kh_agus_salimAku dari tadi cuman senyam-senyum mendengar bapak di depanku ini bercerita Yanindra. Aku sok yes dan seolah tahu apa yang sedang dibicarakan bapak itu Yanindra. Sebenarnya pria urakan seperti aku itu sulit untuk berbicara santun di depan orang tua Yanindra. Aku lho, setiap hari berbicara dengan orang tuaku di rumah itu menggunakan bahasa Jawa ngoko, bahasa Jawa tingkatan paling rendah yang biasanya digunakan untuk teman sesama atau orang yang lebih tua berbicara dengan yang lebih muda. Bukannya aku tidak menghormati kepada orang tuaku Yanindra, tapi itulah yang diajarkan oleh orang tuaku. Mereka tidak mengajarkan kepadaku berbahasa Jawa yang bertingkat-tingkat di rumah, kami bukanlah keluarga priyayi, kami hanya keluarga petani Yanindra.

Bapak yang di depanku itu awalnya ya bertanya banyak tentang asal usulku Yanindra. Ya ku jawab dengan jujur segala pertanyaan yang dipertanyakan oleh bapak itu tadi. Aku mengatakan segala hal tentang diriku tanpa embel-embel atau penutup agar terlihat baik seperti para politikus atau para koruptor itu Yanindra, yang berkata manis akan tetapi berhati busuk. Sungguh mengenaskan negara ini, membusuk disebabkan oleh orang-orang yang ada di dalamnya sendiri. Dulu saat masa colonial, lawan yang dihadapi jelas yaitu musuh dari luar, mereka bangsa barat yang datang untuk membeli rempah-rempah namun akhirnya hati mereka kecantol dengan pesona negeri ini dan berhasrat untuk memiliki.

Tapi kini berbeda Yanindra

Musuh kita bukan orang-orang Portugis, Belanda, Perancis dan Inggris seperti pada masa kolonialisasi terhadap negeri ini di masa lalu. Musuh kita saat ini adalah orang-orang pribumi yang bermental rendahan, ingin cepat kaya dengan menggunakan jalan pintas mengambil uang negara. Mereka bukanlah orang sembarangan Yanindra, mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki intelektual tinggi akan tetapi rendah pada tatanan spiritual. Mereka sebenarnya beribadah kepada Tuhan, akan tetapi mereka melakukan kejahatan yang menyengsarakan masyarakat luas. Mungkin dampaknya tidak dirasakan langsung sih, akan tetapi saumpama dana itu tidak dikorupsi, sejahtera bukan hanya di alam mimpi.

Bapak yang ada di depanku ini selain menanyakan tentang identitasku, beliau juga bercerita masalah agama. Akhir-akhir ini marak sekali tindakan radikal yang mengatasnamakan agama. Mereka saling membunuh sesama umat manusia dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Orang-orang yang beragama menjadi bringas dan malah seakaan mereka menjadi orang yang ateis tidak bertuhan. Mereka membunuh sesama umat manusia tiada ampunan. Semua yang mereka lakukan katanya perintah dari Tuhan, apakah Tuhan menyuruh umat manusia untuk saling membunuh??? Kalau menurutku tidak Yanindra

“Sekarang ini banyak aliran islam yang neko-neko”

Kata-kata ini yang dari tadi agak menjadi pemikiranku Yanindra. Bapak tadi itu bercerita mengenai islam pembaharu Yanindra. Bapak tersebut tidak begitu suka dengan gerakan seperti itu, gerakan yang menentang untuk bancakan atau entah apa namanya. Bapak yang ada di depanku ini rupanya termasuk orang-orang yang menurut Clifford gertz termasuk dalam kelas abangan, yaitu orang-orang yang bukan didikan dari pondok pesantren. Kata bapak itu, bancakan itu bukanlah musrik seperti yang dikatakan banyak pihak. Itu merupakan bentuk rasa syukut yang diwujudkan dalam sebuah ritual kebudayaan. Mungkin di daerah asalnya sana tidak ada acara yang seperti tersebut. inilah yang namanya akulturasi Yanindra. kenapa kok agama Islam dengan mudah diterima oleh penduduk di negara ini adalah karena islam disebarkan dengan cara damai salah satunya melalui kebudayaan.

Seandainya saja Islam disebarkan seperti saat ini, yang katanya seperti asalnya, keyakinanku Islam berkembang pesat sangat tipis Yanindra. Indonesia merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Cara penyebaran yang begitu menakjubkan menjadi daya tarik mengapa Islam bisa berkembang pesat padahal agama Hindu-Budha dan kepercayaan lain sudah berkembang lama di Indonesia. Itu merupakan kecerdasaan orang masa lampau dalam menyebarkan agama Islam. Sedikit banyak aku mulai setuju dengan bapak yang ada di depanku Yanindra. Pada akhir pembicaraan, bapak tadi berkata bahwa ideologinya adalah nasionalis-relegius. Semantara aku apa ya Yanindra???

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s