leluconKata orang aku itu cengegesan, Yanindra. Proffesor yang dulu aku mintai surat rekomendasi juga mengatakan seperti itu. “kamu itu cengengesan” , sambil tanda tangan surat rekomendasi. Mbak-mbak kemarin itu juga bilang yang tidak jauh beda. “Pantas kamu itu jomblo, kamu itu cengengesan, yang serius donk biar ada cewek yang mau”. Eh Kalau dipikir-pikir, apa korelasi signifikan antara cengengesan dengan urusan pilih memilih. Lihat aja anggota wakil wakil rakyat yang sedang sidang itu. Wong mereka cengengesan saja buktinya juga terpilih kok.

Dedek gemes yang kemarin itu bilang kalau aku itu lucu, Yanindra. Aku bukan anak sastra bahasa Indonesia yang bisa mendefinisikan apa itu beda antara cengengesan dan lucu. Walaupun gitu, dulu pembimbing skripsiku pernah bilang kepadaku kalau aku salah bergaul. Aku orang sejarah, tapi kebanyakan kalimatku malah terlalu hiperbola. Kalau masalah melebih-lebihkan itu, aku mencontoh wakil-wakil rakyat, Yanindra. Uang makan saja mereka minta tambah lho, padahal menurutku itu sudah cukup besar. Kalau cuman beli nasi kucing saja, uang segitu sudah cukup untuk mandi dengan nasi kucing.

Heuheuheu

Oh sory Yanindra, memang bercanda ku nggak lucu. Kemarin aja ada mbak-mbak gemes yang muring-muring kepadaku. Gara-gara niat ku bercanda tapi ditanggapi oleh mbak-mbak gemes itu secara serius. Aku bilang sama mbak-mbak gemes itu “pinter, cantik tapi sayang belum laku padahal sudah tua”. Niatku itu bercanda, Yanindra, eh malah mbak-mbak gemes itu menanggapinya secara serius. Memang bercandaku kadang kelewat batas, aku terlalu jujur untuk bilang sesuatu. Sebagai seorang politikus, mesti aku langsung diturunkan dari jabatanku akibat kejujuran ku. Orang-orang polilikus itu harus pandai berbicara, Yanindra. Dalam menjawab satu pertanyaan, bisa-bisa kita tidak menemukan jawaban.

Aku sulit untuk berbicara kebohongan, Yanindra. Berbicara di tempat umum itu kelemahanku. Suaraku yang tidak begitu merdu, ditambah dengan penggunaan yang tidak baku, menjadikan gaya bahasaku menjadi nggak karuan. Wajar saja kalau aku butuh waktu kurang lebih dua sampai tiga tahun untuk menyatakan cinta pada mbak-mbak gemes itu. Mbak-mbak gemes yang mana lagi??? Yang itu lho, Yanindra, mbak-mbak gemes yang pernah bercerita kepadaku bahwa dulu saat masih kecil pernah terjatuh sehingga bekasnya masih hingga sekarang.

Kalau menurutku, aku nggak lucu-lucu amat, Yanindra. Menurutku lebih lucuan anggota dewan yang katanya terhormat itu. Beberapa waktu yang lalu, bermodalkan televisi tetangga, aku melihat sidang dari mahkamah dewan yang katanya terhormat itu. Berulang kali aku harus cekikikan sendiri melihat sidang tersebut. Kadang sampai aku tertawa terbahak-bahak hingga rasanya bibirku ini capek. Para dewan itu bertanya pada saksi, dan menurutku pertanyaannya konyol abisss, Yanindra. Saat melihat itu aku mendapatkan hiburan gratis dari wakil-wakil rakyat. Kan lumayan, Yanindra, mereka bisa sedikit melucu dibandingkan hanyanya bisa menghabiskan uang negara untuk hal-hal yang tidak menyangkut kepentingan rakyat.

Tapi menurut Pak Presiden, acara sidang tersebut kurang lucu. Maka kemudian pak presiden mengundang para pelawak untuk makan malam di istana negara. Jarang-jarang lho, Yanindra, ini dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu kita. Presiden yang sekarang ini agak aneh sedikit. Tingkah lakunya agak nyeleh, tak jarang banyak orang yang melakukan kritik tanpa mendasar. Banyak??? Aneh banyak itu kan pikiranmu yang dulu saat pencoblosan tidak memilih presiden yang ini, iya kan Yanindra???

Mungkin selera humor presiden berbeda dengan selera humorku, Yanindra. Makanya pantas saja saat adanya sidang mahkamah yang katanya terhormat, Pak Presiden malah mengundang para pelawak. Jenuh juga mungkin dengan keadaan ini, makanya butuh hiburan. Kejenuhan yang wajar saja, soalnya masalah yang sangat mudah diselesaikan oleh anak SMA saja, butuh waktu berlarut-larut padahal yang membahas itu adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi bahkan tinggi sekali.

Kalau nggak gitu mungkin presiden berpikir lain, Yanindra. Lelucon yang dibuat oleh dewan yang katanya terhormat itu nggak orisinil. Maksudnya??? Maksudnya gini lho, Yanindra. lelucon itu bukan tulus dari hati untuk kepentingan rakyat, melainkan lelucon yang sudah dipesan oleh kelompok tertentu. Siapa??? Mungkin kamu tahu jawabannya, Yanindra. Nanti boleh kamu ceritakan kalau kita ketemu nanti. Sebelum itu aku akan belajar dulu membuat lelucon agar nanti saat ketemu kamu, suasana menjadi lebih cair.

Nanti yang lucu sidang apa lagi ya Yanindra???

About donipengalaman9

ingin seperti matahari bagi insan-insan yang terlena dalam gelapnya kebodohan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s