IMG20151012070002[1]

Migrain……..

Kira-kira itu nama penyakit yang menyerang ku pagi ini. Dikala matahari mulai menampakkan diri di timur sana, tiba-tiba penyakit itu datang secara mendadak tanpa memberi tahu sebelumnya. Benar-benar itu bisa terjadi, Yanindra, laksana hujan itu tidak perlu menunggu awan hitam berkumpul penuh di langit. Kadang air mata juga tidak menunggu kesedihan datang untuk bisa menyusuri pipimu yang terdapat bekas-bekas jerawat. Semua berjalan alami tanpa rekayasa dan bualan semata, Yanindra. Semua ini datang tiba-tiba tanpa menunggu undangan.

Migrain merupakan penyakit favoritku nomer dua setelah radang tenggorokan, Yanindra. Kepala pusing sebelah ini entah apa penyebabnya, kurang begitu jelas, masih samar-samar. Tetapi yang aku tahu, setelah berkaca dari masa lalu, penyakit ini datang disaat-saat seperti ini, Yanindra. Akhir tahun pelajaran seperti ini, saat para guru bangsa mulai bekerja ekstra untuk menuliskan hasil belajar anak didik ke dalam raport. Sebenarnya tidak menuliskan, Yanindra, lebih tepatnya ngaji, ngarang piji alias membuat nilai. Bagaimana tidak, Yanindra, wong kadang nilai dari anak didikku itu kurang elok kalau dituliskan dalam raport. Sebagian besar nilainya dibawah KKM, kalau itu yang dimasukan raport, terus anak didikku tidak bisa naik ketingkat selanjutnya, Yanindra.

Kalau ada anak yang baru lulus terus merayakan kelulusan yang berlebihan dengan cara pawai, kebut-kebutan di jalan raya, itu tidak patut, Yanindra. Guru mereka telah berjuang mati-matian untuk mendidik mereka menjadi anak yang baik. Guru mereka sudah melakukan perbuatan dosa dengan mengarang nilai. Guru mereka sudah melakukan tindakan yang tidak jujur dengan menyulap nilai anak dari yang sangat rendah menjadi sangat tinggi. Kalau sebenarnya nilai mereka murni seperti hasil ujian nasional, aku yakin akan banyak air mata yang berjatuhan membasahi bumi, Yanindra. Kalau sistem penilaian ujian nasional seperti pada eraku dulu, akan banyak anak-anak pingsan dan tidak kebut-kebutan di jalanan.

Itu sangat tidak mengenakkan hatiku, Yanindra, itu pula yang membuat kepala menjadi migrain. Aku merasa membuat penipuan, Yanindra, aku berdosa dan aku kelak pasti akan mempertanggung jawabkan semuanya. Kalau ingin merubah semua, itu maha sulit, Yanindra. Semua itu budaya, semua itu kebiasaan yang sudah mendarah daging dalam diri kita. Kalau ingin merubahnya, kita harus melakukan cuci darah, agar darah menjadi bersih dari penyakit-penyakit itu. Tapi itu mahal, Yanindra, dan itu harus dilakukan secara kontinyu.

Migrain bukan kali ini saja terjadi, Yanindra. Migrain ini sudah merupakan penyakit lama. Migrain yang dalam bahasa Yunani, hemikrania, ternyata sudah sekitar tahun 1200 SM. Sudah luama sekali, lebih lama daripada kita dijajah Belanda ataupun Jepang. Penyakit migrain sudah menjajah orang yang menderitanya, penyakit migrain sudah membelenggu penderitanya untuk tidak bisa beraktifitas apa-apa. Pusingnya itu luar biasa, Yanindra. Kemungkinan lebih pusing dibandingkan dengan mengurusi masalah lapindo yang belum selesai-selesai hingga saat ini padahal sudah sembilan tahun berlalu.

Migrain membuatku lempoh, tidak berbuat apa-apa, Yanindra. Sakitnya benar-benar luar biasa maksimal. Rasanya bingung bagaimana cara mengobatinya. Saat berdirinya ingin jatuh, saat duduk ingin berbaring, saat berbaring masih tetap pusing luar biasa. Dan orang lain tidak tahu itu, Yanindra, karena meraka tidak merasakan apa yang aku rasakan. Sakitnya luar biasa, hendak hati ingin menangis, tapi aku tahan air mataku, karena itu bisa melunturkan kemacoanku. Tapi kalau di depannya, air mataku hendak akan menangis, Yanindra, dan caraku agar dia tidak tahu aku harus memalingkan pandangan darinya, dan mulai menjauh sedikit demi sedikit. Ia itu seorang wanita yang ku jumpai beberapa puluh tahun yang lalu. Usut punya usut ternyata dia juga memiliki penyakit istimewa, yakni sariawan.

Gejala yang turut menyertai migrain ini bisanya itu muntah-muntah, sensitih terhadap cahaya dan suara dan rasa sakitnya akan hebat bila melakukan aktifitas fisik. Sakit kepalanya cuman sebelah, Yanindra. Kenapa cuman sebelah tidak seluruhnya, kenapa Yanindra. Sakit kepala sebelah itu lebih sakit dibandingkan sakit kepala sepenuhnya. Seperti cinta yang bertepuk sebelah itu sakit dibandingkan cinta bertepuk semua. Kalau aku yakin Dia itu mencintaimu sepenuh hati, bukan hanya setengah.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s