Jpeg

Ketika aku menuruni tangga di Candi Siwa, aku dihujat banyak orang, Yanindra. Padahal ketika awal tadi mereka sangat memujaku, lebih daripada memuja pemimpin negeriku. Mereka mengikuti dari belakang dan mendengarkan aku berbicara tentang candi ini. Padahal gerombolan banyak orang itu tidak semua aku kenal, Yanindra. Karena mereka tertarik dengan cerita yang keluar dari mulutku, mereka kemudian menggabungkan diri dengan kelompokku. Oh ya, Yanindra, maaf kok ujuk-ujuk sampai situ. Itu tadi pengalamanku saat berkunjung ke Candi Prambanan dengan teman-temanku.

Pengalaman itu guru terbaik, Yanindra. Pengalaman itu dari peristiwa masa lalu, dan orang-orang bilang kalau masa lalu itu sejarah. Padahal menurut bahasa Arab, sejarah itu berasal dari kata syajarotun yang artinya pohon. Jadi kalau kebanyakan orang mengatakan bahwa sejarah itu adalah hanya sebagai masa lalu, itu kurang tepat, Yanindra. Sejarah itu ibaratkan sebuah pohon yang terus tumbuh dan berkembang. Sejarah itu tidak hanya terpaku pada last, melainkan juga present and future.

Di Prambanan itu juga terdapat kisah cinta yang memilukan lho, Yanindra. Zaman dahulu kala ada seorang wanita yang cantik jelita, namanya roro jongrang. Oh iya, Yanindra, banyak wanita dinegeri ini yang menggunakan nama roro, ada nyi roro kidul, ada roro mendut, dan yang ini roro jonggrang. Roro Jonggrang mungkin lebih cantik daripada artis yang memiliki nama roro sehingga membuat dua kota saling berebut yakni Bandung dan Bondowoso. Mungkin juga lebih seksi dibandingkan mbak-mbaknya yang gemesin itu, yang pada saat masuk membeli tiket sempat bersenggolan denganku.

Serius, mbaknya itu seksi sekali. Berbaju motif bunga-bunga dengan warna merah, membuat mbak-mbak itu menjadi anggun. Berbalutkan rok pendek di atas lutut itu lah yang membuat mbak-mbak itu semakin gemesin. Terlihat kakinya yang jenjang berwarna putih muluh, Yanindra. Huffff aku kira mbak-mbak itu memakai stocking, ternyata tidak, Yanindra. Itu benar kulit aslinya, putih Yanindra. Aku juga pernah sekali melihatmu memakai rok pendek kok, Yanindra, tapi masih di bawah lutut. Kapan??? Ya hanya sekali itu, Yanindra, saat kamu pendadaran skripsi.

Orang Jawa itu Lebay” itu kata-kataku saat menuruni Candi Siwa.

Beberapa orang dalam rombongan itu kemudian ada yang protes. Mereka tidak terima kalau aku bilang “orang jawa itu lebay”. Mesti orang yang nggak terima itu merupakan orang Jawa. Bahkan ada yang bilang, “Om ki wong ngendi kok ngelek-ngelek Wong Jawa ki”. Apa orang-orang tidak melihatku dari tadi, ya Yanindra. Kok mereka tanya aku orang mana. Apa dari tadi mereka hanya mendengar suaraku tanpa melihat tampangku??? Apa dikira cowok setampan aku itu touris dari Afrika Selatan???

Aku itu orang Jawa, Yanindra. Orang-orang Jawa itu harus njawani. Kalau aku bilang orang Jawa itu lebay, karna aku njawani. Aku itu nggak seperti anggota DPR nggak pernah njawani tugasnya apa. Aku juga nggak seperti para pejabat yang nggak njawani kepentingan orang banyak dahulu yang utama, baru kepentingan pribadi selanjutnya. Aku itu beda dengan para koruptor yang nggak njawani kalau korupsi itu dosa.

Aku itu orang Jawa, Yanindra. Aku bilang itu tadi yo cuman sepontan saja gara-gara gemes sama mbak-mbaknya yang tadi ternyata ikut nimbrung dalam rombongaku. Aku terlalu bersemangat, Yanindra. Bukan karena paha putih dari mbak-mbak gemes, melainkan banyak orang yang ternyata mulai suka sejara. Itu buktinya dari tadi setiap aku menjelaskan tentang Candi Prambanan, mereka manggut-manggut, sambil sesekali membasahi bibir yang mulai mengering karena terbelalak melihat ketampananku.

Orang Jawa itu lebay” itu jawabku kepada seorang bapak-bapak yang bertanya apa benar Candi di prambanan jumlahnya sewu. Orang Jawa itu kemungkinan malas menghitung, sehingga untuk menyebut banyak, biasanya dengan jumlah sewu. Semisal ada yang namanya air terjun grojogan sewu, cemoro sewu, lawan sewu, hingga mas didik itu mencari wanita di sewu kutho lho Yanindra. sebanarnya kalau mau dihitung dengan pasti, jumlahnya bisa kurang dari sewu, akan tetapi ya orang Jawa mengambil mudahnya saja, menyebut jumlah banyak dengan sewu.

Sayangnya kata-kataku itu menyinggung beberapa orang yang masih berprimordialisme dangkal. Mereka nggak terima, kalau leluhurnya aku bilang seperti itu. Nah disaat itu aku teringat kata guru besar sejarahku dulu, pak Prof pernah bilang kalau belajar sejarah itu akan menjadikan kamu bijaksana, make man wisdom, kalau orang jawa bilang wicaksono. Sesekali berbohong itu nggak apa-apa, demi kebaikan. Kejujuran kalau diungkapkan dengan cara salah, mesti malah akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Kita sebagai orang Jawa kudu tansah njawani.

Kalau menurutku mbak-mbak yang memakai rok diatas lutut itu nggak njawani, Yanindra. Kalau aku dari tadi harus menelan beberapa ludah dikarenakan kehausan.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s