“engkau laksana embun penyejuk, dalam kehausan”

embunDari sepenggal lirik lagu dari hymne guru tersebut,ternyata bisa digunakan untuk sebuah nama manusia lho Yanindra. Bukan “engkau”, ataupun “laksana”, akan tetapi nama gadis yang ada di depanku ini namanya embun. Embun itu merupakan butiran air yang kau jumpai saat pagi hari, Yanindra. Biasanya ada di dedaunan yang dilihat nampak segar, entah bagaimana bisa terjadi embun aku juga tidak memusingkan hal itu, Yanindra. Itu merupakan kewenangan dari bapak dan ibunya embun. Heoheoheo

Embun yang ada di depanku ini bukan embun yang kau temukan di pagi hari Yanindra. Embun yang ini adalah sesosok gadis kecil yang mengingatkanku dengan wanita yang ku jumpai beberapa hari yang lalu tatkala aku diwisuda, Yanindra. Oh iya Yanindra, tanggal tujuh kemarin aku wisuda. Kan dulu sudah aku beritahu, ya maklumlah Yanindra, kamu kan orang sibuk. Kamu mesti sibuk dengan rangkain kisah asmaramu dengan Dia, iya kan???………Wanita yang ada di sebelahku itu dari senyum dan raut mukanya bagaikan pinang dibelah dua dengan si embun, Yanindra. Aku baru tersadar dihari ini, kalau ternyata wanita yang ku jumpai kemarin mirip sekali dengan gadis yang ku jumpai dulu kala.

Roro itu nama wanita yang ku jumpai saat wisuda dulu Yanindra. Jadi tolong bedakan dengan wanita yang digandrungi oleh Bandung-Bondowoso, yakni Roro Jonggrang. Tapi ya ada kemiripan antara Roro yang ini dengan Roro yang menyuruh Bandung-Bondowo untuk membuatkan seribu candi, yaitu sama-sama cantik, Yanindra. Kemiripan yang jelas antara Embun dengan Roro ini adalah dari senyumnya Yanindra, begitu lepas. Bagaimana ya Yanindra, aku bisa membayangkan akan tetapi tidak bisa mempraktekkan. Senyum itu lebih manis dibandingkan the smiling general.

Embun yang ada di depanku ini bertanya padaku Yanindra.

“politik etis itu apa Om?”

Sebenarnya pertanyaan itu tidak membutuhkan waktu yang panjang untuk aku menjawabnya Yanindra. itu pertanyaan yang mahamudah bagi orang seperti aku. Akan tetapi saat pertanyaan itu meluncur dari mulutnya, aku berpikir mendalam. Bukan memikirkan apa itu politik etis, melainkan terbayang mbak-mbak yang kemarin duduk di sebelahku dan beberapa kali ngobrol hal yang entah itu apa. Pikiranku kembali bernostalgia yang mendalam pada masa lalu, saat tanggal tujuh ketika ada di wisuda. Mbak-mbaknya itu cantik Yanindra, ada yang khas dari dirinya, senyumnya itu lho, yang mampu membuat banyak lelaki akan termehek-mehek padanya.

“Om apa itu politik etis” tanya si Embun yang menegaskan pertanyaannya

Wuaduh, hal itu membuyarkan bayanganku dengan si mbak-mbaknya yang cantik itu Yanindra. nostalgiaku pada masa lalu membawa ingatan pada tahun 1900 ketika politik etis mulai dijalankan oleh pemerintah colonial Belanda, Yanindra. Van Deventer pada tahun 1899 memaparkan gagasannya dalam majalan de Gids dengan judul Een erschuld atau dalam bahasa Indonesia “Utang Budi”. Iya Yanindra, meurut pak Deventer, Belanda dianggap utang yang harus dibayar untuk menjaga kehormatan bangsa mereka. Politik etis dikenal dengan Trias Van Deventer yang isinya Edukasi, Irigasi dan Emigrasi.

Balas budi itu penting Yanindra, meskipun kita kalau membantu harus dengan iklhas tanpa mengharapkan balasan dari manusia melainkan semata guna mendapatkan ridho dari Tuhan, yang maha kaya. Penjajah saja tahu bagaimana balas budi, kenapa kita sebagai manusia yang bebas tidak bisa membalas budi, Yanindra. Balas budi itu tidak harus melakukan hal yang sama dengan apa yang kita dapatkan dari orang lain, Yanindra. Utang Budi ini merupakan bentuk terima kasih kita telah apa yang mereka perbuat kepada kita Yanindra. Kamu juga harus berhutang budi dengan mantan-mantanmu yang dulu lho Yanindra. kok bisa??? ya bisalah Yanindra. Karena dengan putusnya kamu dan mantan-mantanmu, kamu dapat menemukan Dia, lelaki yang kamu jumpai di Candi Sukuh itu.

Sekedar ucapan terima kasih atau apa bentuknya merupakan salah satu timbal balik balas budi, Yanindra. Aku pernah dengar bahwa pak menteri pernah menyuruh kita untuk “datangi guru kalian, cium tangan mereka, dan bilang terima kasih” Yanindra. Guru merupakan salah satu tokoh yang sebenarnya penting bagi kita Yanindra, akan tetapi jarang untuk diingat. Aku merasa berhutang budi pada guru-guruku Yanindra, karena dari tempaan beliau-beliaulah aku bisa menjadi setampan ini. Heoheoheo……… Terus bagaimana caraku untuk berterima kasih pada mbak-mbak yang ada disampingku saat acara wisuda kemarin Yanindra???

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s