bunglonApakah kamu juga seperti kebanyakan orang yang meyalahkan pak menteri itu, Yanindra? Kekalahan kemarin itu memang menyakitkan, Yanindra. Akhirnya FIFA menjatuhkan saksi kepada federasi sepak bola Indonesia bahwa Timnas maupun klub Indonesia tidak boleh mengikuti kompetisi yang digulirkan oleh FIFA. Hal itu membuat agenda Timnas kedapannya menjadi carut marut. Sepak bola kita akan memasuki era baru, dunia sepak bola kita akan menapaki sejarah baru yang akan diingat oleh generasi masa yang akan datang.

Memori hari ini mungkin akan menjadi sebuah prestasi besar pemerintahan kali, kalau dengan status larangan FIFA ini malah bisa menghasilkan pemain-pemain sepak bola yang hebat yang bisa menghantarkan nama Indonesia menjadi raja di kawasan Asia Tenggar, Asia dan kalau bisa dunia. Kalau dengan kebijakan yang sangat menyakitkan ini ternyata bisa membawa kebahagiaan dimasa yang akan datang, kita harus selalu mendukungnya Yanindra. Harapan itu masih ada, perbaikan yang dilakukan terkadang memang membutuhkan pengorbanan.

Sepak bola kita mungkin sangat jarang akrab dengan piala, Yanindra. Jangankan untuk mewujudkan macan asia seperti masa lalu, merajai kawasan Asia Tenggara saja susahnya minta ampun. Perkembangan sepak bola kita seolah stagnan, sedangkan negara dikawasan Asia Tenggara lainnya mulai menggeliat tumbuh. Kita bisa melihat negara Philipina yang dengan program naturalisasi bisa membawa Philipina mulai diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara. Negara kita memang beberapa tahun yang lalu juga akrab dengan naturalisasi, Yanindra. Sayangnya hasil naturalisasi belum membuahkan hasil yang diidam-idamkan selama ini.

Jangankan mengembalikan masa dimana dulu kita pernah ikut piala dunia, sekarang ini untuk melawan Timur Leste saja kita membutuhkan tenaga yang ekstra. Negara yang baru memisahkan dari republic ini malah pernah mempermalukan saudara tuanya. Kita sering kali menjadi bulan-bulanan musuh bebuyutan kita di Asia Tenggara, Malaysia. Kalau bicara klub, klub sepak bola Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan klub dari negeri jiran tersebut. Namun kalau berbicara Timnas, semua sudah berbeda. Seoalah pemain kita membawa beban berat ketika harus memakai seragam dengan garuda di dada.

Bukti termutakhir adalah peringkat FIFA negara kita ternyata lebih rendah dibandingkan dengan Timur Leste. Sebagai negara yang besar, hal itu seharusnya membuat kita malu. Benar-benar harus malu, kalau kita masih sebagai bangsa yang memiliki kemaluan. Semangat untuk menjaga kewibawaan negara ini seolah sudah ditanggapi dingin oleh sebagian orang. Globalisasi dengan adanya impor budaya dari negara barat, india, korea dan lain sebagainya seolah sudah melunturkan semangat nasionalisme penduduk bangsa ini. Yang aku takutkan nanti disuatu hari saat anak kita dewasa, mereka sudah tidak mengenal lagi Indonesia, Yanindra.

Kemarin Timnas Sea games kita juga harus menerima pil pahit dengan kalah telak melawan Myanmar. Negara Myanmar itu sedang bergejolak dengan etnis Rohinya, tapi buktinya meraka masih bisa berprestasi, Yanindra. Sedangkan bangsa ini, sering berbuat rebut, tapi minim prestasi. Kalau kamu kemarin lihat pertandingannya, mesti kamu akan kecewa berat Yanindra. Para pemain sepak bola Indonesia seolah-olah baru latihan bermain sepak bola. Padahal jaman dahulu, Myanmar itu tidak ada apa-apanya dengan negara kita. Tapi kini semua berubah, semua sudah tidak sama dengan yang dulu.

Banyak orang yang menyalahkan kisruh selama ini membuat penampilan timnas buruk. Padahal pemain-pemain yang kemarin itu sebagian besar alumni dari timnas u-19 yang dulu digadang-gadang akan membawa kejayaan bagi persepakbolaan Indonesia. Korea selatan yang merupakan juara bertahan Piala Asia dikalahkan dibabak penyisihan group. Hal itu membuat optimistis tinggi bagi penggemar sepak bola Indonesia. Kemudian pemberitaan gencar-gencaran menghiasi seluruh media masa membahas mengenai penampilan spekatkuler anak-anak muda ini. Mereka disanjung-sanjung bak pahlawan. Nama mereka dielu-elukan dimana saja. Seoalah mereka adalah penyelamat bangsa ini yang nanti bakal membawa kemenangan bagi bangsa ini. Tapi pada akhirnya, kita dibuat kecewa juga, mereka gagal total dibabak yang sebenarnya. Beban tersebut terlalu berat untuk diwujudkan.

Perlu diingat Yanindra, kemenangan lawan Korea itu terjadi di tanah ibu pertiwi yang mungkin masih memiliki magis bagi para garuda muda untuk berjuang sampai darah penghabisan. Kalau lawan Myanmar kemarin itu tidak terjadi di Sidoarjo melainkan di Singarupa negara yang dulu dijadikan oleh Rafles sebagai pelabuhan transito. Kalau dulu maen di Sidoarjo itu lapangan penuh lumpur, Yanindra. Mungkin lumpur yang menyembur dari ulah PT Lapindo itu membawa berkah yang membuat pemain korea tidak bisa bermain maksimal. Sudah sembilan tahun lumpur itu menyembur, rakyat jadi sengsara, uang pengganti nggak juga-juga dilunasi. Kalau lawan Myanmar kemarin itu rumput disana, rumput sintetis Yanindra. Jadi ya wajar saja kalau Indonesia kalah.

Seperti itu Indonesia Yanindra, konsisten dengan inkonsistensi.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s