IMG_20150817_091144Mbak-mbak dengan kerudung bermotif bunga-bunga dengan dasar warna kecoklatan itu masih sibuk dengan bukunya, Yanindra. Saat aku mau meminjam bolpoin padanya, tidak sedikitpun mbak-mbak itu memalingkan pandangannya kepadaku. Nah saat mbak-mbak itu mengambilkan bolpoin yang ada di sebelahnya kemudian mengulurkan kepada sambil tersenyum, mati aku Yanindra. Aku baru sadar kalau besok itu kita akan memperingati hari kemerdekaan. Saat melihat mbaknya mesem padaku, huhhh rasanya itu seperti orang-orang terdahulu yang sangat gembira dan bahagia mendengar berita proklamasi.Orang-orang terdahulu sangat mengidam-idamkan proklamasi, Yanindra. Perjuangan leluhur kita untuk merengkuh proklamasi itu harus melewati tetesan keringat, air mata hingga tetesan air mata. Mereka berjuang mati-matian hingga sampai titik darah penghabisan. Orang Bali menyebutnya dengan perang puputan, perang sampai titik darah terakhir. Entah itu I Gusti Ktut Jelantik maupun I Gusti Ngurah Rai yang berbeda generasi, tetap menyebut perang sampai titik darah penghabisan itu sebagai perang puputan, yang satu puputan di Jagaraga, dan yang terakhir di Margarana.

Senyum dari bibir mbak-mbaknya itu gemesin Yanindra. Serius, kalau kamu lihat pasti kamu cemburu. Mbak-mbak dengan alis tebal itu menyuguhkan senyuman yang luar biasa. Cantiknya itu lho Yanindra, seperti kisah peri-peri yang ada di negeri dongeng anak kecil. Maaf Yanindra, kalau aku menggambarkannya secara berlebihan. Bagaimana tidak berlebihan tow Yanindra, lha wong katanya kita itu dijajah lamanya lebih dari tiga setengah abad. Tiga setengah abad itu bukan waktu yang sebentar, kurang lebih sudah ada sekitar empat generasi yang ingin merebut kemerdekaan, namun gagal. Baru generasinya Bung Karno inilah, proklamasi bisa dibacakan.

Sambutan sangat emosional dilakukan oleh penduduk saat itu. Ada yang kemudian merebut senjata tentara Jepang, kemudian mencoret-coret di dinding hingga setiap bertemu dengan pribumi selalu memekikan salam “MERDEKA”. Bagi yang diberi salam tersebut harus membalasnya Yanindra, dikarenakan membalas salam itu hukumnya wajib dan berimbalkan pahala. Kalau lomba-loma seperti panjat pinang, balap karung, maupun balap kelereng kelihatannya orang zaman dahulu belum berpikir sampai sejauh itu.

Ngomong-ngomong kelereng, mata dari mbak-mbak yang ada di sebalahku itu matanya bulat hitam seperti kelereng. Warna hitam itu menjadi warna favoritku, Yanindra. Kebanyakan orang masih berpikiran dangkal dengan menyebut warna hitam itu warna berduka. Kelihatannya stigma yang diberikan seperti seharusnya agak dirubah. Selama ini hitam diidiomkan dengan yang jahat-jahat lho, Yanindra. orang-orang yang korupsi itu biasanya bercelana dan bersepatu hitam, meskipun baju mereka tetap putih. Tapi putih tetap dianggap baik dikarenakan letaknya yang ada di atas, tidak seperti sepatu hitam yang selalu diinjak-injak.

Sory Yanindra, kalau aku bilangnya ngelantur ngalor ngidul tidak jelas arah dan tujuannya.

Hohoho

Kemudian mbaknya tadi bilang, “dikembalikan ya Mm, bolpoin itu berharga dalam hidupku”. Aku langsung makjleb teringat dengan bendera pusaka yang dijahit oleh istri Bung Karno. Bendera itu sederhana sekali, hanya berbentuk persegi panjang terdiri dari dua bagian yakni bagian merah dan bagian putih. Merah itu darah yang melambangkan keberanian, dan putih itu melambangkan kesucian. Bendera itu sebenarnya sederhana, sepeti bolpoin yang ku pegang, tetapi memiliki makna dan nilai yang luar biasa bagi bangsa ini. Kalau boleh kenapa aku nggak jadi seperti bolpoin yang akan menuliskan kisah perjalanan cinta antara aku dan kamu

hohoho

Kalau ada yang bilang bahwa hormat bendera itu adalah menyekutukan Tuhan, boleh jadi orang itu tidak pernah belajar sejarah. Orang-orang yang tidak belajar sejarah itu tumbuh menjadi orang-orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menanggapi suatu persoalan. Seandainya tidak ada bendera merah putih yang dikibarkan maka, bendera lain tetap bercokol di tanah ibu pertiwi. Bendera berwarna merah putih ditambah biru akan terus berkibar-kibar, kemungkinan besar hidup kita akan sengsara. Lihatlah para pemuda-pemuda yang ada di Surabaya, meski nyawa tarahunnya, mereka dengan berani menurunkan bendara merah putih dan biru, kemudian menyobek bagian birunya, lali dinaikkan kembali yang berwarna merah dan putih di atap Hotel Yamato.

Aku cukup membalas perkataan mbak-mbak itu dengan senyuman, Yanindra.

Semoga mbak-mbak itu tau apa maksud senyumanku..

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s