Sujiwo-TejoBapakku bukan dalang, Yanindra. Kamu dapat informasi itu dari mana, kamu harus kroscek dulu apakah info itu benar atau salah. Mesti kamu nggak ada waktu untuk mengecek sumber yang kamu dapatkan. Terus kamu bilang kepadaku bapakku adalah dalang. Jangankan mengetahui tentang wayang, kalau kamu tanya bapakku tentang apa jasa dari Karel Satsuit Tubun bagi negeri ini. Kalau nggak gitu nilai-nilai apa yang dapat diteladani dari Piere Andreas Tendean, mesti bapakku nggak tahu. Kamu mungkin salah orang, Yanindra. Kalau bapaknya dalang itu bukan bapakku, sepengetahuanku malah bapak dedek gemes itu yang dalang.

Bapakku itu hanya seorang buruh tani, Yanindra. hanya seorang buruh tani

Bapakku setiap hari bersenjatakan sabit dan cangkul, pagi dan sore hari mesti pergi ke tanah baon. Kalau musim kemarau seperti ini, biasanya beliau membersihkan lahan dari tanaman pengganggu, sebagai contoh rumput. Lahan yang telah dibersihkan itu nanti akan ditanami tanaman baru yang lebih menguntungkan untuk dijual, semisal jagung dan ketela pohon. Pembersihan rumput dilahan itu sampai keakar-akarnya. Kadang menggunakan sabit dan cangkul, terkadang juga menggunakan obat herbisida. Kalau diperlukan bahkan sampai membakar hutan. Ini nggak seperti yang ada di daerah Sumatera dan Kalimantan lho, Yanindra. Kabut asap akibat pembakaran yang dilakukan bapakku tidak menyebabkan sesak nafas.

Kalau yang dimaksud dalang di sini bukan dalam arti khusus, bapakku juga bisa disebut sebagai dalang. Kan selama ini, arti secara khusus dari dalang adalah profesi seseorang yang memainkan wayang. Profesi sebagai dalang membutuhkan keahlian yang bisa didapat dari bangku pendidikan baik itu pendidikan formal maupun non formal. Banyak dalang kondang di negeri ini, kehidupan mereka penuh dengan kecukupan, rumah megah, mobil mewah, dan lain sebagainya mereka punya. Sekali manggung saja, ada dalang yang bernilai puluhan hingga ratusan juta.

Bapakku juga dalang, tapi dalang yang tidak memegang wayang, melainkan memegang sabit dan cangkul. Bayaran yang didapatkan bapakku ya nanti saat panen, dan nominalnya tidak terlalu tinggi, dibandingkan dengan dalang-dalang lainnya. Oh ya Yanindra, aku sebut dalang-dalang, karena ternyata selain dalang yang memegang wayang, ternyata juga ada dalang yang lain, semisal dalang korupsi, dalang kerusuhan, dan malah ada yang bilang pemerintahan saat ini itu ada dalangnya. Para pejabat itu hanya pejabat boneka, yang setiap lakunya sudah ada dalangnya, yang mengatur. Kalau dalangnya rakyat banyak sih nggak masalah. Yang jadi masalah itu adalah kalau dalangnya hanya segelintir orang dan hanya mementingkan kelompoknya semata.

Tapi dalang yang seperti itu tersembunyi, Yanindra. Mereka itu pinter menyembunyikan diri. Seperti pelajaran sekolah dasar yang dulu aku pelajari, bahwa Bunglon itu melindungi diri dengan jalan merubah warnanya sesuai dengan warna tempat yang disinggahi. Mungkin dalang-dalang tindakan kejahatan ya seperti itu, Yanindra. Mereka itu orang-orang yang bisa bermuka dua. Mukanya manis kerakyat, padahal satu sisi kepala yang lain memikirkan hal apa yang bisa dimanfaatkan dari ketulusan rakyat. Makanya orang-orang yang bermuka dua itu lebih berbahaya dari Rahwana, bermuka sepuluh.

Sampai saat ini, aku juga masih bingung dengan siapa dalang dibalik sebuah peristiwa besar negeri ini, sebuah peristiwa yang terjadi hanya satu malam, akan tetapi kemudian merubah total dari perjalanan kehidupan bangsa. Yang pada awalnya berjalan di real kiri, kemudian berubah haluan menuju real sebelah kanan. Perubahan drastic negeri ini setelah peristiwa dalam waktu semalam tersebut. Sukarno yang begitu luar biasa, tergerus dan tidak berdaya gara-gara peristiwa semalam itu. Kemudian terjadi bersih-bersih terhadap orang-orang yang termasuk dalam anggota PKI. Orang-orang yang mengalami pembersihan oleh orde baru ini tidak semata-mata orang yang berhaluan komunis, melainkan semua orang yang memiliki sangkut paut dengan partai komunis Indonesia, dihabisi.

Kalau dibangku sekolah zaman dahulu itu dalangya peristiwa yang terkanal dengan Gestapu, gerakan tiga puluh September, adalah PKI yang keblinger. Kalau yang baru ini, anak-anak menjadi bingung karena ada berbagai versi, siapa sebenarnya dalang dari peristiwa yang juga disebut Gestok, gerakan satu Oktober. Setidaknya ada beberapa teori tentang dalang peristiwa tersebut, antara lain PKI dan Biro Khususnya, Persoalan Internal AD, CIA, Soekarno, dan Teori Chaos. Itu kira-kira berbagai teori yang memungkin kita dapat mengetahui dalang dari peristiwa maha akbar tersebut.

Bapakku bukan dalang dari masalah itu semua, Yanindra. Bapakku kalaupun sebagai dalang hanyalah dalang pada sebuah lahan kosong. Sebenarnya Bapakku bukan dalang, Yanindra, bapakku hanyalah wayang yang digerakkan oleh zat yang maha pengatur, yakni Tuhan yang maha kuasa.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s