2 Anak Sekolah KehujananSabtu, tanggal 2 mei ini, pagiku disambut dengan gemricik air hujan, Yanindra. Pukul 09.00 aku beranjak keluar dari kamarku dan ku jumpai tetesan air yang tiada berhenti menetes dari langit yang berwarna kelabu. Jangan kau salahkan aku kalau bangunku jam segitu Yanindra, bukan maksud hatiku untuk menolak rezeki, ya seperti katanya orang-orang kalau bangun siang rezeki diambil orang. Hari ini aku libur kerja Yanindra, jadi wajar kalau aku baru bangun jam segitu. Liburanku beberapa hari ini ku habiskan dengan berkontemplasi dalam kamar mencari ilham dari Tuhan. Kadang kita butuh menyendiri untuk berintropeksi, hal baik apa yang sudah kita sumbangkan bagi umat manusia, dan kesalahan apa yang telah kita perbuat dan berupaya untuk bertobat.

Kini ku habiskan sedikit waktuku untuk duduk di teras rumah, sambil melihat burung peliharanku yang dari tadi memandangku penuh tanya. Burung peliharanku kini hidup sebatang kara, Yanindra setelah beberapa bulan yang lalu ditinggal pasangannya. Pasangannya pergi untuk selama-lamanya dikarenakan entah penyakit apa aku kurang tahu Yanindra. Dan sekarang burung peliharaanku itu berstatus jomblo, status yang ditakuti oleh banyak remaja masa kini. Status yang membuat gamang mereka, sehingga dengan beringas mereka tanpa tebang pilih yang penting punya pasangan. Kalau burung peliharaanku ini tidak bergeming dan tidak tergoda untuk merubah status jomblonya, ia termasuk burung yang sangat setia Yanindra.

Dari kejauhan aku melihat anak-anak sekolah berjalan penuh optimisme tinggi dengan tanda senyum lebar dibibir mereka. Di bawah rerintik hujan yang dari tadi semakin deras, tidak mereka hiraukan, Yanindra. Mereka seolah tidak takut dingin, mereka seolah tidak takut nanti kena demam, mereka benar-benar terlihat bersemangat Yanindra. Anak kecil ya seperti itu, mereka tidak memikirkan resiko yang bisa diakibatkan oleh air hujan tersebut. Mereka tidak bisa berpikir jauh kalau nanti-nanti sakit terus nggak bisa masuk sekolah, kalau-kalau buku tulis mereka basah terus bagaimana, mereka tidak memikirkan itu, Yanindra. Mereka berpikir secara spontan, apa yang bisa mereka lakukan, mereka akan lakukan.

Aku masih ingat dulu ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar seperti mereka, Yanindra. Aku tidak pernah sekalipun terlambat, meskipun hujan aku tetap pergi ke sekolah. Zaman dahulu tidak terdapat payung, aku dan beberapa tetanggaku agar tidak basah menggunakan pelepah pisang sebagai pelindung dari rerintik hujan. Kami tidak mengenal berhati-hati agar tidak kehujanan, karena semangat kami lebih besar dari pada hujan yang turun. Karena bagi kami hujan adalah karunia dan anugrah dari Tuhan. Kalau tidak ada hujan kami mau makan apa karena lahan yang digarap orang tua kami hanyalah lahan tadah hujan yang sangat tergantung dengan hujan. Saat warga Jakarta ketakutan akan hujan, kami sangat senang dengan turunnya air hujan.

Beberapa temanku dulu tidak memiliki tas untuk tempat menaruh buku, pensil dan bolpoint, Yanindra. Sebagian dari anak sekolah memasukan alat tulis ke dalam sebuah plastic berwarna hitam. Buku kami sangat terbatas Yanindra, paling-paling kami hanya memiliki beberapa buku tulis dan LKS, sedangkan untuk buku paket itu dipinjami oleh pihak sekolah. Kalau naik kelas itu nanti bukunya dikembalikan. Buku itu diwariskan turun temurun, Yanindra. Dari tahun pindah ke tangan siswa satu ke siswa yang lain itu terus menerus Yanindra. sehingga buku itu sudah tidak berbentuk seperti sediakala. Tidak mungkin sebuah buku paket itu cover halaman depannya masih ada, Yanindra, sudah dapat dijamin halaman cover itu hilang entah kemana. Di beberapa lembar sudah penuh dengan coretan-coretan yang entah apa itu nama mereka, atau ada beberapa anak yang kreatif menggambar dibeberapa halaman yang kosong. Bahkan ada anak yang memiliki imajinasi tinggi, kemudian menambah-nambahkan atau menghias gambar yang sudah ada.

Sebagian besar temanku dan kakak-kakak kelasku, berangkat sekolah dangan tanpa sepatu, alias bertelanjang kaki. Wajar kalau kaki anak sekolah itu besar-besar karena mereka jarang memakai alas kaki baik itu sandal maupun sepatu. Kaki kami tidak pernah merasakan sakit meskipun kami harus melewati jalan yang berbatu tajam. Kalaupun ada yang memakai sepatu, saat musim hujan, sepatunya harus dimasukan ke kantong plastic dikarenakan jalanan masih berlumpur. Aku dulu juga punya sepatu, Yanindra, itu ku pakai dari rumah sampai sekolah sepatu tersebut aku tanggalkan di kelas dan kemudian aku berangkat ke tanah lapang untuk bermain sepak bola.

Hampir setiap hari ku habiskankan waktuku dan teman-temanku di lapangan tersebut. Antara waktu di dalam kelas dan di lapangan lebih banyak di lapangan sepak bola. Itu terjadi saat aku duduk di kelas 5 dan 6. Guru kelasku itu sibuk dengan aktivitasnya menanam tebu, Yanindra. Dan dapat dipastikan setiap hari kami kosong. Guru tersebut datang sekitar jam 9an kemudian memberikan tugas untuk dicatat siswa, kemudian pergi ke tampat beliau menanam tebu, itu hampir terjadi setiap hari. Hasil didikan beliaulah bisa melahirkan anak-anak begundal seperti aku ini Yanindra. Sebuah kebanggan punya guru yang seperti itu.

Ow iya Yanindra, hari ini hari pendidikan, aku melihat semangat yang membara dari anak-anak kecil tadi. Mereka sangat bersemangat, meskipun harus kehujanan tapi niat mereka untuk sekolah tidak terhalang oleh air hujan. Mencari ilmu itu hukumnya wajib Yanindra, dari kecil sampai tua nanti. Ilmu itu sangat penting dalam kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dengan semangat hari pendidikan nasional, semoga kita dapat menebarkan ilmu kepada seluruh umat manusia, ilmu yang berguna baik itu di dunia dan akhirat. Ilmu yang bermanfaat kebaikan bagi umat manusia. Ilmu yang mampu menghantarkan mereka dari lembah kegelapan menuju puncak terang benderag.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

One response »

  1. […] bercerita kalau menembak seorang cowok. Ia menceritakan setelah pulang sekolah, kemudian berkirim pesan kepada anak laki-laki yang ia sukai yang pada intinya bahwa ia mencitai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s