nggak mau mengeluarkan kata-kata Yanindra. Ini bukanlah radang tenggorokan yang menjadi penyakit favoritku. Tapi kenapa kata-kata nggak mau keluar dari mulutku. Jambu jambu dan jambu, aku tidak bisa terlepas dari masalah ini Yanindra.

Sebenarnya aku juga nggak begitu suka dengan sistem pacaran Yanindra. Pacaran entah apa itu definisinya, aku kurang begitu tau. Memiliki pacar menjadi hal yang baru dalam hidupku yang tidak diajarkan oleh guruku saat TK dulu. Pacaran juga merupakan satu syarat bahwa aku benar-benar tampan Yanindra. Kalau cuman bilang cantik atau tampan tapi nggak punya pacar berarti tidak ada pengakuan dari kecantikan dan ketampanan itu Yanindra. Aku adalah orang tertampan nomer dua di dunia, sehingga aku harus punya pacar. Oleh karena itu kamu harus mengajari aku untuk mengungkapkannya Yanindra. Tapi ingat Yanindra, tampan di sini artinya tampangnya pas-pasan. Heoheoheo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s