golput-tidak-kerenBeberapa hari yang lalu aku terpaksa golput, Yanindra. Golongan putih itu yang aku pilih. Aku tidak memberikan apa yang menjadi hak ku. Hal ini sudah terpikirkan jauh-jauh hari. Proses berpikir yang panjang dan mendalam sudah ku lakukan. Perenungan tiap malam, hingga bersimpuh meminta petunjuk Tuhan. Pada akhirnya keputusanku tidak untuk memilih salah satu pun, Yanindra. Oh ya ini bukan masalah Pilkada serentak kemarin, melainkan ini soal cinta antara aku dan mereka.

Soal memilih dalam pemilu itu bebas, Yanindra. Itu sih ada pada prinsipnya, akan tetapi pada prakteknya tidak. Seperti adanya di negeri ini yang mana antara teori dan praktis sering bertolak belakang. Semua itu bukan hal yang baru di negeri ini. Semua itu sudah berlangsung sejak lama sekali. Sejak jaman penjajah dari barat hingga penjajah dari timur dan malah kini dijajah oleh pribumi. Soal teori yang berlawanan dengan prakteknya itu sudah menjadi wajar di negeri yang sangat baik ini.

Kalau pemilu yang menyangkut hajat hidup orang banyak saja boleh bebas, kenapa kalau aku tidak memilih, kamu salahkan Yanindra?

Kedua wanita yang kemarin itu sama-sama cantiknya. Keduanya juga baik dan pintar, kalau orang bilang sempurna deh. Itu pendapat orang yang mungkin tidak jauh berbeda dengan pendapatmu dan pendapatku. Kedua wanita itu merupakan hasil rekomendasi dari temanku yang merasa kasihan dengan ku, Yanindra. Selama ini temanku itu merasa kasihan kepadaku kalau saat jagong tidak ada pasangannya, sedangkan yang lain berpasangan. Kalau pun aku berpasangan itu pasangan bohongan. Perempuan yang ada di sampingku kemarin saat jagong itu adalah adikku, Yanindra.

Temanku meresa bahwa pria setampan aku ini tidak pantas untuk terus-terusan berstatus jomblo. Temanku itu mengira bahwa status jomblo itu adalah sebuah aib yang mana harus ditutupi meski dengan pasangan bohongan. Bohongan??? Iya, Yanindra. Kemarin saja saat pilkada serentak juga ada beberapa daerah yang incumbentnya sengaja membuat pasangan bohongan kok supaya pemilunya tidak ditunda. Kalau tidak ada lawannya kan pilkadal harus ditunda. Ya jelas saja mereka akan menang wong calon lawannya bohongan dan tidak terkenal.

Makanya temanku juga menyuruhku untuk memilih satu dari dua wanita yang direkomendasikannya. Sedikit aku kasih gambaran tentang kedua wanita tersebut, Yanindra. Pertama, wanitanya cantik dan baik. Suka memakai baju warna merah. Wanita yang sangat energik, kemungkinan aku kalah perkasa dengan wanita tersebut. Kedua, wanitanya cantik, baik dan pintar, suka memakai baju berwarna biru. Terkesan lebih kalem dan lebih gemesin. Kalau saran temanku, aku disuruh memilih wanita yang kalem tadi biar seimbang, Yanindra. Itu teori dari temanku yang suka belajar filsafat mengenai Yin dan Yang.

Kalau aku bisa seperti Raden Wijaya yang menikahi empat puteri dari Kertangera sekaligus, pasti akan ku pilih kedua wanita tersebut, Yanindra. Raden Wijaya itu pendiri Kerajaan Majapahit alias Wilwatikta menikahi Parameswari, Naringraduhita, Prajnaparamita dan Gayatri yang kesemuanya adalah putri dari Raja Kertangera , raja terakhir Kerajaan Singosari. Tapi itu sulit terwujud, cinta kedua wanita tersebut tidak mau terbagi. Oleh karena itu, pada akhirnya aku tidak memilih, alis Golput, Yanindra. Boleh saja kan, lha wong aku tidak punya perasaan cinta kepada kedua wanita tersebut, perasaanku baru sebatas suka dengan mereka.

Mengapa tidak memilih? Kenapa?

Mungkin itu pertanyaan yang kamu lontarkan kalau dikemudian hari nanti bertemu denganku, Yanindra. Cinta itu tidak mengerti alasan mengapa harus mencintai. Cinta tidak memiliki alasan kenapa dan mengapa, Yanindra. Cinta hanya merasakan dirinya tertarik dan tergerakkan oleh sebuah kekuatan yang memesonakan dirinya. Cinta itu tidak memiliki jawaban atas dua pertanyaan itu, Yanindra. Cinta hanya bisa memberikan dan tidak berharap apa pun. Memberi dan tanpa berharap pengembalian itulah yang dikatakan cinta. Cinta itulah yang belum ada padaku ke kedua wanita tersebut. Maka aku memilih Golput.

Oh, ya Yanindra. Pilkada serentak kemarin persentase Golput naik. Hal ini mungkin dikarenakan rakyat sudah mulai menemukan alasan kenapa tidak memilih.

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s