bung karnoDi dalam buku Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams, Bung Karno menyeritakan peristiwa akbar yang dialami oleh dirinya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, yakni peristiwa proklamasi bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebuah proklamasi yang memiliki banyak arti dan makna. Sebuah pintu gerbang menuju alam baru, suatu alam yang bebas dari penjajahan. Proklamasi merupakan jembatan emas menuju Indonesia yang berkemajuan. Proklamasi adalah sebuah titik balik perjuangan dari yang merebut kemerdekaan menjadi mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Setelah dari Rengasdengklok, Bung Karno menuju ke Jakarta. Orang yang dijumpai oleh Bung Karno adalah Kolonel Nishimura, ajudan Gunseikan, untuk meminta jaminan sikap netral dari Jepang. Akan tetapi permintaan tersebut ditolak

Nishimura: “Dai Nippon tidak lagi memiliki kekuasaan di sini. Karena mulai saat ini kami hanya berfungsi sebagai polisi yang diperbantukan pada Tentara Sekutu. Kami minta maaf. Kami menyesal atas janji-janji kemerdekaan yang telah kami berikan, tetapi pada kenyataannya kami dilarang merubah status quo. Pihak militer tak punya lagi kekuasaan untuk membantu anda”

Demikian penjelasan dari Nishimura kepada Bung Karno. Semenjak tanggal 15 Agustus 1945, Jepang sudah menyerah kepada Sekutu akibat mengalami kekalahan terutama dijatuhkannya bom atom terhadap dua kota indsutri Jepang, yakni Hirosima dan Nagasaki. Semenjak itu jepang harus tetap mempertahankan status quo alias tetap. Jepang tidak bisa merealisasikan janji yang diberikan oleh Perdana menteri Jepang, Koiso, dikarenakan Jepang sudah menyerah kepada Sekutu.

Menanggapi hal tersebut, kemudian Bung Karno mengatakan
“baik ku jelaskan, bahwa kami merencanakan untuk merebut kemerdekaan dengan kekerasan-kalau perlu. Tetapi andaikata Gunseikan mau menutup mata dan membiarkan kami bertindak tanpa campur tangan secara aktif pihak militer, hasilnya sangat baik bagi semua pihak. Tentara anda sudah letih berperang dan tidak ada gunanya melancarkan lagi perang baru untuk mempertahankan sesuatu yang tak punya arti bagi mereka. Di pihak lain, kami tidak ingin diserahkan kepada Sekutu sebagai inventaris. Dengan pertimbangan yang masak kami bermaksud hendak meneruskan usaha sebagaiman yang telah dijanjikan oleh tenno Heika. Biarkanlah kami mendapatkan kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan. Lagi pula, tidak ada maksud hendak melawan anda, kami hanya ingin berjuang bagi kemerdekaan kami.”

Begitulah perkataan Bung Karno kepada Nishimura. Akan tetapi Nishimura tetap bersikukuh untuk menjalankan apa yang menjadi tugasnya, yakni Indonesia tetap dalam status quo. Akhirnya Bung Karno meninggalkan tempat tersebut dan kemudian menuju rumah Laksama Maeda. Laksaman Maeda merupakan pemimpin angkatan laut. Sementara Jakarta termasuk dalam wilayah angkatan darat. Laksamana Maeda menaruh simpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia.

Proklamasi kemudian disusun rumah Laksamana Maeda Jl. Imam Bonjol No. 1 tepatnya di ruang makan laksama Maeda. Ada tiga tokoh yang merumuskan proklamasi yakni Bung Karno, Hatta dan Ahmad Subardjo. Para anggota PPKI dan para pemuda menunggu di ruang tamu. Setelah selesai kemudian Bung Karno membacakan naskah proklamasi dihadapan orang yang hadir di rumah laksama Maeda. Teks tulisan tangan Bung Karno (teks klad) kemudian diketik oleh Sayuti Melik (teks otentik).

Proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan penuh dengan kesederhaan. Baik itu dari teks sampai pengibaran bendera. Mengenai teks proklamasi, Bung Karno berkata:
“Pernyataan ini tidak dipahatkan di atas perkemen dari emas. Kalimat-kalimat ini hanya digoreskan pada secarik kertas. Seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti yang dipakai pada buku tulis anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri aku menulis kata-kata proklamasi di atas garis-garis biru itu”.

Kemudian Bung Karno melanjutkan lagi:
kami juga tidak mencari pena bulu ayam agar sesuai tradisi. Siapa yang sempat memikirkan soal itu? Kami bahkan tidak menyimpan pena bersejarah yang dipakai menuliskan kata-kata yang akan hidup abadi itu. Aku tahu, para presiden Amerika Serikat membagi-bagikan pena yang telah digunakan untuk menandatangani undang-undang penting, tetapi aku, yang menghadapi momen penting dalam sejarah itu bahkan tidak ingat dari mana datangnya pena yang ku pakai. Kukira aku meminjamnya dari seseorang”
“apakah kami melakukan toast? Sepanjang ingatanku, kalau pun ada minuman yang disediakan, itu hanyalah segelas air soda hangat untuk membangkitkan kembali kekuatan orang-orang yang sudah tidur beberapa hari”

Begitu sederhananya teks proklamasi yang ditulis Bung Karno. Teks tersebut kemudian mengalami beberapa perubahan dan kemudain diketik oleh Sayuti Melik dengan menggunakan mesin tik angkatan laut NAZI Jerman. Kemudian orang-orang bubar untuk mempersiapkan kemerdekaan yang akan dilakukan jam 10.00. Saat itu Bung Karno sedang mengidap penyakit malaria. Bung Karno kemudian mengupayakan untuk tidur. Badan Bung Karno menggigil dan mukanya pucat.

Proklamasi yang dibacakan di rumah Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur no. 56 tidak kunjung dibacakan membuat yang hadir menjadi cemas. Mereka mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno yang dengan tubuh yang sangat lemas kemudian menyatakan bahwa dia tidak akan membacakan proklamasi kalau Hatta belum datang. Pukul 10.00, kurang sedikit kemudian Hatta tiba di rumah Bung Karno. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta sama-sama kelelahan, sepulang dari Dalat, Vietnam, kemudian dibawa ke Rengasdengklok terus kemudian merumuskan teks proklamasi dan kemudian harus membacakannya.

Upacara pembacaan teks proklamasi dilakukan dengan sangat sederhana, tanpa ada protocol. Bung Karno kemudian didampingi oleh Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan. Kemudian Latief Hendradiningrat dan Suhud mengibarkan bendera merah putih. Bendara merah putih merupakan jahitan dari ibu Fatmawati yang memadukan kain berwarna merah dan putih. Peristiwa akbar dalam sejarah Indonesia dilakukan dengan cara yang sederhana akan tetapi bermakna luar biasa.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

2 responses »

  1. […] Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibuat di Jl. Imam Bonjol no 1 yaitu di rumahnya Laksamana Maeda. Proklamasi […]

  2. […] itu, tepatnya tanggal 17 Agustus, Bung Karno dengan Bung Hatta yang berada di sampingnya membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kalau nggak salah bunyinya seperti ini: “proklamasi” “kami bangsa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s